Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), secara bulanan inflasi pangan tercatat 0,92 persen dan memberi andil pada tingkat inflasi Mei sebesar 0,17 persen. Sedangkan inflasi energi tercatat 0,04 persen dan memberi andil pada tingkat inflasi 0,01 persen.
Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, peningkatan inflasi pada komponen pangan dan energi telah terlihat meningkat sedari awal tahun. Faktor global disebut menjadi sebab utamanya.
Namun demikian, inflasi dua komponen itu masih belum berdampak signifikan pada laju inflasi Mei yang tercatat 3,55 persen (yoy). Pasalnya, kebijakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax dilakukan pemerintah pada April 2022 dan tidak tergambar dalam laporan inflasi kali ini.
"Energi itu terkait dengan kebijakan pemerintah waktu menaikan pertamax. Itu naik pada April, jadi ini tidak tertangkap di Mei," jelas Margo.
Tren peningkatan inflasi komponen pangan juga disebut Margo belum signifikan pada tingkat inflasi umum. Hal itu dikarenakan suplai pangan dalam negeri tergolong baik sehingga dampak kondisi global relatif minim.
Selain itu, beberapa komoditas pangan yang diimpor Indonesia belum ditransmisikan ke level konsumen. Kenaikan harga komoditas pangan impor yang terjadi di tingkat global baru berdampak pada level pedagang besar.
"Itu pun andil inflasinya belum begitu tinggi pada level harga perdagangan besar. Sedangkan di konsumennya belum terasa signifikan dengan beberapa komoditas yang kita impor dari luar negeri akibat kenaikan harga pangan global," jelas Margo.
Kenaikan harga pangan di tingkat global tak luput dari dampak konflik antara Rusia dengan Ukraina. Akibat ketegangan tensi politik di wilayah Eropa Timur itu, sejumlah negara melakukan pengetatan kebijakan perdagangan.
Tercatat 10 negara melakukan pembatasan ekspor pangan dan pupuk. Enam negara diantaranya membatasi kegiatan ekspor pangan. Sedangkan empat negara di antaranya melakukan pembatasan ekspor pangan dan pupuk.
Alhasil sejumlah harga komoditas pangan naik di level global dan berdampak pada negara-negara lain. Bahkan pada April 2022 International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas proyeksi inflasi di sejumlah negara.
Lembaga pemberi pinjaman itu meramalkan negara-negara maju akan mengalami inflasi sebesar 5,7 persen, naik dari proyeksi sebelumnya di level 3,9 persen. Sedangkan negara-negara berkembang diperkirakan akan mengalami inflasi hingga 8,7 persen dari proyeksi sebelummya di level 5,9 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News