Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.

Perubahan Perilaku

Ekonomi Analisis Ekonomi
Media Indonesia • 28 Juli 2020 19:09
UPAYA penemuan vaksin untuk covid-19 terus digalakkan. Bulan depan uji coba kepada manusia akan dilakukan peneliti Universitas Padjadjaran Bandung. Bahkan anggaran untuk pengadaan sebesar Rp30 triliun sudah mulai disiapkan.
 
Kita memang harus terus berikhtiar untuk bisa menemukan cara mengendalikan penyebaran covid-19 dan menekan angka fatalitas. Hanya saja beberapa ahli kesehatan mengingatkan untuk tidak keliru memahami dan menyampaikan pesan tentang vaksin.
 
Vaksin bukanlah obat untuk covid-19. Vaksin adalah virus yang dilemahkan dan kemudian sengaja disuntikkan ke tubuh manusia yang sehat agar memunculkan antibodi di dalam tubuh. Antibodi itulah yang akan menciptakan kekebalan tubuh apabila covid-19 masuk ke tubuh kita.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penemuan vaksin bukanlah hal yang mudah apalagi ketika virusnya masih terus bermutasi. Seperti vaksin untuk demam berdarah, sudah bertahun-tahun diupayakan ditemukan, namun belum didapatkan vaksin yang bisa dipakai untuk memperkuat daya tahan manusia. Bahkan pengalaman pandemi flu spanyol sampai sekarang pun tidak pernah bisa ditemukan vaksinnya.
 
Oleh karena itu, yang lebih penting dilakukan sekarang ini untuk menurunkan angka penularan ialah kampanye perubahan perilaku. Kita harus disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Kita tidak boleh kendur dan menganggap bisa melakukan apa saja seperti masa sebelum pandemi covid-19.
 
Kita tidak boleh bosan mengingatkan, kalau tidak ada keperluan mendesak, lebih baik jangan keluar rumah. Kalau harus keluar rumah, harus menggunakan masker. Selalu menjaga jarak, terutama kepada orang yang tidak dikenal karena khawatir ada kelompok orang tanpa gejala. Yang tidak kalah pentingnya selalu mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir.
 
Untuk apa semua itu dilakukan? Untuk mencegah jangan sampai kita tertular covid-19. Kita harus pintar menjaga diri karena tidak ada obat untuk virus yang satu ini. Apalagi kalau kita tahu punya penyakit komorbid seperti diabetes, darah tinggi, jantung, kanker, atau asma.
 
Kalau kita mampu menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan perilaku, ini akan membawa perubahan besar kepada bangsa ini. Disiplin diri dan disiplin kolektif yang terbangun dari pandemi covid-19 akan menjadi modal bagi kita untuk meraih kemajuan.
 
Ilmuwan sosial Samuel L Huntington menuliskan pembangunan kultur dari sebuah bangsa merupakan kunci kemajuan. Siapa yang mampu membangun disiplin, etos kerja, sikap menghargai waktu, maka pasti bisa menghasilkan produk. Bahkan produk itu direproduksi menjadi barang bernilai tambah tinggi. Korea Selatan merupakan contoh negara yang mampu membangun disiplin.
 
Covid-19 tidak boleh melupakan tugas utama untuk membangun manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan serta memiliki iman dan takwa yang kuat. Upaya untuk menurunkan angka penyebaran tidak boleh membuat proses belajar-mengajar kepada anak didik terhenti. Tidak boleh covid-19 sampai menimbulkan generasi yang hilang.
 
Sekarang proses belajar-mengajar diupayakan dengan sistem jarak jauh. Covid-19 memaksa kita untuk bisa memberikan pembelajaran tanpa dibatasi ruang dan waktu. Guru-guru terhebat yang kita miliki bisa mengajar kepada lebih banyak murid sehingga mampu memberikan pemerataan kualitas pendidikan.
 
Hanya pelajaran terpenting dari empat bulan lebih wabah covid-19 bahwa ternyata tidak mudah juga melakukan pendidikan jarak jauh itu. Ternyata fasilitas pendukung untuk proses itu tidak tersedia mencukupi. Kemajuan teknologi informasi ternyata masih terlalu mahal bagi banyak anak didik kita.
 
Setiap hari kita bisa melihat bagaimana anak-anak di banyak daerah harus bertandang ke rumah tetangganya hanya untuk meminjam gawai agar bisa mengikuti proses belajar mengajar. Kalaupun orangtuanya memiliki gawai, ternyata tidak memiliki paket kuota yang memadai untuk menggunakan data.
 
Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof Fasli Jalal mencoba melakukan survei. Ternyata banyak anak terutama dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar tidak bisa mendapatkan akses pendidikan karena faktor keterbatasan teknologi. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, banyak guru yang terdampak ekonominya oleh covid-19 karena banyak orangtua yang tidak sanggup lagi membayar uang sekolah anaknya.
 
Pendidikan rupanya terlewatkan dalam penanganan covid-19. Kita memberikan perhatian kepada sisi kesehatan. Sekarang ini mulai juga untuk membenahi sisi ekonomi. Kita ingin mengingatkan agar sisi pendidikan mulai dari level pendidikan anak usia dini hingga mahasiswa juga diperhatikan. Ternyata angka anak didik yang terdampak covid-19 begitu besar. Kemajuan teknologi informasi tidak boleh hanya sekadar dipakai untuk gaya hidup, tetapi yang paling utama untuk pendidikan. Negara harus peduli pada masalah ini karena berkaitan dengan masa depan bangsa. (Podium)
 
Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group

 

(AHL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif