Ilustrasi (MI/Galih Pradipta)
Ilustrasi (MI/Galih Pradipta)

Move On ke Energi Listrik

Ekonomi analisa ekonomi
Angga Bratadharma • 06 Agustus 2019 13:00
PEMANASAN global menjadi masalah utama bagi hampir seluruh negara di dunia, termasuk di Indonesia. Adapun persoalan itu muncul lantaran tingginya jumlah karbondioksida atau CO2 di atmosfer. Hal ini seiring sebagian besar negara di dunia masih sangat bergantung pada komoditas bahan bakar fosil, yang melepaskan CO2 dalam jumlah yang signifikan.
 
Kondisi itu kian diperparah lantaran peralihan drastis pembangkit listrik tradisional dengan pembangkit energi yang bersih atau alternatif yang tidak menghasilkan CO2 seperti solar, angin, atau panas bumi hampir mustahil direalisasikan dalam waktu dekat. Hal itu karena masih tingginya biaya energi terbarukan. Namun memang, bukan berarti tidak ada upaya yang dilakukan.
 
Pertumbuhan ekonomi yang terus digenjot oleh negara-negara di dunia pun tidak disangka memiliki efek negatif. Salah satunya dari penggunaan energi untuk industri dan lain sebagainya. Kondisi itu yang akhirnya menghasilkan CO2. Tidak hanya di Eropa, Asia juga memiliki peranan dalam memberikan kontribusi besar terkait emisi CO2.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Emisi itu dihasilkan akibat konsumsi energi untuk akselerasi pembangunan ekonomi. Kondisi tersebut yang membuat Tiongkok, yang merupakan kontributor terbesar dalam emisi karbon, mulai beralih menggunakan teknologi ramah lingkungan dalam menggenjot pertumbuhan ekonominya.
 
Jika menengok ke belakang, tepatnya pada 4 Maret 2014, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang pernah berkata bahwa Tiongkok menyatakan perang terhadap polusi. Kala itu, tidak sedikit yang merasa skeptis. Namun, negara Tirai Bambu itu mampu membuktikannya. Bahkan bisa direalisasikan dalam kurun waktu empat tahun dengan berhasil memangkas tingkat partikulat udara rata-rata 32 persen.
 
Menurut studi Michael Greenstone dari University of Chicago dan kolega, dalam artikelnya untuk The New York Times, guna mencapai target itu Tiongkok melarang kota-kota yang paling berpolusi mendirikan pembangkit listrik bertenaga batu baru. Pembangkit listrik yang sudah ada diwajibkan memangkas emisinya atau mengganti bahan bakar dengan gas alam.
 
Tidak hanya itu, Tiongkok juga mengurangi pabrik-pabrik besi dan baja, menutup tambang batu bara, dan beberapa kota besar diminta mengurangi jumlah kendaraan di jalanan. Hebatnya lagi, Kementerian Perlindungan Lingkungan Tiongkok menerbitkan rencana sebanyak 143 halaman yang mewajibkan rumah dan tempat usaha membuang pemanas bertenaga batu bara.
 
Langkah tegas dan keras dari pemerintah ternyata berhasil. Data dari Pemerintah Tiongkok menunjukkan mayoritas kota-kota di Tiongkok melampaui target terkait pengurangan emisi. Tingkat partikulat di Beijing turun hingga 35 persen, di Shijiazhuang turun 39 persen, dan di Baoding -kota paling berpolusi pada 2015- turun 38 persen.
 
<i>Move On</i> ke Energi Listrik
Kabut asap di Shanghai, Tiongkok, 13 April 2016 (Foto: AFP/JOHANNES EISELE)
 
Greenstone dan kolega kemudian melanjutkan studi itu dengan mengaitkan antara penurunan emisi dengan harapan hidup masayarakat menggunakan metode Indeks Kualitas Udara-Kehidupan. Melalui metode itu mereka menemukan penduduk Beijing bisa hidup 3,3 tahun lebih lama, dan penduduk Shijiazhuang bisa hidup 5,3 tahun lebih lama.
 
Bahkan, lanjut Greenstone, mereka yang ada di Baoding bisa hidup 4,5 tahun lebih lama. Efek ini akan bisa dirasakan oleh semua orang pada semua usia. "Jika Tiongkok mengikuti standarnya sendiri, usia harapan hidup rata-rata bertambah 1,7 tahun. Jika mengikuti standar WHO akan meningkatkan usia harapan hidup mereka sebanyak 4,1 tahun," kata Greenstone.
 
Mengutip data Observatorium Mauna Loa, seperti dilansir CNN, Senin 13 Mei 2019, konsentrasi CO2 di atmosfer lebih dari 415 parts per million (ppm), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat mana pun dalam 800 ribu tahun terakhir.
 
Adapun kenaikan suhu global terutama akibat emisi CO2 secara rata-rata meningkat sebanyak 2,4 persen per tahun sejak 1960-2017. Kontribusi emisi CO2 Eropa tercatat paling tinggi selama periode 1960-1993. Namun untuk 1993 hingga saat ini, Eropa mulai menurunkan laju emisi CO2. Hal itu disusul Tiongkok yang juga terus menerus menekan emisi karbon.
 
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan semua orang bahwa dunia sedang menghadapi ancaman berbahaya dalam bentuk perubahan iklim. Guterres menyerukan untuk mengambil tindakan nyata dalam menanggulangi perubahan iklim dan penyebab-penyebabnya.
 
"Gangguan iklim sedang terjadi saat ini, dan ini terjadi kepada kita semua. Ini terjadi lebih cepat dari yang telah diprediksi ilmuwan-ilmuwan terbaik dunia," kata Guterres, disiarkan dari media UPI, Minggu, 30 Juni 2019.
 
Konsumsi Energi Global Didominasi Sektor Transportasi
 
Apabila melihat publikasi EIA 2019 terungkap konsumsi energi global didominasi oleh sektor electric power, sektor industri, dan sektor transportasi. Untuk sektor transportasi menyumbang sekitar 24 persen konsumsi energi dunia. Selaras dengan jumlah konsumsi tersebut, sektor transportasi berkontribusi sekitar 24 persen emisi CO2 global.
 
Hal itu terjadi lantaran sektor transportasi yang mendominasi sekarang masih menggunakan bahan bakar fosil. Untuk menekan persoalan itu, sewajarnya harus ada perubahan atau mulai move on menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, termasuk terbarukan demi keberlanjutan hidup yang lebih baik lagi.
 
Penggunaan Electric Vehicle (EV) bisa menjadi salah satu solusi. Adapun pertumbuhan EV tentu terdorong oleh beberapa kebutuhan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil serta efisiensi distribusi energi. Tiongkok, misalnya, menggunakan EV lebih dikarenakan motif kedua mengingat energi utama yang digunakan masih berbasis batu bara.
 
Penggunaan EV juga sejalan dengan cadangan minyak bumi dan batu bara yang terbatas. Berdasarkan data Wood Mackenzie, pada 2019 suplai minyak mentah dunia sekitar 100,5-102,1 juta bbl/day dengan kontribusi OPEC sekitar 35 juta bbl/day atau sekitar 35 persen. Sisanya dipenuhi oleh negara-negara non-OPEC dengan AS memimpin dengan produksi shale oil-nya.
 
Sementara itu, bagi Indonesia, EV atau kendaraan listrik ini juga bisa jadi jawaban dari sejumlah persoalan yang ada. Untungnya, perkembangan kendaraan listrik di Nusantara direspons positif oleh Pemerintah Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur untuk menarik investasi pengembangan kendaraan listrik.
 
Adapun fasilitas yang diberikan oleh pemerintah yakni memberlakukan bea masuk nol persen, penurunan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) kendaraan bermotor listrik, dan insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama, seperti industri baterai dan industri motor listrik.
 
Namun hal itu tak akan maksimal jika tidak didukung pihak-pihak terkait. Dalam konteks ini, BUMN yang bergerak di bidang energi, seperti Pertamina dan PLN perlu bersinergi. Sebagai penyedia listrik nasional, PLN dapat bekerja sama dengan Pertamina yang memiliki jaringan retail di seluruh Indonesia untuk melakukan penetrasi kendaraan listrik pada segmen mobil.
 
Blue Bird Jadi Pelopor
 
PT Blue Bird Tbk jadi pelopor di Tanah Air yang mengenalkan mobil listrik. Emiten yang bergerak di bidang transportasi ini memperkenalkan taksi listrik baik untuk kelas regular maupun kelas premium. Meski unitnya terbatas, namun pengenalan taksi listrik kepada masyarakat dapat meningkatkan public awareness bahwa kendaraan listrik tidak bising.
 
<i>Move On</i> ke Energi Listrik
Bluebird luncurkan taksi listrik (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami)
 
Selain itu, kendaraan listrik tanpa emisi dan memiliki kenyamanan yang setara dengan mobil konvensional. Bahkan, kendaraan listrik yang diperkenalkan Blue Bird bisa menjadi 'kampanye awal' untuk mengedukasi kepada masyarakat bahwa kendaraan listrik bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan kendaraan konvensional.
 
"Sekarang ini kan cuaca di Jakarta jelek ya, polusi. Jadi, pemerintah mau angkutan umum seperti bus, taksi, dan sepeda motor pakai listrik," kata Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Jumat, 31 Mei 2019, seraya menambahkan angkutan umum berenergi listrik merupakan solusi menangani dampak polusi sekaligus mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
 
Karenanya, ia berharap, angkutan umum listrik bisa segera diimplementasikan seiring dengan komitmen pemerintah mendorong pengembangan kendaraan listrik. "Segera itu (diimplementasikan). Kalau tidak, kamu yang muda-muda akan kena polusi. Hati-hati lho dengan polusi, kalau saya kan sudah tua, kalian masih muda," tuturnya berkelakar.
 
Namun, implementasi angkutan umum listrik yang diinginkan Menko Luhut sepertinya tidak bisa terjadi dalam waktu dekat. Lihat saja bus listrik milik PT TransJakarta yang tak bisa beroperasi melayani rute di ibu kota. Bus canggih senilai Rp2 miliar per unitnya itu saat ini hanya diperbolehkan sebagai prototipe uji coba.
 
"Kami mau jalankan dari Senayan ke Monas dan Ragunan ke Kunigan, tapi STNK belum keluar dan sertifikat uji belum gol," kata Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono, Minggu, 23 Juni 2019.
 
Agung mengaku pihaknya sangat siap untuk menambah armada bus yang memanfaatkan mekanisme energi listrik. Tiga armada bus listrik sedianya telah hadir dan direncanakan beroperasi untuk melayani dua rute di koridor I Blok M-Kota dan koridor VI Ragunan-Dukuh Atas.
 
Dua di antara tiga bus tersebut diketahui diimpor dari pabrikan BYD yang bermarkas di Shenzen, Tiongkok. Sedangkan satu unit bus listrik lainnya dibuat di dalam negeri, yaitu oleh PT Mobil Anak Bangsa (MAB). Saat ini operasional bus listrik hanya terbatas di sekitaran Monas dan tempat wisata lainnya sebagai upaya sosialisasi.
 
"Dalam uji coba ini kami ingin tahu seberapa mudah bus listrik ini dioperasikan. Kami yakin biaya operasional dan perawatan akan lebih murah apalagi kalau ada kebijkan tarif khusus listrik," tuturnya.
 
Antisipasi Perkembangan Kendaraan Listrik
 
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN energi terlihat sudah mengambil ancang-ancang guna mengantisipasi perkembangan kendaraan listrik di Tanah Air. Adapun yang dilakukan yakni mempersiapkan fasilitas SPBU existing agar dapat melayani charging untuk kendaraan listrik.
 
Konsep yang dikembangkan adalah dengan membuat fasilitas charging yang dapat melayani beberapa plug kendaraan. Saat ini fasilitas charging tersebut telah memiliki beberapa standar seperti chademo, type 2, dan CCS. Dengan menggunakan jaringan SPBU existing, diharapkan implementasi charging dapat dilakukan lebih cepat dan secara menyeluruh di Indonesia.
 
Kemudian untuk kendaraan roda dua dan tiga, konsep yang dikembangkan Pertamina adalah dengan menggunakan metode swap battery. Hal ini dilakukan sebagai mitigasi bahwa pemilik motor mengharapkan accessibility yang mudah dan metode penukaran baterai yang cukup praktis. Artinya dapat mengurangi waktu tunggu.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut Pertamina siap menghadapi disruption business dari kendaraan konvensional berbahan bakar minyak ke arah kendaran listrik. Pertamina akan menghadirkan fasilitas pengisian listrik dalam rangka pengembangan ekosistem bisnis kendaraan listrik ke depan.
 
"Kita meluncurkan satu green energy station untuk kita adaptasi dengan perkembangan teknologi. Seluruh pihak berada dalam satu visi yang sama untuk menghadirkan suatu ekosistem energi masa depan terbaik untuk Indonesia," kata Nicke, Senin, 10 Desember 2018.
 
Tantangan di Tengah Peluang Kendaraan Listrik
 
Terlepas dari itu semua, peluang kendaraan listrik tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi saat ini. Di antara tantangan itu yakni diperlukan peningkatan nilai tambah pada pertambangan nikel, cobalt, dan manganese sebagai bahan baku baterai. Hal ini memerlukan road map untuk hilirisasi dan pembuatan industri komponen.
 
Senior Vice President (SVP) untuk Perencanaan Perusahaan, Pengembangan Bisnis dan Transformasi Pertamina Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan jika pemerintah memberikan insentif maka keekonomian dipasar dapat terbentuk. Sebagai contoh di Tiongkok karena basis utama adalah manufaktur, pembentukan skala pasar dibuat di negaranya sendiri.
 
<i>Move On</i> ke Energi Listrik
Alat pengisian daya baterai untuk kendaraan mobil listrik yang tersedia di area parkir SPBU Coco Rasuna Said, Kuningan, Jakarta (Foto: MI/Susanto)
 
"Masing–masing wilayah di Tiongkok yang menjadi target penetrasi electric vehicle mempunyai produksi electric vehicle masing-masing. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan sulitnya menentukan produksi EV yang menjadi keunggulan dan sulitnya untuk menjual ke wilayah lain karena kemandirian masing-masing wilayah dalam memproduksi EV," tuturnya.
 
Bahkan, lanjutnya, konsistensi sangat diperlukan dalam implemenasi EV. Sebagai contoh Brasil dalam melakukan implementasi bioethanol, mendorong otomotif manufacturing untuk mengikuti market ethanol dan tidak terganggu dengan harga minyak.
 
"Contoh lainnya di Indonesia adalah ketika implementasi CNG terdapat kekhawatiran ATPM untuk menaruh converter kit karena konsistensi aturan yang mudah berubah. Apabila kondisi kebijakan tidak memiliki acuan yang jelas maka harga yang akan menjadi pemicu pasar," ucapnya.
 
Lebih lanjut, ia mengatakan, Pertamina memiliki potensi untuk masuk dalam bisnis kendaraan listrik ini. Menurutnya Pertamina memiliki beberapa project jangka Panjang seperti RDMP, green refinery, dan beberapa proyek lainnya. Namun dengan keterbatasan belanja modal maka harus adanya optimasi alokasi ke arah yang sesuai dengan transisi energi.
 
"Beberapa contoh pada perusahaan minyak dan gas lain seperti Exxon tetap fokus ke oil & gas namun untuk perusahaan lain seperti Equinor masuk banyak ke NRE karena sejalan dengan arah pemerintahnya. Sementara BP masuk ke bisnis NRE karena adanya permintaan dari investor yang aktif sebagai aktivis lingkungan," tukasnya.
 
Market Baru bagi Perusahaan Pembiayaan
 
Munculnya kendaraan listrik tentu menjadi market baru bagi perusahaan pembiayaan. PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance), misalnya, menyambut baik rencana pemerintah yang memberikan stimulus terhadap perkembangan kendaraan listrik di Tanah Air. Dalam konteks ini, WOM Finance siap mendukung dari sisi pembiayaan.
 
"Ini ada produk baru (kendaraan listrik). Kami bisa memberi variasi produk yang banyak untuk dipilih masyarakat. Kalau dari diler jualan kendaraan listrik maka kita menyambut baik. Tapi kita juga melihat bagaimana risiko-risikonya," kata Direktur WOM Finance Zacharia Susantadiredja, kepada Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 26 Juli 2019.
 
Walau memunculkan market dan peluang, namun tetap ada risiko-risiko yang timbul dari membiayai kendaraan listrik yang patut diperhatikan dengan cemat agar tidak menimbulkan efek negatif dikemudian hari. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah menilai harga jual dari kendaraan listrik.
 
"Karena kan ketika kendaraan listrik dibeli ada juga harga jualnya. Kita harus mengakses risiko-risikonya supaya baik dari sisi risiko kreditnya," tuturnya.
 
Sementara itu, Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli mengaku, selama kendaraan listrik yang hadir di Tanah Air memiliki sistem kepemilikan yang sama dengan kendaraan berbahan bakar fosil maka tidak menjadi masalah bagi perusahaan pembiayaan. "Selama bisnis modelnya ada BPKB tidak ada masalah. Karena bisnis inti kita itu kan kepemilikan," tuturnyam kepada Medcom.id.
 
Meski demikian, ia menekankan, persoalannya adalah bagaimana industri pendukungnya dari kendaraan listrik itu ada di Indonesia. "Pertanyaannya kalau mobil listrik itu industri turunannya bagaimana. Karena kan tidak ada piston dan semacamnya. Tapi selama ada keharusan BPKB dan lainnya kita tidak masalah dalam membiayainya," tukasnya.
 
Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila menambahkan insentif fiskal yang diberikan pemerintah terkait kendaraan listrik harus dicermati apakah berdampak terhadap murahnya atau terjangkaunya kendaraan listrik oleh masyarakat atau tidak.
 
"Kendaraan listrik itu kan sekarang jadi tren dunia. Cuman kan kendaraan listrik masih mahal. Kalau itu sudah semua ekonomis maka bisa menjadi pertimbangan yang serius dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan BBM. Selama masih mahal maka tetap ekslusif. Tapi yang pasti kita akan bekerja sama dengan diler dan tergantung dari permintaan," pungkasnya.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif