Ekspor
ilustrasi ekspor impor. (FOTO: ANTARA/Vitalis)
SEJAK awal 1980, Presiden Soeharto menyadari bahwa tidak mungkin Indonesia hanya mengandalkan pada ekspor minyak dan gas. Karena itulah, pemerintah mendorong ekspor nonmigas.

Memang awalnya hanya komoditas sumber daya alam yang diandalkan, tetapi kemudian kita membangun industri manufaktur. Perhatian bagi tumbuhnya industri manufaktur memang luar biasa.

Investasi yang kita lakukan pada masa itu bisa mencapai 32 persen dari produk domestik bruto. Indonesia kemudian dikenal sebagai negara yang unggul dalam produk kayu lapis, pulp, tekstil, dan juga sepatu.

Tidak mengherankan apabila Indonesia kemudian dijuluki sebagai negara industri baru. Kita pun bisa melihat ekspor nonmigas melampaui ekspor migas. Penerimaan devisa tidak lagi bertumpu kepada migas karena energi lebih banyak dipakai untuk menopang industri dalam negeri.

Secara sadar kita berupaya untuk memberi nilai tambah terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Sayang semua bangunan itu goyah ketika krisis ekonomi melanda Asia Timur pada 1997.

Apalagi untuk Indonesia, krisis ekonomi itu diikuti dengan krisis politik dan sosial. Krisis multidimensi menyebabkan perekonomian Indonesia terpuruk dan tumbuh negatif sampai minus 14 persen pada 1999.

Setelah era reformasi kita mencoba untuk bangkit kembali. Namun, pembangunan industri tidak segencar kita lakukan seperti di zaman Orde Baru. Bahkan ketika terjadi booming komoditas pada 2011, kita tidak memanfaatkannya untuk membangun industri yang kukuh.

Kita puas dengan menjual komoditas dalam bentuk mentah. Kalau sekarang Presiden Joko Widodo mengeluhkan soal rendahnya ekspor kita, itu tidak pernah akan bisa terjawab tanpa ada arah pembangunan industri yang jelas.

Dengan pertumbuhan investasi industri yang tahun lalu di bawah tujuh persen, produk apa yang akan kita ekspor? Vietnam yang ekspornya lebih dari USD170 miliar bukan terjadi dalam semalam. Dalam 10 tahun terakhir mereka gencar untuk menarik investasi.

Bahkan industri yang ditinggalkan Indonesia seperti tekstil dan sepatu diberi karpet merah oleh mereka. Kemudahan investasi yang bukan sekadar janji-janji membuat perusahaan seperti Samsung menjadikan Vietnam sebagai basis produksi dan sumbangannya terhadap ekspor mereka mencapai USD50 miliar.



Presiden menyebut juga Thailand sebagai negara yang ekspornya jauh lebih baik daripada kita. Semua itu bisa terjadi karena 'Negeri Gajah Putih' itu sejak lama sudah menetapkan diri sebagai 'Detroit-nya ASEAN'.

Perusahaan otomotif Jepang sudah puluhan tahun menjadikan Thailand sebagai basis produksi untuk memanfaatkan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jadi, kalau Presiden mengharapkan ekspor Indonesia melejit, kita harus berani melakukan kebijakan industrialisasi seperti dilakukan Presiden Soeharto dulu.

Itu harus dimulai dengan menarik investasi secara sungguh-sungguh. Kita juga harus berani menetapkan industri mana yang benar-benar akan dijadikan kekuatan agar investasinya jelas.

Ada data menarik disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong pada Rapat Koordinasi Kementerian Perdagangan. Investasi terbesar kita ternyata bukan datang dari road show yang dilakukan BKPM ke seluruh dunia.




Hampir 40 persen investasi itu dari reinvestasi perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia. Sayangnya, kita sering tidak memperlakukan investor lama sebagai investor yang loyal. Kita justru sering bersikap hostile karena menganggap mereka sudah banyak mendapat keuntungan dari Indonesia dan kurang memberi kepada negara ini.

Sudah banyak investor yang kemudian meninggalkan Indonesia dan ironisnya memindahkan investasi mereka ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Berulang kali kita sampaikan, kita harus menentukan arah pembangunan yang lebih jelas.

Kita pun harus lebih jelas menempatkan peran dunia usaha baik dalam negeri maupun luar negeri dalam menopang pembangunan nasional. Sepanjang kita menempatkan dunia usaha sebagai 'musuh', jangan harap akan masuk investasi seperti yang diharapkan.

Tanpa ada investasi, jangan pernah bermimpi untuk bisa menggenjot ekspor. Sebenarnya kita juga jangan terlalu menggantungkan pada ekspor. Dengan 262 juta penduduk dan lebih 150 juta kelas menengah, pasar Indonesia merupakan pasar yang luar biasa.

Kelas menengah kita 40 kali lebih besar daripada Singapura. Hanya saja, kita sering tidak melihatnya. Kuman di seberang lautan memang mudah tampak, sementara gajah di depan mata tidak terlihat.

Mantan Wakil Presiden Boediono sejak lama mengingatkan agar kita memperkuat ekonomi domestik. Apabila integrasi ekonomi dalam negeri bisa kita bangun, kita akan mempunyai kekuatan luar biasa.

Dengan kekuatan itu, kita akan bisa membangun efisiensi yang lebih baik dan dengan itu lebih mudah masuk pasar ekspor. Tiongkok bisa menjadi kekuatan luar biasa karena mereka pertama-tama memanfaatkan pasar dalam negeri yang mencapai 1,5 miliar jiwa.

Ibaratnya ekspor yang mereka lakukan hanya melempar kelebihan produksi dalam negeri. Tidak usah heran apabila harga produk buatan mereka membanjiri dunia karena harganya jauh di bawah harga produk negara lain.

Memang butuh kecerdikan untuk menjadi negara besar.

Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group




(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id