Membangun Visi Pariwisata Halal Indonesia Kelas Dunia
Wakil Ketua Umum MES DKI Jakarta Syariah Safri Haliding. (FOTO: Dokumentasi MES DKI Jakarta)
PARIWISATA memiliki peranan penting dalam pembangunan dengan kontribusi yang sigifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data WTTC (2016) dan World Bank (2016) sektor pariwisata berkontribusi 10 persen terhadap PDB nasional tertinggi di ASEAN, di mana PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8 persen dengan tren naik sampai 6,9 persen, jauh lebih tinggi daripada dari sektor lain seperti industri agrikultur, manufaktur, otomotif dan pertambangan dengan kontribusi devisa pariwisata USD1 juta, menghasilkan PDB USD1,7 juta atau 170 persen dan masih tertinggi dibandingkan industri lainnya.

Selain itu, sektor pariwisata berkontribusi 9,3 persen terhadap devisa nasional dengan pertumbuhan 13 persen tertinggi dibandingkan dengan industri lainnya seperti industri minyak gas bumi, batu bara, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif dan diasumsikan biaya investasi ke sektor pariwisata dapat memberikan return atau keuntungan sebesar 10 kali dari nilai investasi dan biaya marketing yang diperlukan hanya dua persen dari proyeksi devisa yang dihasilkan.

Sementara itu Kementerian Pariwisata dan Bank Dunia mencatat di 2016 dampak sektor pariwisata juga terhadap tenaga kerja sangat tinggi dimana pariwisata berkontribusi terhadap 9,8 juta lapangan kerja atau sekitar 8,4 persen terhadap bursa kerja nasional dari seluruh sektor industri yang berada di urutan ke-4 dengan pertumbuhan penciptaan lapangan kerja 30 persen dalam lima tahun dan salah satu sektor yang termurah dalam menciptakan lapangan kerja yaitu USD5.000 per satu pekerjaaan, dibanding rata-rata industri lainnya sebesar USD100 ribu per satu pekerjaan.

Dengan begitu besar peran dan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional maka pemerintah harus terus mendorong dan mengembankan dunia pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pemerintah agar semakin signifikan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Hal ini karena ini Indonesia memiliki potensi keindahan alam yang tersebar ke seluruh penjuru negeri dari Sabang sampai Merauke yang tidak dimiliki oleh negara lain dan dukungan sumberdaya alam dan budaya yang melimpah serta potensi pasar domestik dan internasional yang signifikan merupakan faktor pendukung yang dapat menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata kelas dunia.

Menuju Visi Pariwisata Halal Kelas Dunia Berkelanjutan

Di sisi lain salah satu potensi bagian dalam dunia pariwisata yang saat ini sedang tumbuh dan belum maksimal dikembangkan oleh pemerintah adalah pariwisata halal. Hal ini karena potensi pariwisata halal di Indonesia memiliki potensi besar dengan penduduk yang beragama Islam sebesar 225,25 juta jiwa dan Pew Research Center Demographics Projections mencatat penduduk muslim dunia sebesar 1,8 miliar dari 7,8 penduduk dunia, dengan jumlah belanja wisata di 2015 sebesar USD151 miliar dan diproyeksikan di 2012 sebesar USD243 miliar belanja wisata penduduk muslim dunia.

Oleh karena itu, Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia sudah seharusnya menggarap sektor pariwisata dengan kualitas kelas dunia sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar dan penonton di industri pariwisata halal. Membangun visi pembangunan pariwisata halal dunia sangat penting baik jangka pendek dan jangka panjang dengan memaksimalkan potensi keindahan alam, sumber daya alam dan budaya yang melimpah serta lingkungan secara optimal, dengan mempertimbangkan daya dukung alam, ekologi, sosial, dan infrastruktur destinasi, akan menciptakan kenyamanan tidak hanya bagi wisatawan akan tetapi juga bagi komunitas setempat.

Berdasarkan data Bappenas di 2016, jumlah wisatawan mampu menembus angka 12 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, Indonesia berada di peringkat keempat, di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan kewarganegaraan, Singapura, Malaysia dan Tiongkok adalah tiga kontributor wisatawan mancanegara terbesar. Sedangkan dari luar Asia terdapat, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Masih rendahnya kunjungan wisman ke Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya harus menjadi perhatian semua pihak khususnya pariwisata halal yang harus digarap dengan serius. Dengan begitu besar potensi ekonomi industri halal Tanah Air sehingga sangat penting untuk dikembangkan dengan berbagai strategis menuju wisata halal kelas dunia.

Adapun langkah strategis tersebut harus mencakup 3 A atau Attraction, Accessibility, dan Amenities yang tercermin dalam dukungan kebijakan dan peraturan terkait dengan pariwisata halal, sosialisasi, standarisasi, dan sertifikasi. Pemerintah harus menetapkan prioritas lokasi wisata halal kelas dunia dengan menetapkan kategori seperti wisata alam; wisata budaya; wisata buatan yang dapat ditetapkan sebagai tujuan destinasi halal standar internasional.

Selain itu, pentingnya melakukan pengembangan infrastruktur dan ekosistem pariwisata halal bertaraf internasional. Dukungan infrastruktur standar internasional sangat penting dalam menunjang destinasi dengan membangun sarana transportasi (moda transportasi angkutan jalan, sungai, danau dan penyeberangan, angkutan laut dan kereta api), prasarana transportasi (pelabuhan laut, bandara, stasiun) dan sistem transportasi (informasi rute dan jadwal, ICT, kemudahan reservasi moda).

Pemerintah harus membangun prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas kawasan pariwisata halal. Kebutuhan sarana penunjang sangat penting agar menimbulkan kenyamanan selama berada di lokasi. Sarana tersebut seperti untuk prasarana umum meliputi listrik, air, telekomunikasi, pengelolaan limbah, untuk fasilitas Umum meliputi keamanan, keuangan perbankan, bisnis, kesehatan, sanitasi dan kebersihan, khusus bagi penderita cacat fisik, anak-anak dan lanjut usia, rekreasi, lahan parkir dan ibadah dan Fasilitas Pariwisata meliputi akomodasi, rumah makan/restoran, informasi dan pelayan pariwisata, keimigrasian, TIC dan e-tourism kios, polisi pariwisata dan satuan tugas wisata, toko cinderamata, penunjuk arah-papan informasi wisata-rambu lalu lintas wisata, bentuk bentang lahan.

Pemerintah harus terus meningkatkan promosi dan iklan daerah wisata halal baik di dalam negeri dan luar negeri serta aktif dalam setiap kegiatan dan pertunjukan bertaraf internasional baik sebagai penyelenggara maupun sebagai peserta. Hal lain yang tidak kalah penting adalah pelatihan Sumberdaya Insani, Standarisasi, Sertifikasi dan Tenaga Kerja di sektor pariwisata dengan standar internasional. Sistem pendidikan dan pelatihan yang mendukung harus ditingkatkan oleh lembaga pendidikan terkait bidang pariwisata.

Di samping itu, dalam membangun visi pariwisata halal kelas dunia berkelanjutan harus direncanakan dan dikelola dengan baik sehingga harapannya dengan berbagai strategis yang digunakan dalam pengembangan industri halal maka potensi Indonesia sebagai pusat pariwisata halal dunia dapat terwujud serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dan dapat secara langsung dan positif berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan, pembangunan kawasan sekitar pariwisata, pelestarian budaya dan komunitas sekitar.

Safri Haliding
Wakil Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta & Ketua Umum MGI Islamic Finance Forum (MIFF)




(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id