Ilustrasi produksi minyak nasional - - Foto: MI/ Susanto
Ilustrasi produksi minyak nasional - - Foto: MI/ Susanto

Dirjen Migas: Produksi Minyak RI Harus Tetap Naik di Tengah Pandemi

Ekonomi Kementerian ESDM produksi minyak Minyak Mentah pandemi covid-19
Suci Sedya Utami • 24 November 2020 11:57
Jakarta: Pandemi covid-19 membuat harga minyak global mengalami penurunan. Hal ini turut berpengaruh pada pemangkasan produksi minyak dunia tetapi tidak berlaku bagi Indonesia.
 
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan produksi minyak dalam negeri harus tetap ditingkatkan. Pasalnya Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak akibat produksi nasional yang tidak mencukupi.

 
"Minyak itu tetap harus kita naikkan produksinya, karena kita tahu bahwa kita masih melakukan impor crude maupun BBM," kata Tutuka dalam Economic Challenges Metro TV, dikutip Selasa, 24 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tutuka mengakui permintaan dan harga minyak yang turun di masa pandemi memang memberatkan industri hulu migas. Namun, Indonesia masih menarik bagi investor hulu migas dengan berbagai kebijakan dan stimulus yang diluncurkan pemerintah.
 
"Pemerintah meyakini dengan berbagai upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan baik fiskal maupun nonfiskal masih bisa menarik investasi," tutur dia.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (Migas) Dwi Soetjipto mengatakan pandemi covid-19 membuat mobilisasi pekerja dan peralatan terganggu. Apalagi adanya pembatasan sosial untuk para pekerja dengan maksimal 50 persen di lapangan membuat produktivitas aktivitas di hulu migas tersendat.
 
Berdasarkan perkiraan (outlook), produksi minyak nasional di tahun ini sebesar 705 ribu barel per hari (bph) dari target 735 ribu bph. Meski turun tapi masih di kisaran lima persen. Dwi menyadari penurunan tersebut tidak terlepas dari dampak pandemi covid-19 yang membuat harga minyak rendah. Hal ini menyebabkan keekonomian investasi terganggu, sehingga terjadi pemotongan investasi di global.
 
"Secara global ada pemangkasan investasi 30 persen, mudah-mudahan di kita bisa dijaga enggak sampai 20 persen," tutur Dwi.
 
Lebih lanjut, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengatakan upaya yang bisa dilakukan dalam menjaga investasi di hulu migas yakni menetapkan cost recovery sebesar USD8,2 miliar pada tahun depan. Adanya alokasi cost recovery ini membuat kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tetap bergairah untuk melakukan kegiatan di hulu migas. Termasuk fleksibilitas skema cost recovery, gross split yang diberikan bagi KKKS.
 
"Komisi VII mendorong itu semuanya termasuk bagaimana skema bisnis di hulu, kami bersama pemerintah sepakat operator diberi keleluasaan memilih skema, termasuk dibagi hasilnya. Inilah yang terus menerus kita dorong," jelas Sugeng. 

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif