Ilustrasi SPBU B30 Pertamina. Foto: dok Pertamina.
Ilustrasi SPBU B30 Pertamina. Foto: dok Pertamina.

Manfaat B-30

Ekonomi analisa ekonomi
Media Indonesia • 27 Desember 2019 14:29
PERESMIAN penggunaan biodiesel B-30 oleh Presiden Joko Widodo memberi banyak arti bagi kita sebagai bangsa. Pertama, kita bisa menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa ini.
 
Selama ini kita merasakan betapa sulitnya untuk bisa bersatu. Semua selalu berpikir kepentingan sendiri. Namun, dalam penggunaan B-30, semua mau saling mendukung. Sejak ide B-30 diluncurkan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia bersepakat ikut terlibat.
 
Tujuh agen tunggal pemegang merek menyediakan kendaraan untuk mengetes penggunaan B-30. Pada jenis mobil pribadi, tes perjalanan dilakukan untuk jarak 50 ribu km. Untuk jenis truk, tes perjalanan menempuh jarak 40 ribu km.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dukungan Gaikindo sangatlah penting karena merekalah yang kelak menggunakan produk B-30. Ternyata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan hasil tes perjalanan menunjukkan penggunaan B-30 masih dalam toleransi baik untuk kemampuan mesin ataupun perawatannya.
 
Dengan lampu hijau yang diberikan Gaikindo, manfaat kedua yang bisa kita dapatkan ialah penghematan devisa akibat impor solar. Selama ini penggunaan solar setiap tahun sekitar 15 juta kiloliter. Dengan 30 persen berasal dari biofuel, berarti ada sekitar 4,5 juta kiloliter yang kita gunakan dari produk terbarukan asal dalam negeri.
 
Penghematan itu nilainya tidak kecil. Setidaknya Rp20 triliun devisa yang bisa dihemat. Di sinilah manfaat ketiga bisa kita petik, yakni ada devisa sebesar Rp20 triliun yang bisa memutar kegiatan ekonomi di dalam negeri. Setidaknya pengusaha, petani, dan mereka yang bekerja di perkebunan kelapa sawit dan produsen biofuel bisa mendapatkan pekerjaan.
 
Sekarang ini produksi biofuel di dalam negeri sekitar 11,6 juta kiloliter setiap tahun. Selama ini mereka kesulitan mengekspor biofuel karena terkena tuduhan dumping. Dengan 40 persen terserap di dalam negeri, berarti kepastian pemasarannya membuat para produsen bisa bernapas.
 
Manfaat keempat yang bisa kita petik ialah kita lebih percaya diri dalam menghadapi boikot negara-negara Uni Eropa. Presiden Jokowi sudah menegaskan untuk melawan tindakan diskriminatif UE. Bahkan, Presiden memerintahkan menyewa pengacara terbaik untuk melawan perlakuan yang tidak adil dari UE tersebut.
 
Kekompakan yang kita perlihatkan di dalam negeri merupakan kunci untuk menghadapi turbulensi di dunia sekarang ini. Apabila kita bisa terus bersatu dan mau melihat persoalan dari aspek yang lebih luas, kita akan lebih resilient menghadapi gejolak perekonomian global.
 
Inilah yang kita harapkan bisa terus dilakukan pemerintah. Pemerintah harus berada di depan untuk menentukan arah besar yang ingin kita kerjakan. Semua itu didasari kepentingan nasional, bukan oleh agenda-agenda bangsa lain.
 
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang sekadar menjadi pembebek. Kita ikut saja agenda orang lain tanpa mau memahami apa persoalan yang sebenarnya kita hadapi.
 
Kita harus sadar negara ini masih tergolong negara berkembang. Yang kita butuhkan sekarang ialah bagaimana membuat lebih banyak warga bangsa ini mempunyai pekerjaan. Setelah itu, baru secara bertahap kita memperbaiki diri untuk menjadi negara industri maju.
 
Tidak ada negara yang langsung melompat menjadi negara maju. Negara-negara Eropa pun bisa menjadi sekarang juga melalui perjalanan sangat panjang. Mereka bahkan sudah merusak lingkungannya agar bisa menjadi negara maju.
 
Sekarang baru mereka berteriak-teriak soal lingkungan. Mereka manfaatkan lembaga swadaya masyarakat menjadi kelompok penekan. Kita tentu tidak berniat juga merusak lingkungan. Akan tetapi, jangan pula kita ditekan untuk tidak boleh meraih kemajuan dengan ditakut-takuti soal lingkungan.
 
Presiden kadang harus turun tangan sendiri untuk membuat semangat Indonesia Incorporated itu berjalan. Pengalaman untuk mendorong penggunaan B-30 merupakan bukti bahwa dengan pengawalan yang ketat, tidak ada yang tidak mungkin dikerjakan bangsa ini. (Podium)
 
Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group

 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif