Momen-momen menarik yang terjadi di persepakbolaan Nasional sepanjang tahun 2018 (Sumber Foto: Antara, medcom.id)
Momen-momen menarik yang terjadi di persepakbolaan Nasional sepanjang tahun 2018 (Sumber Foto: Antara, medcom.id)

Dinamika Sepak Bola Nasional: Dari Persija Juara, Edy Out Hingga Skandal Pengaturan Skor

Bola liga indonesia Kaleidoskop 2018
Patrick Pinaria • 29 Desember 2018 08:14
Berbagai cerita menarik di lingkup sepak bola nasional sepanjang tahun 2018. Mulai dari keberhasilan Persija mengakhiri dahaga juara 17 tahun, desakan Edy Rahmayadi mundur dari kursi Ketua Umum PSSI, hingga yang paling hot, ditangkapnya sejumlah pelaku pengaturan skor di sepak bola Indonesia.
 
Jakarta:
Kompetisi sepak bola Indonesia banyak menghadirkan cerita menarik sepanjang tahun 2018. Mulai dari kesuksesan Persija Jakarta mencetak sejarah baru, hingga maraknya kasus pengaturan skor yang memaksa pihak kepolisian untuk turun tangan.
 
Medcom.id telah merangkum apa saja momen atau berita-berita menarik yang tersaji sepanjang tahun 2018. Berikut di antaranya:

Drama dan Persaingan Juara Liga 1


Kompetisi Liga 1 Indonesia tahun bisa dibilang menjadi salah satu yang paling menarik. Sebab, persaingan meraih gelar juara dan juga tim-tim yang terdegradasi masih berlangsung sengit hingga pekan terakhir.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Persija yang mengawali musim dengan kurang baik, perlahan mulai menunjukkan tajinya di paruh kedua kompetisi. Menempati peringkat enam di paruh pertama musim, tim besutan Stefano Cugurra Teco perlahan mulai bangkit, hingga akhirnya meramaikan persaingan juara bersama dengan Persib Bandung dan PSM Makassar.
 
Persaingan mulai mengerucut memasuki tiga pertandingan terakhir. Persib resmi terlempar dari persaingan usai bermain imbang 2-2 melawan Perseru Serui di pekan ke-32. Koleksi poin Persib tidak mungkin lagi mengejar dua Persija dan PSM.
 
Kekecewaan tentu dirasakan kubu Persib, sebab mereka menyandang predikat sebagai penguasa klasemen di paruh pertama musim. Sayangnya, hukuman larangan bermain di kandang yang dijatuhkan Komdis PSSI menyusul insiden tewasnya suporter saat menjamu Persija, membuat penampilan Maung Bandung menurun drastis.

Baca:Kaleidoskop Sepak Bola 2018: Ketika Duo Madrid Kuasai Eropa


Setelah Persib terlempar, persaingan kini hanya melibatkan Persija dan PSM Makassar di dua pertandingan terakhir.
 
Persija mendapatkan momentum saat bertandang ke markas Bali United. Mereka sukses mencuri kemenangan 2-1 meski laga berakhir dengan sedikit kontroversi soal waktu tambahan yang diberikan wasit.
 
Kemenangan ini mengantar Persija menduduki peringkat pertama, menyalip PSM yang harus puas bermain imbang lawan juara musim lalu Bhayangkara FC. Persija berbalik unggul satu poin dari PSM.
 
Momentum ini berhasil dilanjutkan Persija pada pekan terakhir, Minggu 9 Desember 2018. Bermain di hadapan publik yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Persija sukses menuntaskan misi wajib menang melawan Mitra Kukar. Persija menang 2-1.
 
Kemenangan ini sekaligus membuat kemenangan besar 5-1 PSM atas PSMS di saat bersamaan, menjadi tak berarti. Persija keluar sebagai juara Liga 1, mengakhiri penantian 17 tahun di mana mereka terakhir kali jadi juara Liga Indonesia pada tahun 2001.
 
Sementara itu, persaingan di zona degradasi pada pekan terakhir juga tidak kalah panas. Tercatat, ada lima klub yang masih bertarung menghindari zona degradasi di pertandingan terakhir.
 
Mitra Kukar yang kalah dari Persija dan PSMS yang dibantai PSM dipastikan terdegradasi. Sementara itu, satu klub lagi yang harus turun kasta adalah Sriwijaya FC usai dikalahkan Arema FC.

PSS Sleman Juara Liga 2 Indonesia 2018


Sukacita juga dirasakan salah satu klub Liga 2 Indonesia, PSS Sleman pada musim 2018. Bagaimana tidak. Mereka berhasil menjadi juara Liga 2 Indonesia 2018.
 
Keberhasilan tersebut tak lepas dari performa impresif PSS saat menghadapi Semen Padang FC pada babak final, 4 Desember. Kala itu, PSS mampu meraih kemenangan dengan skor telak 2-0. Kemenangan ini pun membuat PSS naik kasta ke Liga 1 Indonesia musim 2019 dengan status juara. PSS Sleman didampingi Semen Padang dan Kalteng Putra promosi ke Liga 1.

Laga Persib Kontra Persija Kembali Memakan Korban Nyawa


Awan duka kembali menyelimuti Liga 1 Indonesia 2018. Tepat pada pekan ke-23 dalam laga antara Persib Bandung kontra Persija Jakarta, Minggu 23 September.
 
Jelang laga tersebut, salah satu suporter Persija (Jakmania) bernama Haringga Sirila tewas dikeroyok oknum suporter Persib Bandung (Viking). Pengeroyokan tersebut terjadi di area parkir Stadion Si Jalak Harupat.
 
Kejadian ini berimbas buruk pada kompetisi Liga 1 Indonesia 2018. Atas desakan Pemerintah, PSSI memutuskan menghentikan kompetisi sementara selama dua pekan.
 
Tak hanya itu, Persib juga harus menerima sanksi gara-gara perbuatan oknum suporternya itu. Mereka dilarang menggelar pertandingan di kandang (Bandung). Laga kandang mereka yang dimainkan di luar Pulau Jawa juga tidak boleh disaksikan suporternya (bobotoh). Sanksi ini berlaku hingga akhir musim. Sebagai tambahan, Bobotoh juga dilarang datang menyaksikan laga Persib di Bandung pada paruh pertama kompetisi musim 2019.

Skandal Pengaturan Skor Mencuat


Menjelang tutup tahun, kompetisi sepak bola Indonesia diterpa isu tidak sedap. Dugaan adanya skandal pengaturan skor menyeruak menyusul munculnya sejumlah potongan video yang menunjukkan adanya kejanggalan di pertandingan Liga 2 dan Liga 3.
 
Salah satu video yang sempat viral adalah momen pertandingan Liga 2 antara PS Mojokerto Putra melawan Aceh United, 19 November 2018. Dalam video tersebut, terlihat jelas salah satu pemain justru dengan sengaja tidak mengarahkan bola ke gawang saat mendapatkan tendangan penalti.
 
Tudingan adanya skandal pengaturan skor di Indonesia makin terlihat jelas menyusul pengakuan manajer Madura FC, Januar Herwanto saat tampil di acara Mata Najwa dengan tema "PSSI Bisa Apa" jilid 1.
 
Dalam acara itu, Januar mengaku dihubungi oleh salah seorang Exco PSSI bernama Hidayat untuk melakukan mengatur hasil pertandingan. Ia mengaku diminta mengalah dari PSS Sleman di ajang Liga 2. Ia bahkan mengaku diiming-imingi uang Rp100 juta jika permintaannya dipenuhi.

Baca juga:Kaleidoskop 2018: Kebangkitan Olahraga Indonesia


Belum selesai kasus ini, muncul lagi kabar yang lebih heboh. Kali ini, giliran gelaran final Piala AFF 2010 yang dituding ada permainan mafia bola. Kekalahan 0-3 Indonesia dari Malaysia pada leg pertama dinilai janggal.
 
Dalam edisi Mata Najwa "PSSI Bisa Apa" jilid 2, tudingan adanya kejanggalan di pertandingan tersebut diumbar manajer Timnas Indonesia kala itu, Andi Darussalam Tabussala.
 
"Saya yakin bahwa kekalahan 0-3 kita di Malaysia, saya dipermainkan," ujar ADS kala itu.
 
Bola panas skandal Pengaturan skor di kompetisi Indonesia akhirnya membuat pihak kepolisian bergerak. Dalam acara yang sama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Ia pun langsung membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola.
 
Satgas yang diketuai oleh Brigjen Hendro Pandowo dan Brigjen Khrisna Murti ini langsung bergerak cepat untuk membongkar kasus pengaturan skor di sepak bola Indonesia.
 
Hingga berita ini dipublikasikan, Satgas sudah menangkap empat tersangka yang diduga terlibat dalam praktik pengaturan skor. Mereka adalah Johar Lin Eng (Anggota Exco PSSI), Priyanto (mantan anggota Komisi Wasit), wasit futsal Anik Yuni Artikasari (Tika), dan Wakil Ketua Asprov PSSI DIY Dwi Irianto alias Mbah Putih.
 
Selain itu, Satgas juga sudah memanggil sejumlah saksi di antaranya Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto dan Ketua Komdis PSSI Asep Edwin. Mereka dimintai keterangan terkait apa yang mereka ketahui soal praktik pengaturan skor. Satgas juga berencana memanggil Ketum PSSI Edy Rahmayadi untuk dimintai keterangan.

Desakan Edy Rahmayadi Mundur


Di luar soal Persija Jakarta juara dan skandal pengaturan skor, hal yang juga jadi sorotan di tahun 2018 ini adalah desakan agar Edy Rahmayadi mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Seruan tersebut ramai dilontarkan di media sosial.
 
Awalnya, desakan mundur muncul setelah Edy resmi terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara pada 6 September. Saat itu, netizen ramai-ramai membuat petisi Edy mundur.
 
Petisi tersebut tentu dibuat bukan tanpa alasan. Mereka membuatnya lantaran khawatir Edy akan terbagi fokusnya dan tidak akan menjalani tugas sepenuhnya bersama PSSI.
 
Kemudian, desakan Edy kembali muncul sejak terjadi kasus tewasnya suporter Persija Jakarta Haringga Sirila. Edy didesak mundur karena kericuhan suporter masih marak terjadi di era kepemimpinannya, dan tidak ada penyelesaiannya.
 
Prestasi buruk timnas Indonesia di kancah internasional juga membuat desakan Edy mundur semakin menguat. Terutama saat melihat performa Garuda di Piala AFF 2018 yang terpuruk usai gagal lolos dari babak fase grup.

Baca juga:Kaleidoskop Liga Inggris: Rekor Gemilang Manchester City, hingga Clean Sheet Paruh Musim Liverpool


Desakan Edy mundur juga muncul dikarenakan pernyataan-pernyataan sang Ketum di media yang dianggap tidak pantas. Dalam beberapa kesempatan, Edy sempat melontarkan jawaban nyeleneh yang tidak pantas terlontar dari orang nomor satu di induk sepak bola Indonesia itu.
 
Bahkan beberapa pernyataan Edy seperti; "Apa Hak Anda Menanyakan Hal itu kepada Saya?", dan "Kalau wartawan baik, maka Timnasnya juga Baik." sempat viral di media sosial. Bahkan, lantuntan "wartawan harus baik" juga sempat disuarakan suporter saat menyaksikan timnas Indonesia berlaga di Piala AFF 2018.
 
Namun, hal tersebut rupanya tidak membuat Edy goyah dalam mempertahankan jabatannya. Bahkan, mantan Pangkostrad TNI itu menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur sampai masa jabatannya berakhir. Ia masih yakin bisa membawa Timnas Indonesia berprestasi.
 
Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga
 
Video:?Exco PSSI Ditangkap atas Dugaan Kasus Pengaturan Skor

 

(ACF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif