Ketua Tim Percepatan Proyek Electric Vehicle Battery Indonesia Agus Tjahajana Brodjonegoro mengatakan saat ini Thailand masih menjadi hub untuk kendaraan berbahan bakar seperti Internal Combustion Engine (ICE). Namun Indonesia dapat mengambil peluang di segmen kendaraan listrik.
"Kalau kita mampu membangun ini dengan baik sekalian memanfaatkan opportunity kendaraan dengan baik kita paling tidak bisa menjadi Electric Vehicle (EV) hub untuk Asean," katanya dalam webinar di Jakarta, Sabtu, 6 Februari 2021.
Ia menambahkan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil akan habis secara perlahan. Sebagai gantinya, pasar akan lebih banyak menggunakan kendaraan listrik. Di sinilah kesempatan Indonesia menjadi pemain utama karena modal yang dimiliki juga cukup kuat.
"Inilah kira-kira kenapa kita bisa mengisi, karena kita punya komponen maker dan kita punya baterai kalau kita sanggup membangun (industri) baterai ini. Pada 2025 mudah-mudahan akan sekitar delapan persen daripada kendaraan sudah EV sisanya masih ICE, dan 2030 akan naik jadi 16 persen," ungkap dia.
Agus menyebut tim yang dipimpinnya menargetkan Indonesia bisa memproduksi sebanyak 340 ribu unit kendaraan listrik pada 2030 dengan didukung kemampuan untuk membangun pabrik baterai lithium sebagai komponen utama kendaraan listrik.
Komisaris Utama MIND ID ini menjelaskan harga baterai menyumbang 35 persen dari total harga kendaraan listrik. Untuk itu, pemerintah mengajak produsen mobil listrik global untuk berinvestasi di Indonesia yang memiliki cadangan bijih nikel terbesar.
"Kalau kita punya baterai ini why not kita bilang sama pabrik-pabrik mobil (listrik) ini bikin di tempat kita, kita punya baterai. Nanti kita lihat baterai ini akan memudahkan transport segala macam sehingga sangat efisien kalau kita bikin di sini," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News