Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Mindful Shopping

Angga Bratadharma • 03 Oktober 2022 13:15
TREN belanja daring di masyarakat dari waktu ke waktu terus tumbuh signifikan seiring era pandemi covid-19 mengharuskan semua aktivitas fisik dikurangi semaksimal mungkin. Meski virus mematikan itu sangat menyakitkan tapi tak ditampik di balik kondisi tersebut ada peluang bisnis menggiurkan yang bisa digarap oleh industri jasa keuangan Tanah Air, terutama perbankan.
 
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terungkap nilai transaksi Uang Elektronik (UE) di Agustus 2022 melesat 43,24 persen secara tahunan (YoY) mencapai Rp35,5 triliun. Sedangkan transaksi digital banking tumbuh 31,24 persen YoY menjadi Rp4.557,5 triliun. Bukan tidak mungkin angka ini bisa terus meroket seiring digitalisasi kian merasuki hampir semua sendi kehidupan.
 
Masifnya berbelanja daring sekarang ini juga didukung oleh strategi bisnis dan marketing yang dilakukan oleh para perusahaan baik menggunakan konsep diskon maupun promo-promo lainnya yang memancing masyarakat untuk berbelanja. Di sisi lain belanja yang dilakukan memang memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun di sisi lain, jika daya beli masyarakat via belanja daring tidak dilakukan secara bijak maka ditakutkan justru menjadi bumerang. Apalagi, jika belanja daring yang dilakukan masyarakat menggunakan fasilitas dana pinjaman. Patut disadari dan diketahui, dana pinjaman yang diakses harus dikembalikan karena sudah menjadi kewajiban.
 
Sebaiknya, dana pinjaman tidak digunakan untuk berbelanja yang sifatnya konsumtif melainkan diarahkan ke hal produktif. Karenanya, perencanaan keuangan mutlak dipahami. Hal paling mendasar dalam mengelola keuangan secara cermat dan hemat adalah mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Baca: Bukan Kaleng-Kaleng Nih! Interior Kereta Cepat Bakal Indonesia Banget

Perencana Keuangan Ruisa Khoriyah menjelaskan kebutuhan merupakan barang dan jasa yang dibutuhkan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sedangkan keinginan merupakan segala kebutuhan berlebih yang sifatnya tidak mengikat dan tidak ada keharusan untuk dipenuhi.
 <i>Mindful Shopping</i>
Sumber: OJK
 
Selanjutnya, menurut dia, kebutuhan perlu dibagi menjadi tiga hal yakni primer atau kebutuhan yang harus dipenuhi seperti pakaian, makanan, dan rumah. Kebutuhan sekunder seperti kendaraan pribadi, dan kebutuhan tersier seperti hiburan.
 
"Prinsip selanjutnya agar kamu dapat cermat dan hemat dalam mengelola keuangan adalah hindari berbelanja dan mengalokasikan pengeluaran yang melebihi pendapatan bulanan," imbuhnya.
 
Co-Founder MiPOWER by Sequis and Registered Financial Planner Edwin Limanta menambahkan merdeka finansial bukan berarti memiliki banyak harta dan aset melainkan mampu memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan bebas dari utang.
 
Meski kondisi finansial setiap orang berbeda dan sebagian belum merdeka sepenuhnya, tapi Edwin menyarankan perlunya mulai menata finansial dari sekarang demi mengamankan masa depan. Sebagaimana kemerdekaan bangsa diraih dengan usaha dan perjuangan, lanjutnya, maka merdeka finansial juga memerlukan komitmen dan disiplin.
 
"Dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran serta mengamankan masa depan dengan cara menabung, berasuransi, dan berinvestasi," katanya.
Baca: Inggris Umumkan 'Amunisi Baru' untuk Memerangi Resesi

Beberapa tips yang bisa dilakukan adalah disiplin terhadap manajemen anggaran, batasi utang konsumtif, hidup minimalis, siapkan dana darurat, mulai berasuransi, dan berinvestasi. Adapun nasihat terbaik soal investasi bagi para pemula adalah jangan terlena dengan return of investment tinggi yang diperoleh orang lain.
 
"Pelajari setiap instrumen sebelum memulai berinvestasi dan ketahui profil risiko pribadi," jelasnya.

Penjahat siber mengintai

Namun, jika ada kebutuhan mendesak dan dana pinjaman menjadi satu-satunya pilihan untuk berbelanja maka masyarakat wajib berhati-hati dalam mengakses lembaga jasa keuangan. Pasalnya, penjahat di dunia siber atau penipuan di industri keuangan terus mengintai. Kewaspadaan sangat penting agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan.
 
Apalagi, Satgas Waspada Investasi (SWI) pada Agustus 2022 kembali menemukan 13 entitas yang melakukan penawaran investasi tanpa izin dan 71 pinjaman online (pinjol) ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Keberadaan mereka terus bermunculan seperti jamur meski sudah diberantas oleh pihak berwajib.
 
Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan pihaknya langsung melakukan pemblokiran terhadap situs/website/aplikasi 84 entitas ilegal tersebut dan menyampaikan laporan informasi ke Bareskrim Polri untuk ditindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
 
"SWI bertindak cepat mencari dan kemudian memblokir entitas investasi ilegal dan pinjol ilegal yang informasinya kami dapat dari data crawling melalui big data center aplikasi waspada investasi," kata Tongam.
 
Lebih lanjut, dengan ditemukannya 71 pinjol ilegal maka sejak 2018 sampai dengan Agustus 2022 ini, jumlah pinjol ilegal yang telah ditutup menjadi sebanyak 4.160 pinjol ilegal. Meskipun telah ribuan ditutup, namun praktek pinjol di masyarakat tetap marak.
 
SWI mendorong aparat penegakan hukum terus melakukan pengejaran dan penangkapan para pelaku pinjol ilegal ini mengingat upaya pemblokiran situs dan aplikasi tidak membuat jera pelakunya. SWI juga meminta masyarakat mewaspadai segala bentuk modus baru yang dilakukan oleh para pelaku untuk menjerat korban.
 
"Setiap hari Satgas Waspada Investasi menerima pengaduan masyarakat korban pinjol ilegal. Meskipun beberapa pelaku telah dilakukan proses hukum, tampaknya beberapa dari mereka belum jera," kata Tongam.

Peluang bisnis

Meski demikian, di balik kondisi itu ada peluang bisnis yang bisa digarap oleh industri perbankan, baik dari sisi pendapatan jasa melalui sistem pembayaran yang dimiliki maupun penyaluran kredit bagi masyarakat untuk mendukung daya beli di Tanah Air. Kondisi sekarang ini tentu membuka peluang bagi perbankan mengoptimalkan digitalisasi di layanannya.
 
LINE Bank pun melihat peluang bisnis di era tren belanja daring yang terus meningkat. Salah satu yang dilakukan yakni meluncurkan pinjaman digital dengan tajuk 'Pinjaman Quick Credit & KTA'. Sebagai informasi, LINE Bank adalah bank digital besutan Line Corporation dengan PT Bank KEB Hana Indonesia.
 
LINE Bank berharap fitur pinjaman digital tersebut bisa membantu lebih banyak kaum muda dalam memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka dengan cara yang lebih mudah dan aman. Selain itu, adanya layanan ini diharapkan bisa memberikan solusi pengelolaan keuangan.
 
Tak hanya itu, Consumer Banking Director PT Bank KEB Hana Indonesia Anton Hermawan meyakini pinjaman digital tersebut mampu memberikan akses yang lebih mudah dalam mengajukan kredit melalui proses yang seluruhnya berbasis ekosistem digital.
 
Adapun di tahun pertama peluncuran fitur pinjaman ini, LINE Bank akan berfokus pada wilayah Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Ke depan, LINE Bank by Hana Bank terus mengembangkan fitur dan produk lain untuk menunjang kebutuhan nasabah, mulai dari gaya hidup hingga investasi.
 
Sementara itu, Line Bank membidik pertumbuhan bisnis hingga 100 persen pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut akan meningkat signifikan sejak Line Bank berdiri Juni tahun lalu.  Anton mengatakan, pertumbuhan tersebut berasal dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit secara digital.
 
Sejak diluncurkan tahun lalu, Line Bank sudah menghadirkan produk funding dan deposito dengan jumlah nasabah telah mencapai di kisaran 300 ribuan pada akhir 2021. Sedangkan di tahun ini perusahaan mulai menggarap penyaluran kredit digital dengan fokus pada manajemen risiko dan penilaian kredit untuk tingkatkan bisnis.

Pertumbuhan jumlah transaksi

Di sisi lain, riset Kredivo dan Katadata menunjukkan terjadi pertumbuhan jumlah transaksi berbelanja daring dari kelompok konsumen usia 36 tahun ke atas selama 2021. Peningkatan terjadi di kelompok konsumen usia 36-45 tahun sebesar 19 persen pada 2020 menjadi 23 persen pada 2021.
 
Sedangkan kelompok usia 46-55 tahun meningkat dari tiga persen di 2020 menjadi lima persen di 2021. Kendati demikian, transaksi belanja daring masih tetap didominasi oleh generasi muda, yaitu usia 26-35 tahun sebesar 45 persen. Kemudian diikuti dengan transaksi dari konsumen usia 18-25 tahun sebesar 28 persen.
 
Head of Katadata Insight Center Adek M Roza mengatakan peningkatan transaksi di kalangan usia 35 tahun ke atas ini menandakan generasi tua mulai percaya dan terbiasa berbelanja secara daring. Sebab, dibandingkan dengan generasi muda, generasi tua ini cenderung lebih sulit untuk beradaptasi dengan platform digital.
 
Apalagi jika dikaitkan dengan transaksi keuangan digital yang saat ini tiap e-commerce menawarkan berbagai macam opsi pembayaran mulai dari pembayaran langsung, transfer bank, e-wallet, hingga paylater.
Baca: Mantap! Puluhan Produk UMKM Sambas Serbu Malaysia

Sementara itu, riset tahunan yang dilakukan Kredivo dan Katadata Insight Center bertajuk 'Perilaku Konsumen E-Commerce Indonesia' mengungkapkan penggunaan paylater di e-commerce meningkat hingga 38 persen pada 2022 dari tahun sebelumnya yaitu 28 persen. Selain itu, 50 persen konsumen telah menggunakan paylater lebih dari satu tahun.
 
Kemudian 49 persen konsumen menggunakan paylater setidaknya satu kali dalam sebulan. Penggunaannya pun semakin inklusif baik dari sisi cakupan wilayah, kelompok umur pengguna, hingga kategori produk untuk kebutuhan sehari-hari.
 
Center, VP Marketing & Communications Kredivo Indina Andamari mengatakan mayoritas masyarakat memilih paylater karena faktor fleksibilitas pembayaran, proses pendaftaran cepat dan mudah, dan adanya jaminan pengawasan dari OJK.
 
"Sedangkan dari sisi industri, pertumbuhan paylater didorong oleh kesenjangan akses kredit di Indonesia, pesatnya adopsi digital di berbagai sektor, popularitas e-commerce, dan kemampuan paylater dalam menjangkau masyarakat underbanked untuk mendapatkan akses kredit," kata Indina.

Sistem perbankan berintegritas

Di sisi lain, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, OJK akan terus membangun sistem perbankan yang berintegritas sebagai fundamental dalam menciptakan stabilitas perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
<i>Mindful Shopping</i>
Gedung OJK. FOTO: OJK
 
Ia menegaskan sistem pengawasan yang responsif terhadap tantangan dan perubahan ekosistem keuangan global akan terus dikembangkan. Pengawasan terhadap individual bank dengan mengedepankan early warning system menjadi penekanan ke depan.
 
"Perlindungan terhadap nasabah juga merupakan prioritas dengan tetap memastikan kepastian hukum bagi perbankan dan masyarakat," kata Dian.
 
Untuk mencapai tujuan tersebut, Dian mengatakan, OJK melihat kembali business process dalam regulasi, perizinan, dan pengawasan. Bahkan, tambahnya, OJK akan memberikan ruang yang cukup kepada perbankan untuk melakukan inovasi dan penyesuaian dalam menghadapi ekosistem yang berubah dari waktu ke waktu dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.
 
"OJK akan melakukan intervensi apabila diperlukan untuk memastikan penerapan Governance Risk Compliance (GRC), integritas, dan tingkat kesehatan bank," tegasnya.
 
Lebih lanjut, OJK meminta perbankan untuk tidak berpuas diri dengan pencapaian kinerja yang baik, namun harus terus waspada mengamati risiko-risiko yang terkait dengan serangan siber, kejahatan ekonomi yang semakin canggih, risiko perubahan iklim , perkembangan digitalisasi, geopolitical tension, dan ketidakpastian global.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif