Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Nikel Demi Kemandirian Energi Jangka Panjang

Ekonomi analisa ekonomi
Suci Sedya Utami • 30 Agustus 2019 21:36
DUNIA pertambangan kini memasuki jilid baru dengan kemunculan mobil listrik. Di Indonesia, pemerintah tengah mendorong pengembangan mobil listrik dalam rangka menuju kemandirian energi nasional.
 
Dorongan ini kini matang manakala pemerintah akhirnya menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.
 
Dorongan pengembangan mobil listrik sebenarnya ditujukan untuk mengurangi pembengkakan defisit neraca transaksi berjalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan produksi migas di dalam negeri terutama minyak mentah ditambah dengan kapasitas kilang yang tidak bisa mengolah bahan bakar minyak (BBM) secara optimal untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sehingga ujung-ujungnya mesti ditutup dengan impor baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM yang menjadi biang kerok defisit.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya untuk menekan impor dan memaksimalkan sumber energi dalam negeri, pengembangan mobil listrik juga diperuntukkan bagi jangka panjang dalam mengurangi polusi yang disebabkan oleh asap kendaraan peminum bensin dari fosil. Pemerintah ingin mendorong energi bersih yang lebih ramah lingkungan melalui mobil listrik.
 
Perusahaan tambang seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bisa masuk ke babak baru di sektor enegi hijau tanpa harus meninggalkan kodratnya dalam menjalankan bisnis pertambangan dan pengolahan nikel. Vale tetap bisa menambang nikel sebagai bahan baku poduksi baterai untuk mobil listrik.
 
Wakil Presiden Direktur Vale Febriany Eddy mengatakan baterai merupakan salah satu komponen biaya terbesar dari mobil listrik yakni sekitar 30-40 persen. Dengan menggunakan nikel sebagai bahan bakunya dinilai bisa lebih hemat. Sebab nikel merupakan metal yang memiliki penyimpanan kepadatan energi (energy density storage) yang tinggi dan jauh lebih murah ketimbang menggunakan jenis mineral lainnya seperti cobalt.
 
"Hal ini membuat nikel menjadi primadona untuk baterai mobil listrik. Ini tentu membuka kesempatan bagi nikel untuk berkontribusi dalam industri yag lebih luas dalam jangka panjang," kata Febri dalam pesan di aplikasi pada Medcom.id.
 
Apalagi Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan nikel yang besar dan berkualitas tinggi. Hal ini juga diakui oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey yang mengatakan nikel Indonesia memegang peranan penting di dunia. Dia bilang unsur kimia dengan simbol Ni ini merupakan sumber mineral terbesar dan terbanyak di Indonesia yang kegunaannya dibutuhkan dunia.
 
"Kita (salah satu) penyuplai terbesar dunia 23,7 persen dari kebutuhan dunia. Kita di posisi keenam dari 13 penyuplai terbesar. Kita punya kontur kadar terbesar dunia," kata Meidy.
 
Bahkan, salah satu Direktur Utama dari perusahaan tambang milik negara yang tak mau dicantumkan identitasnya mengatakan Vale merupakan pemegang produksi nikel terbesar di Bumi Pancasila. Dia bilang perusahaan-perusahaan asing seperti Vale memiliki kualitas nikel yang sangat bagus karena telah beroperasi dalam pertambangan nikel di tanah air sejak lama.
 
Sebenarnya Vale telah berinisiatif untuk mengembangkan proyek hijau (greenfield project) jauh sebelum Perpres tersebut muncul. Salah satu proyek hijau tersebut berada di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
 
Dalam proyek Pomalaa, Vale bekerja sama dengan Sumitomo Metal Mining untuk mengembangkan pabrik berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Produk yang dihasilkan di pabrik ini berupa Mixed Sulphide Precipitate (MSP) dengan kandungan nikel di atas 45 persen.
 
"MSP yang akan menjadi bahan baku nikel sulfate, atau bahan baku utama beterai listrik," tutur Febri.
 
Pabrik ini rencananya akan dibangun di 2020. Apabila  telah beroperasi, maka dipastikan produksi Vale bisa meningkat 40 ribu ton per tahun dari kondisi saat ini.
 
Febri bilang selama ini Vale hanya memproduksi nikel matte. Hasil produksi nikel matte ini sepenuhnya diproses lebih lanjut dan diekspor. Ke depannya, Vale tidak menutup kemungkinan untuk memasok kebutuhan di dalam negeri terutama untuk mendukung keberhasilan mobil listrik.
 
"Mobil listrik muncul sebagai solusi transportasi yang ramah lingkungan," ujar Febri.

Pertambangan Berkelanjutan

Di sisi lain, kendati Vale melakukan penambangan meski untuk kepentingan mobil listrik yang dicap lebih ramah lingkungan, namun kata Febri, kegiatan tersebut dilakukan dengan mengutamakan prinsip keberlanjutan. Misalnya saja dengan membangun fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) sebagai upaya menciptakan nilai tambah dan tidak pernah mengekspor dalam bentuk bijih atau mineral mentah.
 
Selain itu melaksanakan reklamasi yang merupakan bagian daru rencana pascatambang sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang. Rehabilitasi lahan pascatambang dilakukan dengan sistem penimbunan atau backfilling, menggunakan lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya dari proses pengupasan lahan.
 
Tahapan rehabilitasi lahan pascatambang meliputi penataan atau pembentukan muka lahan dengan standar lereng lahan rehabilitasi, pengembalian lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya, pengendalian erosi, pembangunan drainase, pembangunan jalan untuk proses revegetasi, penghijauan, pemeliharaan tanaman, dan pemantauan keberhasilan.
 
"Vale sangat berhati-hati dalam kaitannya menjaga kelestarian lingkungan," lanjut Febri.
 
Kemudian melakukan pengelolaan dan pengolahan limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan operasi penambangan dan pengolahan bijih nikel. Serta penggunaan biodiesel dalam operasional sebagai salah satu upaya mendukung energi terbarukan.
 
Meskipun diakui Febri, perusahaan tambang asal Brazil ini lebih banyak menggunakan bahan bakar  High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan High Speed Diesel (HSD) untuk operasional alat berat dan kendaraan pengangkut.
 
"Penggunaan diesel di PT Vale tidak sebesar penggunaan HSFO dan batu bara, dan sebagian besar diperuntukkan untuk menggerakan alat berat di tambang," tandas dia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif