Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. FOTO: MI/Panca Syurkani.
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. FOTO: MI/Panca Syurkani.

Setelah Rekonsiliasi

Ekonomi analisa ekonomi
Media Indonesia • 31 Desember 2019 17:23
HARI ini kita sama-sama akan meninggalkan 2019 untuk menjelang 2020. Kita pantas bersyukur mampu melewati tahun penuh tantangan. Sepuluh bulan kita dihadapkan kepada situasi yang nyaris membelah kita. Pemilihan Presiden yang digelar membuat kita khawatir akan masa depan bangsa ini.
 
Dalam situasi penuh ketidakpastian, wajar apabila banyak orang menahan diri. Penurunan penjualan durable goods menggambarkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Bersyukur dalam kondisi seperti itu, pertumbuhan ekonomi kita masih berada di kisaran lima persen. Padahal kondisi global pun tidak kalah menekan.
 
Kita semakin bersyukur dua bulan terakhir terjadi rekonsiliasi. Sikap Presiden Joko Widodo memasukkan calon presiden Prabowo Subianto ke dalam kabinet merupakan langkah politik yang menenangkan. Apalagi Prabowo pun dengan besar hati mau menerima tawaran duduk di dalam Kabinet Indonesia Maju.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Angin pesimisme berubah menjadi optimisme. Konsolidasi politik membuat kalangan dunia usaha melihat masa depan Indonesia menjadi cerah kembali. Setidaknya lima tahun ke depan ada stabilitas politik yang memungkinkan para pengusaha mengembangkan bisnis mereka.
 
Modal politik ini tentunya sangat bermanfaat bagi kita untuk menapaki 2020. Apalagi kalau kita bisa menyelesaikan perbedaan di tengah masyarakat. Kita harus mencari jalan bagaimana mengakhiri sikap syakwasangka di antara masyarakat agar kekuatan dari bangsa ini bisa menjadi modal sosial yang bermanfaat untuk kemajuan.
 
Perbaikan hubungan di antara masyarakat harus dimulai dari para pemimpin. Para anggota kabinet sekarang ini harus fokus bekerja sesuai dengan tantangan yang dihadapi di depan. Jangan energi ini dibuang-buang hanya untuk melihat ke belakang, mencari kelemahan pemimpin yang lama.
 
Kita pantas belajar kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Selama dua bulan ini yang dilakukan ialah konsolidasi ke dalam. Ia juga aktif untuk membangun komunikasi dengan menteri-menteri pertahanan negara sahabat seperti Filipina, Tiongkok, dan Turki.
 
Semua itu dilakukan tanpa publikasi berlebihan. Prabowo memanfaatkan kedutaan besar Indonesia sebagai pihak yang menyampaikan informasi ke publik. Tidak ada sama sekali pernyataan yang menyinggung kebijakan menteri sebelumnya.
 
Dengan rendahnya kontroversi yang dimunculkan, justru ia bisa bekerja lebih maksimal. Itulah yang seharusnya dilakukan menteri-menteri yang lain. Ketenangan pada tingkat pemerintahan akan beresonansi kepada masyarakat karena tidak ada hal yang harus menjadi kontroversi baru.
 
Kita berharap tahun baru ini menjadi momentum untuk terus membangun. Seluruh energi yang kita miliki dipakai untuk hal-hal produktif. Para menteri tidak hanya bekerja dengan giat, tetapi memberi masukan yang benar kepada Presiden.
 
Jangan biarkan Presiden mendapatkan informasi tidak utuh. Akibatnya, pernyataan yang disampaikan menjadi tidak akurat. Seperti angka penghematan yang bisa kita dapatkan dari penggunaan diesel B-30 atau manfaat pembangunan kilang.
 
Kita tentu mendukung kebijakan B-30 dan pembangunan kilang karena kita membutuhkan itu. Tetapi, angka penghematan tidak sespektakuler yang disampaikan, karena kita masih harus mengimpor metanol untuk pembuatan B-30 dan minyak mentah untuk diolah menjadi bahan bakar minyak. Janganlah Presiden dibiarkan menjadi tidak kredibel di mata masyarakat.
 
Di tahun baru yang penuh tantangan, Presiden perlu memiliki think-tank yang kuat. Apalagi kita harus memadukan optimisme di dalam negeri dengan pesimisme yang terjadi di tingkat global. Presiden harus mendapat masukan dari orang-orang yang bukan sekadar punya pengetahuan, tetapi punya pemahaman Indonesia yang dalam.
 
Tidak mungkin Presiden bisa membuat kebijakan yang tepat apabila didampingi orang-orang yang masih bau kencur. Kita memang hidup di era milenial, tetapi kebijakan yang kita butuhkan tetap harus mempunyai kedalaman.
 
Apalagi jebakan besar yang dihadapi seperti kasus asuransi Jiwasraya membutuhkan penanganan tepat. Kejahatan yang direkayasa begitu canggih itu tidak mungkin diselesaikan dengan cara yang simple. Belum lagi dibutuhkan kecepatan untuk mengambil keputusan, sebab salah-salah kasus ini bisa seperti kasus Bank Century atau Bank Summa yang membawa kita ke dalam krisis besar. Selamat Tahun Baru 2020! (Podium)

Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group


 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif