Menelaah Kekuatan Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
GEJOLAK nilai tukar rupiah selama enam bulan terakhir agaknya sudah memperlihatkan tanda-tanda mereda di saat fenomena superdolar masih terjadi. Sampai minggu pertama November, dolar AS menyusut ke level Rp14.500 setelah beberapa minggu sebelumnya menembus Rp15 ribuan.

Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ketakutan atas perang dagang AS dengan Tiongkok tidak selamanya disikapi sebagai sinyal negatif terhadap prospek pulihnya perekonomian global di masa mendatang. Penafsiran demikian sangat masuk akal lantaran tidak semua sektor terimbas perang dagang.

Di dalam negeri sendiri, berbagai indikator kinerja makroekonomi menunjukkan arah yang positif. Laju inflasi terkendali di sekitar angka target empat persen. Pertumbuhan ekonomi melaju 5,17 persen sedikit lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Momentum rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi pada waktu berdekatan signifikan membangkitkan optimisme.

Kenaikan suku bunga acuan 7-days reverse repo rate (7-DRRR) empat kali sejak Juni juga mulai memperlihatkan dampaknya. Meski sedikit memerlukan tenggat waktu (time lag) yang lebih panjang dari perkiraan, efek kenaikan 7-DRRR tetap bekerja mempersempit suku bunga diferensial lintas negara yang memberikan daya tarik tersendiri bagi investor asing.

Dalam sekup yang lebih luas, kenaikan 7-DRRR dengan akumulasi mencapai 150 basis poin juga memberi efek pada daya saing pasar keuangan domestik khususnya antar-emerging market. Indikasinya, dana asing mulai masuk kembali sehingga cadangan devisa per Oktober mendaki di posisi USD114 miliar.

Implementasi DNDF (domestic non-delivery forward) turut membantu akselerasi penguatan rupiah. DNDF memberi kelonggaran kepada pelaku pasar dalam negeri dalam bertransaksi valuta asing tanpa harus bertukar mata uang asing. Pihak yang membutuhkan dolar cukup membayar selisih kursnya. Artinya, pihak yang butuh dolar tidak harus segera mendapatkan dolar secara tunai.

Pihak yang memiliki dolar juga tidak perlu buru-buru menyerahkan dolarnya. Tekanan permintaan dolar bisa diredam sehingga nilai tukar bisa terkendali. Intinya, DNDF membuat transaksi menjadi lebih efisien.

DNDF dipandang investor asing melawan mainstream.

Pengalaman empiris, di Singapura misalnya, menunjukkan DNDF diterapkan saat normal, sedangkan Bank Indonesia (BI) berani menerapkannya justru saat rupiah sedang bergejolak. Konsisten dengan itu, larangan membawa uang kertas asing tunai melintasi wilayah pabean Indonesia mereduksi arus mobilitas valuta asing. Ringkasnya, spirit a head the curve konsisten dilaksanakan BI.

Di peta perpolitikan dalam negeri AS kebetulan juga terjadi pergeseran. Pemilihan sela di Senat AS dimenangi kubu Partai Demokrat. Partai Republik yang selama ini menjadi pendukung utama kebijakan Presiden Trump tidak lagi mayoritas.




Konsekuensinya, kebijakan ekonomi yang telah digariskan Trump-yang potensial merugikan pasar-berpeluang tidak jadi ditempuh. Kondisi ini niscaya disikapi happy. Alhasil, akumulasi beberapa determinan di atas berhasil mengangkat tidak hanya rupiah, tetapi juga pasar saham.

Fakta di atas membuktikan bahwa faktor fundamental ekonomi yang kuat tetap menjadi acuan pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi portofolio. Faktor sentimen yang sangat ditentukan persepsi tetap ada meski hanya sesaat. Sayangnya, komposisi portofolio jangka pendek masih dominan di pasar finansial.

Dengan konfigurasi problematik di atas, efektivitas kebijakan suku bunga acuan dan DNDF masih akan terus diuji sampai akhir tahun. Suku bunga acuan the Fed diproyeksikan akan dinaikkan lagi 25 basis poin pada Desember. Konsekuensinya, risiko pelarian modal keluar negeri masih tetap terbuka.

Tekanan dari dalam negeri datang dari sektor korporasi dan pemerintah akan naik untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo di akhir tahun. Permintaan dolar untuk liburan Natal, tahun baru, dan Imlek juga perlu diantisipasi yang pada gilirannya akan mengoreksi cadangan devisa.

Koreksi cadangan devisa memunculkan kembali kekhawatiran akan kekuatan BI untuk intervensi pasar. Masuknya BI mengawal pasar valuta asing tetap diperlukan. Hanya, intervensi pasar di saat dolar belum benar-benar stabil menjadi sangat mahal dan seakan terasa amat mubazir.

Harus diingat pula, besaran cadangan devisa ialah indikator utama yang memberi rasa aman bagi pelaku ekonomi asing untuk masuk ke suatu negara. Contoh konkretnya, George Soros memutuskan untuk 'keluar' dari Indonesia menjelang krisis moneter 1997/1998 lantaran cadangan devisa BI dipandang sudah sangat rendah.

Masalahnya persis seperti telur dengan ayam. Penguatan rupiah disebabkan cadangan devisa ataukah ketersediaan cadangan devisa untuk intervensi pasar mendorong stabilitas rupiah. Setiap logika memiliki probabilitas yang sama untuk berlaku dengan implikasi yang berbeda pula.

Arah kausalitas manapun yang cocok untuk menjelaskan karakteristik pasar valuta asing Indonesia, lagi-lagi tergantung pada seberapa baiknya persepsi pelaku pasar terhadap fenomena yang tengah dan yang akan terjadi. Pertimbangan untung-rugi senantiasa menjadi rujukan investor.

Alhasil, kemampuan otoritas moneter mengelola persepsi menjadi kuncinya. Intervensi verbal dalam mengomunikasikan arah kebijakan BI ke depan bisa menjembatani antara bekerjanya faktor fundamental yang berefek dalam jangka panjang dan euforia pasar yang berimbas dalam tempo singkat.

Edukasi kepada pelaku ekonomi agar lebih rasional dalam mencermati kejadian temporer menjadi tugas tambahan otoritas finansial. Pelaku pasar perlu dikondisikan agar mengambil posisi jangka menengah atau panjang alih-alih posisi jangka pendek yang rentan terhadap gejolak.

Bank sentral yang memiliki pengalaman panjang niscaya akan mampu dalam mengelola potensi perubahan persepsi semacam ini. Jika hal ini dapat dituntaskan, konfidensi pasar akan terbangun. Pada akhirnya, gejolak nilai tukar niscaya hanya menjadi 'ombak kecil' di tengah 'lautan' perekonomian yang tenang.

Kegagalan meramu ekspektasi semua pelaku ekonomi mengakibatkan banyak energi terbuang percuma hanya untuk meredam (alih-alih menanggulangi) gejolak eksternal. Pepatah latin mengatakan jika satu orang menginginkan perubahan, itu ialah mimpi. Namun, jika semua orang memimpikan hal yang sama, itu awal dari kenyataan.

Semoga. (Media Indonesia)

Haryo Kuncoro
Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Doktor Ilmu Ekonomi Lulusan PPs-UGM Yogyakarta




(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id