medcom.id, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, terdapat empat permasalahan yang dihadapi perjagungan nasional dari sisi produksi.
"Permasalahan itu terdiri atas produktivitas rata-rata nasional yang belum bisa menembus enam ton/hektare (ha), kurang efisiennya biaya produksi, inkontinuitas produksi, dan lokasi produksi yang tidak dekat lokasi pasar, khususnya lokasi industri pakan," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi, dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Lokasi sentra produksi yang tidak dekat dengan lokasi industri pakan, mengakibatkan tingginya biaya distribusi yang berpengaruh pada harga jagung di konsumen. Akibatnya, jagung nasional kurang mampu bersaing dengan jagung impor.
"Sebanyak 50 persen kebutuhan jagung pada industri pakan mengandalkan impor," kata Agung.
Sementara, pada sisi pascapanen dan pasar, permasalahan yang muncul adalah terbatasnya sarana penanganan pascapanen, engering dan silo, yang berakibat pada rendahnya kualitas jagung pipilan.
Kualitas rendah jagung pipilan berakibat pada belum terpenuhinya standar kebutuhan industri pakan dan makanan, khususnya aflatoksin.
"Pasar masih terkendala dengan panjangnya rantai pasok dari produsen ke konsumen dan keinginan industri pakan untuk menyerap jagung lokal," ucap Agung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan