Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto (kiri bawah). Foto: Istimewa.
Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto (kiri bawah). Foto: Istimewa.

Bukan Cuma Listrik, Bos PGE Sebut Ada 5 Peluang Bisnis dari Panas Bumi

Husen Miftahudin • 08 April 2022 16:36
Jakarta: Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto mengatakan ada banyak hal dari panas bumi yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan lain, selain kelistrikan. Paling tidak ada lima peluang bisnis yang bisa tumbuh bersama panas bumi, yakni hidrogen hijau, pengolahan CO2 dan bahan baku hijau, ekstraksi material nano, pertanian, dan pariwisata.
 
"Di Eropa, pemanfaatan geotermal untuk banyak keperluan sudah sangat populer, misalnya untuk city heating. Sebagai gambaran, menurut the European Geothermal Energy Council, kapasitas terpasang pemanas geotermal di Eropa pada 2019 telah mencapai 5,5 GWth (GigaWatts Thermal)," ujar Yuniarto dalam keterangan tertulis, Jumat, 8 April 2022.
 
Yuniarto optimistis Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Saat ini, terangnya, PGE sudah mulai mengaplikasikan panas bumi untuk pertanian kentang di Garut dan Kamojang, dua wilayah di mana pembangkit panas bumi milik PGE beroperasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Keuntungan yang diperoleh petani bisa meningkat sampai 10 kali lipat dibandingkan pertanian konvensional," sebut dia.
 
Menurut Yuniarto, peluang pengembangan pertanian (GeoAgro Industry) di daerah sekitar pembangkit panas bumi masih terbuka lebar. PGE saat ini memiliki 13 wilayah kerja panas bumi. Enam di antaranya sudah beroperasi dan dikelola sendiri dengan kapasitas 672 megawatt (MW).
 
Adapun enam wilayah kerja tersebut adalah Kamojang dan Karaha di Jawa Barat, Sibayak (Sumatra Utara), Lumut Balai (Sumatra Selatan), Ulubelu (Lampung), dan Lahendong (Sulawesi Utara).
 
Selain pertanian, PGE juga melihat potensi yang sangat besar di sektor kepariwisataan di Wilayah Kerja Lahendong di Tomohon. "Perusahaan sedang merencanakan pembangunan obyek turisme dengan konsep taman geothermal, misalnya dengan memanfaatkan sumber air panas, tour, dan untuk pendidikan tentang panas bumi," urai dia.
 
Di sisi lain, ia mengemukakan pemanfaatan geothermal untuk hidrogen hijau merupakan peluang yang sangat menarik di masa depan. Di banyak negara, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dipakai sebagai sumber listrik untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis.
 
"Hidrogen ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dua di antaranya adalah untuk sektor transportasi dan petrokimia. Hidrogen hijau akan menjadi game changer untuk mencapai dekarbonisasi," tutur Yuniarto.
 
Ia mengakui pemanfaatan hidrogen hijau masih tahap awal untuk skala komersial. Berbeda dengan sektor kelistrikan di mana PLN sudah siap membeli uap panas dari pengembang geotermal, di industri hidrogen pengembang harus membangun keseluruhan rantai nilai (value chains) untuk sampai ke konsumen akhir.
 
"Karena itu, PGE mengajak semua pihak di Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan hidrogen. Ada banyak keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan hidrogen. Selain mengurangi biaya energi dalam jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan energi fosil, terutama ketika harga minyak mentah naik tinggi seperti saat ini, pemanfaatan hidrogen juga bisa mengurangi emisi karbon," pungkas dia.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif