Ilustrasi mudik. Foto: dok MI.
Ilustrasi mudik. Foto: dok MI.

Mudik, Antara Tradisi dan Perputaran Ekonomi

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Analisis Ekonomi Kadin Kementerian Perhubungan Mudik Lebaran 2022
Ade Hapsari Lestarini • 01 Mei 2022 15:43
KEPUTUSAN pemerintah mengizinkan perjalanan mudik Lebaran Idulfitri 2022 disambut antusias masyarakat Indonesia. Pengumuman yang disampaikan langsung Presiden Joko Widodo pada Rabu, 23 Maret 2022 ibarat pelepas dahaga, setelah dua kali larangan mudik Lebaran di masa pandemi.
 
Masyarakat akhirnya mendapat oase menyejukkan guna melepas rindu pada kampung halaman. Meski kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi ternyata tidak menyurutkan animo masyarakat untuk mudik Lebaran. Keinginan bertemu keluarga dan handai taulan mengalahkan kondisi ekonomi para perantau.
 
"Mudik menjadi tradisi masyarakat Indonesia yang telah berlangsung sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tradisi mudik Lebaran diyakini mulai terjadi pada masa kerajaan Mataram Islam, para pemangku pemerintahan di daerah kekuasaan Mataram menyempatkan diri menghadap raja pada bulan Syawal sekaligus mengunjungi handai taulan di pusat kerajaan," ujar Budayawan muda sekaligus Ketua Gerakan Pemuda Desa mandiri (Garda Sandi) Cokro Wibowo Soemarsono.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada Lebaran Idulfitri 2020 dan 2021, pemerintah memberlakukan larangan mudik untuk mengendalikan pandemi virus covid-19. Kini, setelah massifnya pelaksanaan vaksinasi, masyarakat akhirnya dapat kembali merasakan kenormalan ibadah Ramadan dan Lebaran Idulfitri seperti biasanya.

Perputaran uang selama mudik

Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 85,5 juta orang akan melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2022. Jumlah tersebut didominasi oleh para pemudik dengan menggunakan kendaraan roda empat sebanyak 23 juta orang, sedangkan lainnya menggunakan moda transportasi umum seperti bus, kereta api, pesawat dan kapal laut.
 
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan, perayaan dan masa libur Idulfitri di Indonesia merupakan momentum untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi karena menjadi puncak perputaran uang terbesar di Indonesia. Tingginya animo mudik ini akan menggerakkan perekonomian daerah dan meningkatkan produktivitas berbagai sektor usaha. Dia memperkirakan dana sebesar Rp28 triliun hingga Rp42 triliun akan mengalir dari kota ke daerah tujuan mudik selama Idulfitri 2022.
 
Prediksi tersebut sesuai dengan asumsi jika jumlah yang mudik sekitar 85 juta orang dan rata-rata per keluarga tiga orang, maka jumlah yang mudik kurang lebih sekitar 28 juta keluarga. Jika rata-rata per keluarga membawa minimal Rp1 juta saja, maka uang yang mengalir ke daerah paling sedikit Rp28 triliun, jika membawa rata-rata Rp1,5 juta per keluarga maka potensi perputaran dikisaran Rp42 triliun.
 
Sarman menghitung angka yang moderat dan minimal, mengingat sebagian besar keuangan masyarakat masih belum pulih. Apalagi, belum semua orang mendapatkan THR meskipun semangat pulang kampung akibat dua tahun tidak bersilaturahmi menjadi dorongan hati yang tidak dapat terbendung.

Tradisi mudik

Sebagian sejarawan menyebut tradisi mudik sudah dikenal pada era Majapahit yang dikenal memiliki wilayah kekuasaan sangat luas hingga ke Semenanjung Malaya. Pejabat pemerintahan di wilayah jauh tersebut secara rutin menghadap Raja guna menyatakan kesetiaan dan melaporkan jalannya pemerintahan.
 
Budaya mudik pada masa Indonesia modern terjadi seiring dengan meningkatnya urbanisasi sejak awal Orde Baru. Gencarnya pembangunan dan industrialisasi, membuat aktivitas mudik menjadi rutinitas tahunan para perantau. Momentum Lebaran serta syawalan yang dipandang baik untuk merajut tali silaturrahim dengan sanak saudara, menyebabkan tradisi mudik awet hingga kini.
 
Selain untuk mengunjungi dan berkumpul bersama keluarga, tradisi mudik juga dimaksudkan agar bisa berbagi dengan keluarga besar di kampung. Momen berbagi ini sekaligus untuk meminta doa agar pekerjaan dan penghidupan di perantauan berlangsung makin baik. Mudik juga terapi spritual dan psikologis di antara kesibukan dan rutinitas pekerjaan.
 
Namun demikian, budaya mudik berpotensi menyebabkan nilai-nilai primordial jadi awet di tengah masyarakat perkotaan. Menurut Cokro, identitas genetis, suku, bahasa dan budaya asal, serta identitas sosial bakal terus melekat meski para perantau telah tinggal di kota lebih dari satu generasi. Nilai-nilai primordial ini dapat menghambat hadirnya nilai perkotaan yang harusnya lebih mondial. Misalnya, anggapan kampung halaman sebagai rumah sebenarnya, sedangkan perantauan sebagai tempat berteduh sementara bisa menghambat intensitas interaksi sosial.
 
Padahal, beragam persoalan perkotaan yang kompleks, seperti kemiskinan, kekumuhan, dan kriminalitas membutuhkan tanggung jawab dan keikutsertaan seluruh warganya, termasuk warga perantau. Semoga dua kali larangan mudik karena pandemi pada dua tahun lalu, yang juga disertai kondisi kesulitan ekonomi parah sebagian besar warga, telah melatih tanggung jawab sosial masyarakat perantau di perkotaan. Dua Lebaran tanpa mudik itu telah membentuk kesetiakawanan sosial dan budaya gotong royong.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif