Timang-timang Dolarku Sayang

Wanda Indana 11 September 2018 18:22 WIB
Muslihat Dolar
Timang-timang Dolarku Sayang
Ilustrasi: Medcom

Dolar Amerika Serikat (AS) makin menggila. Rupiah kian tersungkur. Rabu, 5 September 2018, nilainya sempat jatuh ke level Rp15.032 per dolar AS. Banyak pihak kalang kabut.


PEMERINTAH buru-buru mengurangi impor minyak dengan mewajibkan biodiesel sebesar 20 persen (B20), hingga menekan impor barang konsumsi dengan menaikkan pajak penghasilan (PPh) untuk 1.147 barang impor. Pula membuka keran ekspor agar dolar masuk ke dalam negeri.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengevaluasi kebutuhan impor dalam negeri demi menjaga defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Impor masih diperbolehkan asalkan untuk menunjang kegiatan ekonomi.

"Kalau impor bahan baku barangkali itu menunjang produksi. Kalau barang modal yang menunjang proyek-proyek besar terutama yang berhubungan dengan proyek pemerintah, kita akan lihat kontennya apa," kata Sri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Di sektor moneter, Bank Indonesia (BI) sudah menghabiskan Rp11,9 triliun untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, juga menaikkan tingkat suku bunga. Upaya itu untuk menarik jumlah rupiah dari pasar.

Apa mau dikata, dampak kenaikan dolar sudah mulai dirasakan sektor rill. Terutama pengusaha yang mengandalkan bahan baku impor. Ini bisa memicu kenaikan harga barang-barang (inflasi). 

Namun, melemahnya rupiah tak melulu membawa petaka. Ada pihak-pihak yang ketiban untung di tengah kondisi ini.
 

Penguatan produk lokal

Dolar naik, barang-barang yang masuk ke dalam negeri menjadi mahal, terutama elektronik, mesin, pakaian, dan makanan. Kondisi ini membuat banyak orang akan mengurangi pembelian, lantas mencari barang pengganti yang lebih murah.

Sementara itu, harga produk dalam negeri yang banyak berasal dari pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) masih stabil. Walaupun ada kenaikan tapi tidak signifikan. Momen ini bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk mempromosikan dan menggenjot penjualan produk. Sebab, produk UMKM akan banyak diminati karena harga masih murah.

Pelaku ekspor juga diuntungkan. Selisih pelemahan rupiah terhadap dolar bisa menurunkan harga produk yang dijual - karena pembayarannya menggunakan dolar. Kondisi 'lebih murah' ini tentu menarik bagi pasar global.

Sektor pariwisata pun tak ketinggalan mencicipi untung dari melemahnya rupiah. Turis asing akan tertarik datang ke Indonesia dan membelanjakan dolarnya. Sebab, dengan selisih nilai tukar yang tinggi, otomatis 'jajan' di Indonesia lebih murah.



Turis asing dan suasana malam di Legian, Bali. (MI)
 

Pemegang dolar

Selain untuk transaksi, dolar juga digunakan untuk berinvestasi. Alasan orang menyimpan dolar sama dengan alasan orang menyimpan emas. Berharap mendapat kuntungan ketika harga tinggi. 

Orang Indonesia termasuk kelompok masyarkat yang doyan menyimpan dolar. Maka tak heran, banyak orang besar di negeri ini yang menyimpan kekayaannya dalam bentuk dolar. Mulai dari pejabat negara, pengusaha, hingga elite TNI/Polri. Ketika dolar naik, kekayaan para pemegang dolar otomatis ikut meroket.

Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Selain untung dengan nilai tukar yang tinggi, pemegang dolar pun bisa mendapat citra baik. Mafhum, saat mata uang garuda sakit, salah satu obatnya adalah gerakan cinta rupiah. Harapannya, pemegang dolar mau menukarkan dolarnya ke rupiah.

Gerakan itu ditunjukkan Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno yang menukar beberapa dolar miliknya. Sandiaga bilang, aksi itu untuk meredam dampak pelemahan rupiah. 

Sandi berharap, gerakan moral itu dapat diikuti oleh para konglomerat dan semua elemen masyarakat. "Ini saatnya kita memperkuat ekonomi kita," kata Sandi di money changer Dua Sisi, di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 6 September 2018.

Gerakan Sandi mirip sebuah gerakan bernama Getar (Gerakan Cinta Rupiah) pada krisis 1997/1998. Gerakan itu diprakarsai Siti Hardiyanti Rukmana, putri Presiden ke-2 RI Soeharto yang akrab disapa Mbak Tutut. Kala itu Mbak Tutut mengajak masyarakat penyimpan dolar agar mau menjualnya.

Namun, kampanye Mbak Tutut kurang mendapat sambutan masyarakat. Rupiah tetap jeblok hingga kekuasaan Soeharto berakhir. Saat itu rupiah mengalamai kejatuhan terparah sepanjang sejarah, menyentuh level Rp16.650 per dolar AS.



Bakal calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kiri) menukarkan uang dolar AS ke mata uang rupiah di Jakarta, Kamis (6/9). (ANTARA)


***

PEMILU di depan mata. Indonesia berada di tahun politik. Isu rupiah turut menjadi senjata untuk menggemboskan dukungan terhadap pemerintah. Banyak yang beranggapan, melemahnya rupiah menjadi berkah bagi oposisi.

Calon Presiden Prabowo Subianto mengritisi kondisi ekonomi ini. Dia bilang, rupiah melemah karena kesalahan pemerintah yang hobi impor. Ya, pemerintah saat ini adalah calon petahana dalam Pilpres 2019 mendatang, Joko Widodo.



Bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memberikan keterangan pers terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat, 7 September 2018. (ANTARA)


Menurut Prabowo, kondisi melemahnya rupiah ini berbahaya, karena defisit transaksi berjalan terus melebar. Dia khawatir dampaknya akan dirasakan masyarakat kecil. 

"Pelemahan rupiah kita, yang kekuatannya melemah secara cukup tajam dan memprihatinkan," kata Prabowo usai pertemuan dengan pimpinan partai koalisi di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat, 7 September 2018.

Tapi, menurut ekonom Indef Bhima Yudhistira, isu melemahnya rupiah yang dikapitalisasi dan ditarik-tarik ke ranah politik, justru memperkeruh keadaan. Bisa menimbulkan kepanikan pasar dan membuat takut dunia usaha. Saat ini terjadi, investor akan pergi membawa kekayaannya ke negeri lain.

"‎Jangan menari-nari di atas penderitaan rupiah.‎ Jangan digoreng ke politik yang menyalahkan pemerintahan Jokowi. Ini sebenarnya masalah fundamental saja dan struktur yang belum selesai. Kalau terus mengibarkan bara api, jika oposisi menang di 2019, apa enak berkuasa dengan rupiah Rp15.000 per USD," kata Bhima, dalam sebuah diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu, 8 September 2018.



Ilustrasi: Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (MI)


Bhima berharap pihak oposisi bisa berkomentar baik terkait ekonomi. Dengan begitu, masyarakat dan pasar akan tetap tenang.

Pula dari sisi pemerintah, diharapkan bisa membuka diri dan memberikan ruang kepada pihak yang lebih mumpuni untuk menjelaskan persoalan dan upaya yang perlu diambil. Seperti soal rupiah, lebih pantas bila bank sentral sendiri yang menjelaskan upayanya.
 
"Jadi, yang tidak mengerti jangan banyak bicara, baik oposisi dan pemerintah. Itu yang akan mempengaruhi sentimen yang ada di pasar," pungkasnya.
 

(COK)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id