Ilustrasi pengguna MRT. (FOTO: MI/Pius Erlangga)
Ilustrasi pengguna MRT. (FOTO: MI/Pius Erlangga)

Era Baru Jakarta

Ekonomi analisa ekonomi
27 Maret 2019 14:20
SEBUAH era baru dimulai sejak Minggu, 24 Maret 2019 di Jakarta. Moda raya terpadu (MRT) yang diresmikan Presiden Joko Widodo melengkapi moda transportasi massal yang dibutuhkan untuk mobilitas warga Ibu Kota. Dengan jumlah penduduk sekitar 14 juta pada waktu jam kerja, Jakarta membutuhkan manajemen transportasi yang canggih agar tercipta efisiensi dan efektivitas.
 
Apa yang terjadi Minggu lalu memang baru langkah awal. Masih dibutuhkan langkah besar lainnya untuk mewujudkan mimpi besar memiliki sistem transportasi massal yang bisa diandalkan warga Jakarta.
 
Presiden sudah menyampaikan, diperlukan 10 tahun waktu tambahan untuk membangun jaringan MRT agar bisa menjangkau seluruh pelosok Ibu Kota. Masih harus kita bangun infrastruktur jaringan sepanjang 231 km dengan biaya yang akan menghabiskan dana sekitar Rp571 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sambil berjalannya waktu, kita juga harus mulai membangun budaya baru. Budaya untuk mau ikut merawat fasilitas publik ini agar selalu bersih dan rapi. Budaya untuk tertib dalam mengantre maupun disiplin terhadap waktu.
 
Sebelum peresmian MRT, sempat ramai diberitakan bagaimana warga menjadikan stasiun MRT sebagai tempat rekreasi. Mereka membawa tikar dan makan-makan di dalam stasiun sehingga menimbulkan sampah. Sementara itu, di dalam kereta, beberapa orang melakukan 'vandalisme' dengan cara bergelantungan maupun menginjak-injak kursi tempat duduk penumpang.
 
Perbaikan perilaku itulah yang harus selalu kita gaungkan. Kita harus mampu membangun sebuah peradaban baru. Kita harus bisa seperti masyarakat Kota Tokyo atau Singapura yang mampu membuat fasilitas umum terawat baik. Jangan seperti masyarakat London atau New York yang membuat kereta bawah tanahnya kotor dan penuh dengan coretan.
 
Kita tentu tidak perlu berkecil hati karena semua itu tidak sekali jadi. Yang penting kita sama-sama menjaga kesadaran untuk bagaimana menjadikan MRT dan angkutan massal yang sudah ada sekarang ini menjadi sarana yang menciptakan kenyamanan bagi kita semua.
 
Kita harus sadar apa yang kita bangun ini ialah untuk kepentingan masa depan kita bersama. Kalau kita memiliki sistem transportasi yang baik dan integrasi, pergerakan kita akan semakin cepat. Dengan itulah, maka kita sama-sama akan bisa merasakan arti efisiensi bagi kehidupan kita.
 
Apalagi kalau kita kemudian sama-sama bisa membangun kota yang aman. Seperti orangtua di Tokyo yang tidak pernah merasa takut apabila anaknya bepergian. Sampai dini hari pun tidak ada yang akan mengganggu meski kita hanya berjalan sendirian.
 
Di tengah kondisi masyarakat yang penuh ketidakpercayaan, memang dibutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan. Seperti ketika hendak membangun bus TransJakarta, banyak penentangan yang harus dihadapi Gubernur Sutiyoso. Hanya karena sikapnya yang teguh, Sutiyoso tetap berjalan dan sekarang kita memiliki sarana bis trans-Jakarta yang melayani hingga seluruh wilayah Jakarta.
 
Ketika MRT hendak dibangun, kita melihat bagaimana hambatan yang juga muncul. Gubernur Sutiyoso dan Fauzi Bowo tidak bisa mengeksekusi karena di tingkat pemerintah pusat pun masih ada keberatan karena investasi yang akan membebani anggaran pendapatan dan belanja negara. Gubernur Joko Widodo akhirnya berani mengambil risiko untuk memulai proyek pembangunan dan merealisasikan rencana yang sudah dibahas sejak 1985 itu.
 
Butuh waktu enam tahun untuk membuat MRT benar-benar menjadi nyata sejak peletakan batu pertama dilakukan. Itu pun masih terhambat oleh penetapan tarif yang belum kunjung diputuskan Pemerintah Provinsi dan DPRD Jakarta. Itulah yang membuat mengapa operasi MRT Jakarta akhirnya hampir bersamaan dengan operasi MRT di Hanoi, Vietnam. Padahal, penandatanganan kontrak proyek mereka empat tahun lebih belakangan daripada Indonesia.
 
Pembangunan jalur Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia seharusnya memberi banyak pelajaran kepada kita. Harapannya pembangunan fase kedua dan fase selanjutnya bisa berjalan lebih cepat sehingga dalam periode 10 tahun ke depan benar-benar kita sudah memiliki jaringan dengan panjang rel sejauh 231 km.
 
Syaratnya, cara pandang untuk membangun sistem transportasi massal ini bukan pendekatan profit and loss, sekadar untung atau rugi, melainkan least cost, mana biaya yang termurah untuk kemanfaatan masyarakat banyak. Dengan biaya kemacetan yang setiap tahun mencapai Rp50 triliun dan buruknya kualitas udara karena polusi kendaraan, transportasi massal akan memberikan kemanfaatan yang tinggi bagi kualitas kehidupan kita.
 
Kita harus terus-menerus mengaungkan hal ini agar semua pihak semakin terbuka matanya. Sebagai bagian dari kota metropolitan dunia, Jakarta harus semakin maju. Untuk itu, dibutuhkan para pemimpin yang lebih luas wawasannya agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam cara berpikir yang miopik. (Podium/Media Indonesia)
 
Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif