Suryopratomo. (FOTO: MI/Panca Syurkani)
Suryopratomo. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Kejutan Indonesia

Ekonomi analisa ekonomi
26 Juni 2019 13:24
KUNJUNGAN Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno ke Laos bukan sekadar kunjungan biasa. Ada empat BUMN yang diajak untuk melakukan kegiatan bisnis di negara yang baru mulai 2009 lalu kembali terbuka dan membangun negaranya.
 
Duta Besar Indonesia untuk Laos Pratito Soeharyo menjelaskan gebrakan Kementerian BUMN benar-benar mengejutkan negara-negara ASEAN lainnya. Mulai Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Indonesia? Mereka tidak menyangka kalau Indonesia melangkah begitu jauh dalam melakukan kegiatan bisnis di Laos.
 
Tidak tanggung-tanggung, PT Inka (Persero) akan membangun jaringan kereta di Laos. Inka mampu bersaing dengan perusahaan Tiongkok untuk memenangi tender pembangunan jaringan kereta di negara itu. Laos membutuhkan jaringan kereta karena mereka satu-satunya negara ASEAN yang tidak memiliki laut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya industri kereta api, Menteri Rini membawa PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Perkebunan Nasional untuk melakukan kerja sama di bidang pembangunan pertanian. Sementara itu, untuk bidang pertambangan, PT Timah dan PT Bukit Asam sepakat untuk mengoptimalkan potensi tambang seperti emas yang dimiliki Laos.
 
Tidak heran apabila Perdana Menteri Thongloun Sisoulith menyambut khusus kunjungan delegasi Indonesia. Kita dianggap cepat merealisasikan janji yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu PM Sisoulith di KTT ASEAN akhir pekan lalu di Bangkok.
 
Kita harus melihat potensi Laos dalam perspektif jangka panjang. Investasi yang dilakukan BUMN bukan hanya untuk dipetik hasilnya saat ini, melainkan juga untuk masa-masa mendatang. Seperti umumnya negara Indochina, Laos mempunyai kekuatan untuk berkembang pesat seperti halnya Vietnam.
 
Dengan hadir lebih dulu di Laos, kita akan dilihat sebagai partner strategis yang utama. Pengusaha Laos pasti akan selalu menawarkan terlebih dahulu kepada Indonesia apabila ada potensi bisnis yang bisa dikerjasamakan.
 
Dengan berinvestasi di luar negeri, BUMN juga menjadi lebih 'go international'. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi jago kandang. Produk-produk Indonesia mempunyai kualitas yang tidak kalah jika dibandingkan dengan produk negara lain.
 
Investasi di luar negeri membuat industri dalam negeri akan terus terpacu untuk berproduksi dan meningkatkan kualitasnya. Ini merupakan kesempatan kepada putra-putra Indonesia untuk terus berkarya. Berbagai inovasi dan kreativitas bisa terus dipacu karena pasar semakin tidak terbatas.
 
Kita bisa melihat apa yang dulu dilakukan bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok. Ketika produk industri pertama mereka dipasarkan, semua orang memandang sebelah mata. Namun, dengan perbaikan yang terus-menerus, tiga bangsa ras kuning itu kini menjadi penguasa produk industri dunia.
 
Sekarang yang perlu juga didorong ialah industri keuangan dan perbankan Indonesia. Kita harus mempunyai industri keuangan dan perbankan yang kuat agar mampu mendukung pengembangan industri nasional untuk berbicara di kancah dunia.
 
Pengalaman PT Dirgantara Indonesia harus menjadi pembelajaran tentang pentingnya memiliki industri keuangan dan perbankan yang kuat. Produk-produk pesawat terbang kita diminati banyak negara terutama di Afrika. Sayang, penetrasi pasar tidak mudah dilakukan karena kita tidak mampu memberikan kredit ekspor.
 
Industri Jepang bisa semakin kuat karena ditopang kredit ekspor yang diberikan negara itu. Mulai industri transportasi hingga pembangkit listrik tidak kesulitan untuk diekspor ke seluruh belahan dunia, karena Jepang mampu memberikan fasilitas kredit ekspor ke negara yang menggunakan produk industri mereka.
 
Tidak bosan kita sampaikan, tantangan yang harus bisa kita jawab ialah bagaimana membuat empat bank BUMN kita bisa meraih keuntungan di atas USD10 miliar atau di atas Rp140 triliun. Dengan itu, kapitalisasi pasar bank-bank BUMN pasti di atas USD100 miliar dan mereka pasti juga akan mampu membiayai proyek apa saja.
 
Kementerian BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, dan Bank Indonesia harus bersama-sama memikirkan cara mencapai target itu. Satu saat kita harus bisa seperti bangsa Tiongkok yang aset perusahaan perbankan, nonbank, dan jasa keuangannya pada kuartal I-2019 ini sudah mencapai USD89 triliun. Karena dengan itu, kita akan bisa melakukan apa saja untuk memajukan bangsa dan negara ini. (Podium/Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif