Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Menjaga Nilai Tukar

Ekonomi kurs rupiah analisa ekonomi
Angga Bratadharma • 27 Maret 2020 15:00
NILAI tukar rupiah sempat terpental cukup jauh ke area negatif ketika wabah virus korona mulai meluas menginfeksi masyarakat Indonesia. Tidak main-main, mata uang Garuda sempat hampir mendekati level Rp17 ribu per USD, seiring kian perkasanya mata uang Paman Sam. Namun, perlu dicatat, saat itu rupiah tidak melemah sendirian.
 
Kini, nilai tukar rupiah masih berkutat di level Rp16 ribu per USD. Meski demikian, rupiah terlihat tidak nyaman dengan level itu dan terus berupaya kembali ke level Rp15 ribu per USD. Kondisi tersebut terlihat lantaran 'sang penjaga nilai tukar' yakni Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi agar rupiah tidak melemah lebih dalam.
 
Pada pekan ini, BI menegaskan telah menggelontorkan likuiditas hampir sebesar Rp300 triliun untuk menginjeksi pasar keuangan dan industri perbankan. Langkah itu dilakukan bank sentral Indonesia guna menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dan bergerak sesuai dengan fundamentalnya. Upaya dimaksud tidak dipungkiri membuat rupiah kembali berotot.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun suntikan likuiditas tersebut dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebanyak Rp168 triliun. Kemudian menginjeksi transaksi repo surat berharga perbankan sekitar Rp55 triliun. Kemudian dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) awal tahun atau yang akan berlaku di April 2020 kurang lebih sekitar Rp75 triliun.
 
Meski mengeluarkan uang tidak sedikit, namun nakhoda utama BI, Perry Warjiyo memastikan cadangan devisa yang dimiliki Bank Indonesia lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. Kedepannya, bank sentral akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan kecukupan pasokan cadangan devisa demi stabilisasi rupiah.
 
Posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2020 tetap tinggi sebesar USD130,4 miliar atau setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
 
Terima Kasih
 
Ketika rupiah melemah, biasanya kondisi itu dinikmati oleh para eksportir lantaran mendapat keuntungan lebih besar karena uang yang didapatkan dalam bentuk dolar AS. Namun, sikap nasionalisme diperlihatkan oleh para eksportir Indonesia yang turut mendorong penguatan nilai tukar rupiah dengan pasar valuta asing bergerak stabil.
 
Hal itu yang membuat Gubernur BI Perry Warjiyo tidak malu-malu mengucapkan terima kasih kepada para eksportir yang turut mendorong penguatan nilai tukar rupiah. "Terima kasih kepada eksportir yang sudah memasok dolar ke pasar valas sehingga nilai tukar bergerak stabil di pasar valas," kata Perry, belum lama ini.
 
Terbawa Stimulus Jumbo AS
 
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi menguat terbawa efek stimulus jumbo yang akan digelontorkan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS). Pada pukul 09.46 WIB, rupiah bergerak menguat 95 poin atau 0,58 persen menjadi Rp16.210 per USD dari sebelumnya Rp16.305 per USD.
 
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan rupiah terdorong oleh penguatan bursa saham AS. Adapun indeks saham AS menguat cukup besar karena adanya optimisme stimulus Pemerintah AS sebesar USD2 triliun untuk meredam dampak negatif wabah korona terhadap perekonomian AS.
 
"Hal itu bisa memberikan sentimen positif juga ke aset berisiko termasuk ke rupiah. Rupiah berpotensi bergerak menguat ke arah Rp16 ribu per USD, dengan potensi resisten di Rp16.305 per USD hari ini," ujar Ariston, Jumat, 27 Maret 2020.
 
Senat AS sudah menyetujui proposal stimulus tersebut, tinggal DPR AS yang dikuasai oleh Partai Demokrat yang akan memberikan persetujuan hari ini. Sementara itu, DPR AS diperkirakan juga akan langsung menyetujui paket stimulus tersebut.
 
Berkeringat Dingin
 
Pemerintah dan BI sempat berkeringat dingin ketika nilai tukar rupiah terpental cukup dalam. Bahkan, rupiah terperosok jauh dan berada di level Rp16.854 per USD pada perdagangan pasar spot Senin, 23 Maret 2020. Posisi ini melemah 3,70 persen dibandingkan nilai pada perdagangan Jumat sore, 20 Maret 2020 dan anjlok 19,36 persen sejak awal tahun.
 
Direktur Riset Centre of Reform on the Economics (Core) Piter Abdullah angkat bicara mengenai hal itu. Ia menilai wabah virus korona (covid-19) yang tidak memiliki kejelasan kapan akan berakhir memunculkan sentimen negatif. Selama sentimen masih negatif akibat ketidakpastian korona, tekanan pelemahan rupiah masih akan besar.
 
Bahkan, ia memandang, level Rp17 ribu per USD bukan tidak mungkin bisa terjadi. "Pemerintah tidak punya tools untuk meredam pelemahan rupiah. Stimulus pemerintah bukan untuk meredam rupiah, tapi meredam dampak korona ke perekonomian," ungkapnya.
 
Di kondisi sekarang ini, tidak dipungkiri BI tidak boleh sendirian menjaga nilai tukar rupiah. Pasalnya, kemampuan BI sangat terbatas karena sumbernya adalah shock dari global. "Intervensi valas oleh BI tidak bisa digunakan terus menerus karena akan menguras cadangan devisa sehingga pelemahan rupiah sulit dibendung," tuturnya.
 
Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Perdede mengungkapkan pelemahan rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya dipicu oleh pembalikan modal kepada aset keuangan yang lebih aman di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi dari covid-19, yang berpotensi berdampak pada perlambatan ekonomi global yang signifikan.
 
Bahkan, tambahnya, dapat mendorong resesi global jika berkepanjangan. Dia memandang penyebaran covid-19 ke AS, Eropa, dan global yang sangat cepat mendorong pelaku pasar keuangan global untuk melepas semua aset-asetnya yakni saham, obligasi, emas, dan memegang uang tunai dalam bentuk dolar.
 
"Meskipun sebagian besar nilai tukar negara berkembang termasuk rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS, namun kondisi ini masih jauh dari krisis 1998. Kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada 1998," kata Josua.
 
Memang jika berkaca ke belakang terutama saat 1998 dan membandingkan dengan kondisi saat ini maka kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sudah jauh lebih kuat dibandingkan dengan kondisi pada 1998. Hal itu pun turut diyakini oleh Josua.
 
Josua menganalisis hal itu karena sekalipun level rupiah saat ini menyamai level rupiah pada saat krisis 1998, namun tingkat depresiasi rupiah saat ini hanya sekitar 19 persen ytd lebih rendah dibandingkan dengan tingkat depresiasi rupiah ketika krisis 1998 yang mencapai 600 persen.
 
"Dari berbagai stimulus kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, BI dan OJK diharapkan dapat membatasi dampak perlambatan ekonomi domestik yang didorong oleh covid-19 ini. Oleh sebab itu, tekanan pada pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah diharapkan dapat dibatasi oleh respons kebijakan dari pemerintah tersebut," pungkasnya.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif