Penantian Setengah Abad untuk Menguasai Freeport
Ilustrasi tambang Freeport. (FOTO: MI/Agus)
Jakarta: Butuh 50 tahun bagi Indonesia untuk bisa menguasai tambang emas terbesar di dunia, Grasberg, di Mimika, Papua. Selama ini tambang itu dikuasai PT Freeport Indonesia (PTFI), anak usaha Freeport McMoRan Copper and Gold Inc (FCX) asal Amerika Serikat.

Sebesar 51 persen saham PTFI nanti jatuh ke tangan anak bangsa. Meski belum bisa dikatakan resmi menguasai, toh Pemerintah Indonesia melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum telah sama-sama sepakat dengan FXC dalam menentukan harga sebesar USD3,85 miliar atau setara Rp55 triliun dengan menggunakan kurs bergerak saat ini di kisaran Rp14.300 per USD.

Deal-deal harga tersebut tentu membuka jalan bagi Indonesia untuk menguasai ladang emas di tanah sendiri. Inalum diberikan waktu dua bulan dari masa kesepakatan perjanjian (head of agreement/HoA) atau hingga Agustus untuk menyelesaikan transaksi pembayaran tersebut. Setelah itu keuntungan berkali-kali lipat akan diterima Indonesia.

Untuk negara tentu akan mendapatkan penerimaan yang jauh lebih besar ketimbang posisi. Hal tersebut telah ditegaskan berulangkali oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia bilang dalam pasal 169 UU Minerba memandatkan agar pemerintah mendapatkan penerimaan yang lebih besar. Bila transaksi selesai dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) telah diberikan maka Ani, begitu dirinya disapa, segera mengeluarkan aturan mengenai financial stability.

"Itu akan mencakup seluruh penerimaan negara baik itu pajak penghasilan (PPh) badan, pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan (PBB) royalti bagi hasil keuntungan untuk pemerintah pusat dan daerah, berbagai macam pajak daerah termasuk bea materai, restribusi. Itu semua masuk di dalam perjanjian yang berhubungan dengan financial stability," kata Ani.




Bahkan CEO FCX Richard Adkerson pun turut menguatkan penyataan Ani. Dalam penandatanganan HoA Adkerson menyebut Pemerintah Indonesia bisa mengantongi dana sebesar USD60 miliar hingga USD90 miliar atau sekitar Rp858 triliun Rp1.287 triliun.

Benefit tersebut akan didapatkan jika pemerintah memperpanjang operasional Freeport hingga 2041. "Dengan memberikan kepastian bagi investasi, kami prediksi manfaat bagi pemerintah akan signifikan," tutur Adkerson.

Bukan hanya untung dari sisi penerimaan negara namun turut berpartisipasinya Inalum dalam pengelolaan tambang emas tersebut pun akan memberi nilai tambah tersendiri.

Berdasarkan laporan keuangan 2017 yang telah diaudit, PTFI membukukan pendapatan sebesar USDD4,4 miliar. Angka tersebut meningkat dari USD3,29 miliar di 2016. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD1,28 miliar atau naik dari tahun sebelumnya USD579 juta.

Mulai tahun depan Freeport akan mulai beralih pada penambangan bawah tanah sehingga butuh waktu tiga tahun untuk peralihan tersebut. Hitung-hitungan Inalum setidaknya laba bersih yang akan dikantongi PTFI setelah 2022 sebesar USD2,2 miliar. Artinya kepemilikan saham 51 persen sudah pasti Inalum bakal kecipratan laba bersih lebih dari USD1 miliar dalam setahun.

Selama ini Freeport mengelola tambang dengan deposit emas terbesar di dunia. Cadangan terbukti (proven) dan cadangan terkira (portable) untuk tembaga sebesar 38,8 miliar pound, emas sebesar 33,9 juta toz (troy ounce) dan perak sebesar 153,1 juta toz.

Dari cadangan terbuktu bila dikonversi ke dalam nilai maka untuk emas sebesar USD42 miliar, tembaga USD116 miliar dan perak sebesar USD2,5 miliar. Sehingga jika ditotal cadangan terbukti mencapai USD160 miliar atau Rp2.290 triliun. Angka tersebut belum memasukkan nilai cadangan terkira.

"Kekayaan tambang Grasberg sendiri kalau dinilaikan dengan harga komoditas sekarang di atas USD120 miliar," kata Kepala Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Pemerintah PT Inalum Rendi Witular pada Medcom.id.

Asing Masih Berperan

Namun tentu untuk meraup semua itu perlu mengeluarkan modal di awal seperti pepatah berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian, bersakit dahulu baru bersenang-senang kemudia.

Rendi mengakui untuk bisa mengumpulkan nilai USD3,85 miliar memang masih dibantu oleh asing. Dia bilang banyak lembaga pembiayaan asing yang tertarik untuk ikut andil dalam proses divestasi saham perusahaan tambang emas terbesar dunia itu. Dengan bunga yang murah maka tawaran pendanaan dari bank asing pun diterima.

Pendanaan yang berasal dari asing masuk dalam sindikasi perbankan. Dalam sindikasi tersebut yang terdiri dari sekitar 11 bank berisikan mayoritas bank asing, sementara untuk bank lokal yakni tiga bank.

"Kita memang mayoritas asing," kata Rendi.

Kendati demikian dirinya memastikan meski pendanaan mayoritas berasal dari asing namun tidak akan mengganggu kepemilikan 51 persen saham milik Indonesia di dalam tubuh PTFI. Lagi pula, kata dia dengan kekayaan tambang Grasberg bisa bisa menjamin dan mengkompensasi pinjaman asing bersama bunganya.

"Artinya hasiil yang didapatkan itu lebih besar untuk mengompensasi USD3,85 miliar itu. Taruhlah dengan bunga dan segala macam jadi USD4 miliar, kan bisa lunas empat tahun," jelas Rendi.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id