Ilustrasi. Foto: Antara/Idhad Zakaria
Ilustrasi. Foto: Antara/Idhad Zakaria

Pembangunan Pembangkit Nuklir Topang Kebutuhan Energi Tanah Air

Ekonomi nuklir energi
Suci Sedya Utami • 24 Agustus 2020 14:39
Jakarta: Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mendorong pemanfaatan nuklir sebagai energi listrik. Rudi menilai nuklir menjadi alternatif potensial yang bisa digunakan untuk menopang kebutuhan energi Tanah Air yang makin meningkat.
 
Menurut Rudi nuklir memiliki sumber energi yang besar. Ia bilang satu gram nuklir dalam bentuk thorium setara dengan satu ton batu bara. Ditambah lagi, kata Rudi, nuklir merupakan energi bersih karena tidak mengeluarkan karbondioksida (CO2) yang mengotori lingkungan dan menyebabkan emisi gas buang rumah kaca.
 
"Bandingkan berapa batu bara mengeluarkan kotoran dengan CO2-nya? Sedangkan nuklir enggak ada yang dikeluarkan CO2-nya. Suka tidak suka nuklir harus masuk," kata Rudi menjawab pertanyaan Medcom.id, Minggu, 23 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rudi mengatakan penggunaan thorium dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) juga lebih mudah. Ia bilang di Tanah Air sudah banyak produk yang berasal dari thorium. Selain itu, penggunaan nuklir ini juga akan menciptakan efek lanjutan yang menurut dirinya positif bagi ilmu kedokteran dan teknologi.
 
"Otak-otak anak muda yang belajar nuklir bisa dipakai untuk menciptakan MRI, CT SCAN, ilmu kedokteran dan berbagai teknologi lain yang berhubungan dengan nuklir akan terangkat. Banyak sekali positifnya," ujar Rudi.
 
Rudi menyadari masih ada pandangan kontra penggunaan nuklir yang didasari oleh ketakutan-ketakutan yang ditimbulkan jika dibangun PLTN, misalnya seperti di Jepang yang bocor akibat adanya gempa dan tsunami dan juga penggunaan di negara lain seperti di Rusia dan Jerman. Namun kata Rudi, masalah ketakutan merupakan masalah yang dibuat-buat.
 
Ia bilang efek buruk atau kecelakaan kerja saat menggunakan nuklir sebagai energi bahkan lebih rendah dibanding jika menggunakan minyak dan gas yang kasusnya telah menelan banyak korban di dunia.
 
"Sebetulnya nuklir sangat sedikit, ada di Jepang maupun di Rusia itu hanya seper-jumlahnya case meninggal dibanding yang terjadi di migas itu jauh (lebih besar) Begitu juga dibandingkan masalah kecelakaan lainnya. Jadi sudahlah, bukan masalah ketakutan. Indonesia sudah tertinggal karena masalah mindset ketakutan," tutur Rudi.
 
Rudi menambahkan sudah saatnya Indonesia untuk menggunakan nuklir sebagai sumber energi masa depan. Lagi pula tidak perlu membangun kapasitas PLTN yang besar-besar. Ia mengatakan cukup PLTN mini yang dibangun di setiap provinsi.
 
"Karena mini, risikonya kecil. Enggak perlu ada kabel antarpulau, enggak perlu ada jaringan sutet mahal-mahal sepanjang pulau Jawa-Bali karena setiap provinsi memiliki nuklir kecil-kecil. Jadi jangan ditahan terus, jangan dilawan terus, jangan dihalangi terus karena kita sudah jauh ketinggalan," pungkas Rudi.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif