Mendorong Ekonomi via Asian Games
Beberapa tempat salah satunya seperti di halte TransJakarta dijadikan ajang promosi Asian Games 2018. (FOTO: ANTARA/Sigid Kurniawan)
PERHELATAN akbar Asian Games 2018 sudah di depan mata. Tak lama lagi, para tamu dan atlet-atlet bergengsi se-Asia akan menyerbu Indonesia selaku tuan rumah. Pesta olahraga antarnegara di kawasan Asia itu digelar di Jakarta dan Palembang.

Indonesia tak perlu khawatir lantaran bukan pertama kalinya menjadi tuan rumah. Pada 1962, Indonesia pernah ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games ke-IV. Bisa dibayangkan, saat itu Indonesia baru 17 tahun menghirup kemerdekaan dan belum memiliki infrastruktur yang memadai.

Presiden Soekarno pun nekat melakukan pinjaman sebanyak USD12,5 juta dari Uni Soviet. Uang itu dipakai untuk membangun Stadion Utama GBK, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, Patung Selamat Datang, Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI), mal Sarinah, hingga pernak-pernik yang melengkapi kompleks olahraga di Senayan.

Lewat infrastruktur yang diwariskan Soekarno, pemerintah tak perlu merogoh kocek lebih banyak. Pemerintah hanya mengalokasikan Rp4,5 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mempercantik Stadion Utama GBK, Stadion Jakabaring, perbaikan jalan, sarana transportasi, hingga pembangunan wisma atlet dan Light Rapid Transit (LRT). Jika ditotal, Indonesia akan menghabiskan Rp5,6 triliun sudah termasuk pajak dan sponsor demi menyukseskan event olahraga multicabang tersebut.

Upaya ini tak cuma mendongkrak image Indonesia di mata dunia. Namun ada aspek ekonomi yang akan menguntungkan berbagai lapisan masyarakat. Selain lapangan pekerjaan yang terbuka lebar, dampak pariwisata dari ratusan ribu pengunjung tentunya bakal menggenjot pendapatan dan daya beli masyarakat.

Berkaca dari penyelenggaraan Asian Games XIV di Busan, Korea Selatan, Pemerintah setempat hanya mengeluarkan belanja modal sebesar 3,15 triliun won atau setara Rp41 triliun. Kemudian ia meraup untung sebesar 60,9 miliar won atau setara Rp792 miliar. Sebelumnya, Asian Games XIII di Bangkok, Thailand juga memberikan keuntungan bagi tuan rumah. Pemerintah Thailand mengeluarkan biaya operasional sebesar 2,67 miliar baht atau setara Rp11,6 triliun dengan mendapatkan surplus sebesar 60 juta baht atau setara Rp26 miliar.

Selanjutnya, Olimpiade Musim Panas ke-27 di Sydney Australia telah mendorong ekonomi New South Wales meningkat sampai USD490 juta per tahun. Dampak olimpiade terhadap ekonomi Australia sendiri mencapai USD6,5 miliar dan lapangan pekerjaan meningkat rata-rata 7.500 per tahun.

Adapun dampak ekonomi langsung terhadap Indonesia dalam gelaran Asian Games 2018 diperkirakan sebesar Rp45,1 triliun. Jumlah itu termasuk perkiraan biaya konstruksi fasilitas pendukung, pengeluaran pengunjung maupun biaya operasional.

Berdasarkan perhitungan sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pengeluaran pengunjung selama tinggal di lndonesia bisa menembus Rp3,6 triliun. Sedangkan akomodasi diperkirakan menjadi komponen pengeluaran terbesar yang mencapai Rp1,3 triliun. Angka itu dipercaya akan lebih besar lagi jika dihitung berdasarkan data riil setelah gelaran Asian Games 2018 rampung.

"Untuk dampak tidak langsung terhadap ekonomi Indonesia masih dihitung oleh Bappenas," kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pada Senin, 30 April 2018.




Di sisi lain, Asian Games bakal mendatangkan devisa dari 300 ribu pengunjung mancanegara. Potensi penerimaan devisa diperkirakan mencapai USD230 juta atau sekitar Rp3 triliun.

Kementerian Pariwisata meramal 150 ribu penonton wisatawan mancanegara akan berbelanja masing-masing sebesar USD1.200  selama tujuh hari di Indonesia. Total proyeksi devisa dari penonton adalah sebesar USD180 juta.

Sementara 20 ribu atlet, official, dan media akan menyumbangkan devisa masing-masing sebesar USD2.500 atau total keseluruhan sebesar USD50 juta. Kelompok tersebut diasumsikan akan tinggal selama 18 hari di Indonesia.

Ekonom Universitas Indonesia  Faisal Basri menilai ajang Asian Games 2018 tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Pasalnya kegiatan olahraga ini hanya digelar di Jakarta dan Palembang. Namun demikian, peningkatan stok modal sebagai imbas dari pembenahan berbagai infrastuktur serta sarana dan prasarana olahraga bakal memberikan dampak dalam jangka panjang.

Di samping itu, ajang ini dipercaya dapat mendongkrak prestasi atlet dan memberikan kesempatan bagi kontingen Indonesia untuk berbicara lebih banyak di level Asia.

"Enggak ngefek secara nasional engga signifikan. Tapi berdampak jangka panjang lantaran terjadi peningkatan stok modal. Mudah-mudahan ke depan dipelihara ya soalnya saya kemarin ke Pekanbaru, semua fasilitas yang dibangun untuk PON enggak terpakai," kata Faisal saat ditemui Medcom.id.


Pernak-pernik Asian Games. (FOTO: ANTARA)

Asian Games 2018 Jadi Ajang Promosi Produk Industri Lokal

Momen pesta olahraga terbesar se-Asia ini telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi berbagai lapisan masyarakat. Sedikitnya 500 sampai 1.000 orang Indonesia dikontrak untuk menjadi pegawai selama tiga bulan. Ada yang bekerja sebagai panitia, relawanhingga tukang bangunan.

Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir mengatakan ajang Asian Games juga bakal menjadi momentum bagi industri lokal untuk mempromosikan produk mereka ke level internasional.

Sedikitnya 400 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia terlibat. Mereka digandeng oleh 17 pemegang lisensi resmi khusus untuk pembuatan produk merchandise Asian Games 2018. Dari jumlah itu, 15 lisensi merupakan perusahaan lokal di antaranya, Sritex dan Brodo. Sementara dua pemegang lisensi dari luar negeri yakni Royal Selangor dan Giordano.

Perusahaan-perusahaan pemegang lisensi dipastikan telah melalui seleksi ketat berupa kualitas produk, ketersediaan produk yang dapat diterima pasar, serta kredibilitas perusahaan. "85 persen lokal karena rasa nasionalisme enggak usah dipertanyakan, kita ingin produk Indonesia dan masyarakatnya juga," tutur Erick pada Rabu, 30 Mei 2018.

Direktur Merchandise Panitia Pelaksana Asian Games 2018 Mochtar Sarman menambahkan, pihaknya memprioritaskan perusahaan dan UMKM nasional untuk menjadi pemegang Iisensi merchandise resmi dengan 350 desain produk. Kategori produk tersebut  di antaranya kerajinan tangan anyaman, fesyen, makanan, dan minuman.

Pernak pernik dan fesyen Asian Games ini dipatok dengan harga bervariasi mulai dari Rp15 ribu hingga Rp3 juta. Masyarakat bisa memperolehnya secara online di website resmi Asian Games 2018 maupun booth resmi yang tersebar di 20 mal di Jakarta.

Kerja sama bisnis antara pemegang lisensi dengan panitia INASGOC tersebut murni sistem bagi hasil bukan menggunakan dana APBN. Di mana bagian untuk panitia dari hasil penjualan merchandise akan diserahkan ke negara.

"Hasil dari penjualannya akan langsung diserahkan ke negara dan digunakan untuk kepentingan rakyat,” katanya Rabu, 30 Mei 2018.


Merchandise produk lokal siap dipasarkan meramaikan Asian Games 2018. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Salah satu pemegang lisensi merchandise resmi, CO Founder&Chief Marketing Officer Duanyam Melia Winata mengatakan rata-rata souvenir anyaman yang dijual berkisar antara Rp30 ribu sampai Rp350 ribu. Kerajinan tangan anyaman daun lontar ini dikerjakan oleh 450 ibu rumah tangga dari Flores, Nusa Tenggara Timur.

Rencananya, Duanyam akan memproduksi 3.000 item khusus untuk merchandise Asian Games 2018. Melia mengatakan kenaikan produksi meningkat signifikan lima kali lipat semenjak resmi menjadi lisensi Asian Games.

"Sejak Asian Games 2018, sebulan produksi meningkat cukup signifikan," ungkap Melia kepada Medcom.id.

Selanjutnya, M Yukka, salah satu mitra yang juga produsen sepatu asal Bandung, Brodo, akan memproduksi 5.000 pasang sepatu khusus untuk pesta olahraga ini. Sepatu yang mereka produksi tersebut terinsipirasi dari maskot Asian Games 2018 dengan menyematkan berbagai simbol dan budaya Indonesia.

"Kami membuat produk sepatu boots yang terinspirasi dari Kaka (maskot Asian Games 2018), perlambang kekuatan, sepatu running yang terinspirasi dari Atung, berlambang kecepatan," ujar Yukka.

Dengan begitu, dana yang digelontorkan pemerintah tentu tak seberapa dari potensi ekonomi yang akan diperoleh Indonesia. Khususnya dalam mempromosikan produk lokal Indonesia ke kancah internasional.

 



(AHL)