Asa di Balik Keterbatasan
Ilustrasi. (FOTO: MI/Sumaryanto)
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki konsep atau tema besar berkaitan dengan pemerataan pembangunan ekonomi di tahun ini. Pembangunan ekonomi diharapkan tidak hanya Jawa sentris, tetapi juga di timur Indonesia. Tidak hanya itu, pemerataan pembangunan ekonomi diharap pula bisa dirasakan semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Menjadi impian banyak orang, terutama mereka yang ada di timur Indonesia bisa diperhatikan secara intensif oleh pemerintah, terlebih mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Pun mereka yang ada di daerah perbatasan menginginkan adanya kehadiran pemerintah dalam rangka mendapatkan kesejahteraan dan dirangkul erat di pangkuan ibu pertiwi.

Seperti itu juga yang menjadi impian para penyandang disabilitas. Namun sayangnya, para penyandang disablilitas sering dianggap kelas dua dan jarang diperhatikan, terutama ketika mereka mencari pekerjaan di dunia korporasi. Padahal, para penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk diakui keberadaannya dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Salah satu ciri pokok yang terdapat di Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, disamping sebagai konstitusi politik, juga merupakan konstitusi ekonomi dan konstitusi sosial. Hal itu bukan tanpa alasan lantaran UUD 1945 mengatur tentang pokok-pokok sistem perekonomian negara yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Jika menilik konsep besar UUD 1945, sewajarnya setiap individu yang ada diberdayakan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran tanpa pandang bulu, termasuk kepada para penyandang disabilitas. Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa menetes hingga ke level paling bawah dan jangan sampai terhalang di level menengah atau atas.

Mengutip data Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Selasa, 18 September 2018, disebutkan hanya 25 persen penyandang disabilitas di Indonesia yang bekerja, baik di sektor formal maupun sektor informal. Angka ini tidak ditampik terbilang kecil dan sewajarnya harus bisa ditingkatkan di masa mendatang.

Apabila dirinci dari total tersebut, sebanyak 39,9 persen para penyandang disabilitas bekerja sebagai petani, sebanyak 32,1 persen bekerja sebagai buruh, sebanyak 15,1 persen bekerja di sektor jasa, dan sisanya bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wiraswasta. Hanya sedikit penyandang disabilitas yang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Penyandang Disabilitas Memiliki Potensi

Pada dasarnya, para penyandang disabilitas memiliki potensi dan kemampuan yang perlu diakui kontribusinya baik terhadap komunitasnya maupun masyarakat sekitar. Ida Ayu Kencanawati dari Bali, misalnya. Walai terlahir dengan kondisi tubuh berbeda dengan yang lainnya, namun ia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri dan tetap asa di balik keterbatasan.

Kesulitan mencari sumber mata pencaharian dikarenakan kondisi tubuhnya yang mengalami dwarfisme tidak membuat Ida Ayu Kencanawati patah arang, setiap tantangan pun berhasil dia lewati. Adapun dwarfisme adalah suatu kondisi kelainan yang ditandai dengan tinggi tubuh yang pendek akibat kelainan medis atau genetis.

Meski memiliki keterbatasan, namun hingga suatu hari Ida mendapatkan kepercayaan untuk diterima bekerja di sebuah pusat kerajinan tangan dan properti di daerah Ubud, Bali, yang di kelola oleh warga negara asing.

Seluruh tenaga dan pikiranya dia curahkan untuk selalu memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan tempat dia bekerja. Hebatnya, keinginannya untuk dapat berkembang tidak berhenti sampai di situ saja. Dia mempunyai mimpi besar untuk dapat mempunyai bisnis atau usaha sendiri.

Dalam perjalanannya, Ida memang harus jatuh bangun. Usaha properti yang dijalankan, misalnya, belum membuahkan hasil. Namun, kondisi tersebut justru membawa Ida kepada ide proyek lain seperti proyek tur bagi wisatawan luar negeri. Tidak hanya itu, dia juga mendapatkan ide untuk membuat tas dari bahan–bahan yang tidak terpakai.

Tas tersebut pun laris manis sejalan dengan metode pemasaran menggunakan sosial media dan komunikasi dari mulut ke mulut. Bahkan, Ida menggunakan konsep agen dan reseller untuk membantu meningkatkan penjualan tasnya. Kini rata-rata pendapatan Ida per bulan mencapai Rp30 juta.

Ida Ayu Kencanawati tidak sendiri. I Made Wahyu Dhiatmika dari Bali juga di antara penyandang disabilitas yang mampu menunjukkan kemandirian di tengah keterbatasan. I Made Wahyu Dhiatmika menderita distrofi otot ketika ia berusia 10 tahun. Distrofi otot adalah sebuah penyakit yang membuat otot semakin melemah.

Namun, distrofi otot bukan penghalang baginya. Tumbuh di keluarga yang memiliki energi positif membuat dirinya tumbuh menjadi seseorang yang ceria dan tetap bersemangat di tengah keterbatasan. Meski memiliki kondisi yang berbeda dengan orang pada umumnya, I Made Wahyu Dhiatmika menolak jika disebut tidak berdaya dan tidak mandiri.

Awalnya, hanya dengan modal secukupnya I Made Wahyu Dhiatmika membuka warnet dengan mengandalkan tiga komputer yang berlokasi di seberang jalan tempat di mana dia tinggal di daerah Tabanan. Melalui perjuangan dan seiring waktu, usaha warung internetnya kini sudah memiliki 10 komputer dan merambah berjualan aksesoris komputer serta perakitan komputer.

Tidak fokus hanya dari satu kantong saja, I Made Wahyu Dhiatmika pun memberikan jasa konsultasi untuk pembuatan website dan konsultasi pembuatan warnet. Sekarang ini, dengan pendapatan yang dimiliki, dia sudah mampu membantu kebutuhan biaya hidup keluarga. Kini, I Made Wahyu Dhiatmika mampu memiliki pendapatan Rp31,5 juta per bulan.

Sementara itu, menjadi penyandang disabilitas juga bukan perkara mudah bagi Selestina Febronia yang tinggal di Makassar. Perempuan berusia 45 tahun ini mengaku sering menerima perlakuan yang tidak adil dan mendapatkan tekanan dari lingkungan sekitar. Selestina mengalami disabilitas pada kaki kanannya disebabkan kecelakaan sepeda motor yang dialaminya.

Meski demikian, perempuan asal Flores ini tidak mau kejadian pahit yang telah merenggut salah satu kakinya itu menghancurkan mimpinya. Kini, Selestina memiliki usaha rental game yang sudah digeluti selama dua tahun. Namun, ia tidak menampik, usaha rental game tersebut tidak tumbuh maksimal sesuai keinginan.

Namun, usai mengikuti sebuah program pemberdayaan, ia mendapatkan angin segar dan terdorong untuk berinovasi dalam usahanya tersebut yakni mulai dari menambahkan produk yang mendukung seperti makanan, snack, dan minuman. Selain itu, Selestina juga menerapkan kegiatan promosi seperti mengadakan program member, kompetisi, dan paket–paket.

Tidak hanya itu, Selestina pun mempunyai tekad untuk memperjuangkan kehidupan para penyandang disabilitas terutama di Makassar dengan aktif berorganisasi dan membantu melayani para penyandang disabilitas lain agar dapat saling memberikan kesejahteraan kehidupan mereka.

Kini, rata-rata pendapatan per bulan Selestina mencapai Rp9 juta sesudah mendapatkan program pembinaan kewirausahaan dan keuangan kepada para penyandang disabilitas atau naik dibandingkan sebelum mengikuti program tersebut yang sebesar Rp3 juta per bulan.

Sedangkan di Medan, ada Nurhayati Daulay. Perempuan yang tinggal di Deli Serdang, Sumatera Utara ini juga mengalami perlakuan yang senada dengan penyandang disabilitas lainnya yakni sering mendapatkan diskriminiasi dan dipandang sebelah mata. Bahkan, ia pernah kesulitan mencari teman yang mau menerima dan mendukungnya di saat susah dan senang.

Selama hidupnya, Nurhayati sudah mengalami pasang surut kehidupan. Dimulai dari kisahnya sewaktu kecil, di mana dia harus menerima kenyataan pahit bahwa dia mengalami polio
dan harus kehilangan kemampuan motorik pada salah satu kakinya, hingga terus mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya patah semangat. Berbekal keterampilan menjahit yang dipelajari dari pelatihan yang diselenggarakan Dinas Sosial membuat dirinya bisa membuktikan bahwa ia mandiri dan berdaya di tengah keterbatasan. Bahkan, Nurhayati sempat bekerja dengan orang lain dan sekarang ini telah membuka usaha kursus menjahit sendiri.

Tidak hanya itu, Nurhayati sempat bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk menjadi tenaga pengajar bagi komunitas-komunitas yang kurang mampu. Dan di April 2018, Nurhayati mengikuti program pembinaan kewirausahaan dan keuangan kepada para penyandang disabilitas. Program ini yang membuat semangat Nurhayai kembali bergelora.

Usai mengikuti program, Nurhayati memutuskan membuka jasa menjahit bagi orang lain. Di pagi hari dia mengajar dan mulai menjahit pada malam hari. Dia mulai banyak mendapatkan pelanggan–pelanggan besar seperti para guru dan sekolahan. Kondisi itu membuat dirinya mendapatkan peningkatan pendapatan yang cukup besar sehingga dia bisa mulai menabung.

Pencapaian Ida, Wahyu, Selestina, dan Nurhayati tidak terlepas dari program pemberdayaan atau Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship (RISE) dari PT Maybank Indonesia Tbk. Adapun Ida, Wahyu, Selestina, dan Nurhayati hanya sebagian kecil dari penyandang disabilitas yang menerima manfaat program RISE dari Maybank Indonesia.

Program RISE merupakan pembinaan kewirausahaan dan keuangan kepada para penyandang disabilitas yang bertujuan membangun dan meningkatkan kapabilitas usaha para penyandang disabilitas. Program ini ada di 15 kota, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bali, Tangerang, Bogor, Malang, Medan, Makassar, Depok, Solo, Magelang, Bandung, Lombok, Surabaya dan Bekasi.

Program RISE membantu penyandang disabilitas melahirkan banyak ide baru yang dipergunakan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Program ini terdiri dari pelatihan dan mentoring terstruktur yang bertujuan membangun dan meningkatkan kapabilitas usaha para penyandang disabilitas sehingga dapat memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitarnya.

"Maybank Indonesia konsisten memberikan perhatian kepada individu maupun komunitas wirausaha penyandang disabilitas dengan berbagai program yang bertujuan meningkatkan semangat pantang menyerah, percaya diri, dan meningkatkan keterampilan hingga meningkatkan kapasitas usaha," kata Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria. 

Penyandang Disabilitas Perlu Program Khusus

Tidak ditampik, penyandang disabilitas memerlukan program khusus untuk membantu mereka memaksimalkan potensi yang dimiliki, lebih berdaya, dan mampu memberikan inspirasi positif bagi komunitas dan masyarakat. Bahkan, peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta penting agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh mereka.

Sementara itu, Deputi Menteri Bappenas bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Pungky Sumadi mengungkapkan, penyebab masih rendahnya penyandang disabilitas yang aktif bekerja disebabkan oleh sudut pandang masyarakat serta dunia kerja. Mereka masih sering dipersepsikan tidak akan mampu mandiri apalagi bekerja selayaknya warga normal.

"Ini lah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia jika ingin menghadirkan tenaga kerja inklusif," kata Pungky.

Dalam hal ini, pemerintah berencana mengejar penerbitan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) turunan dari Undang-Undang No 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. RPP ini diharapkan mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk aktif mendata penyandang disabilitas guna memudahkan menyusun kebijakan yang lebih baik lagi.

"Diharap melalui RPP ini pemerintah mampu berbuat lebih banyak," kata Pungky.

Salah satu kebijakan lain yang bisa dilakukan, lanjutnya, adalah menekan pengusaha agar mau terbuka terhadap tenaga kerja penyandang disabilitas dan memenuhi aturan mempekerjakan penyandang disabilitas sebanyak minimal satu persen dari total pekerja.

Tidak hanya itu, tambahnya, pemerintah juga berupaya mengubah cara pandang dan sikap masyarakat terhadap penyandang disabilitas termasuk mengubah cara pandang penyandang disabilitas agar bisa lebih berdaya. Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

"Melalui program ini, pemerintah ingin mengubah sedikit demi sedikit sudut pandang bahwa penyandang disabilitas harus aktif baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga serta masyarakat," pungkasnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id