"Nah saya sampaikan kemarin kepada direksi mulai ada ancaman kembali dari 20 ribu ton yang kemarin rusak. Kalau dipertahankan terus akan menambah biaya dan berbahaya," kata Budi dalam RDP bersama Komisi IV DPR RI, Kamis, 25 Juni 2020.
Pria yang akrab disapa Buwas ini menuturkan bahwa menjaga beras agar tidak turun mutu perlu biaya tambahan untuk menyemprotkan cairan pelindung jamur dan kutu. Saat masuk kategori rusak, beras tersebut idealnya dimusnahkan atau diolah kembali menjadi produk lain yang lebih bernilai.
Namun, karena stok produk merupakan cadangan beras pemerintah (CBP), Bulog tak bisa melakukan pemusnahan itu sembarangan. Kutu yang sudah beranak pinak pada beras rusak pun bisa segera mencemari beras yang masih kondisi baik di gudang Bulog.
"Ancaman masalah kualitas luar biasa, karena kutu ini bertelur dan bisa terbang 400 meter dari lokasi awal kutu ini, sudah kami lakukan penelitian dan sudah kami evaluasi," ungkapnya.
Proses fumigasi hama terus dilakukan, akan tetapi potensi kutu melompat ke beras yang masih sehat juga masih bisa terjadi. Buwas menekankan bawah kondisi tersebut akibat dari penyaluran beras CPB yang tidak sebanding dengan ketersediaan stok yang setiap tahun mencapai 1,5 juta ton.
"Fumigasi ini harus menyeluruh tapi berapa biayanya kalau seluruh Indonesia. Ini akibat beras yang disimpan terlalu lama. Kutu bertelur dan meninggalkan anak anaknya dan berkembang, ini jadi masalah," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News