NEWSTICKER
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) bersama Bambang Soesatyo. Foto: Antara/Nova Wahyudi
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) bersama Bambang Soesatyo. Foto: Antara/Nova Wahyudi

Golkar "Berisik" Sudah Berlalu

Medcom Files Golkar Berisik
M Rodhi Aulia • 05 Desember 2019 19:13
DI KANTOR Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta Pusat, Luhut Binsar Pandjaitan mempertemukan dua pentolan yang belakangan ini "berisik" di muka publik. Mereka berisik soal jabatan ketua umum Partai Golkar yang diperebutkan dalam perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 3-6 Desember 2019.
 
Mereka adalah Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet). Pertemuan dua pentolan kubu mendominasi pembicaraan sebagai bakal calon ketua umum Partai Golkar. Hadir juga dalam pertemuan itu Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie.
 
Pertemuan Luhut dan tiga tokoh itu berlangsung sore hari. Dari jadwal kegiatan Luhut pada Selasa 3 Desember 2019 yang kami terima, pukul 14.00 WIB, Luhut menghadiri sebuah acara di Istana Negara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Golkar
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. FOTO: MI/PANCA SYURKANI
Kemudian pukul 16.00 WIB, Luhut diagendakan memimpin rapat koordinasi tentang harga jual bahan bakar penerbangan. Namun di sela kedua kegiatan itu, atau sepulangnya Luhut dari Istana Negara, ia bertemu tiga tokoh tersebut.
 
Disinyalir agenda Luhut sebagai Menko pukul 16.00 WIB itu ditunda. Belum diketahui pasti apakah karena pertemuan partai itu atau ada hal yang lain.
 
Keesokan harinya, Aburizal menuturkan awal mula pertemuan itu dilakukan bukan di kantor milik Golkar atau tempat lain. Tapi dilakukan di Kantor Kemenko Kemaritiman tersebut. Ia diajak Airlangga bertandang ke kantor Luhut.
 
"Kenapa di tempatnya Pak Luhut? Ya Menko Maritim (Luhut), Menko Ekonomi (Airlangga), kita berbicara masalah dan kita berbicara masalah ekonomi yang berat," kata Aburizal di arena Munas Golkar, Hotel Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta, Rabu 4 Desember 2019.
 
Meski demikian, Aburizal mengaku sangat terharu. Pasalnya seusai pertemuan itu, Bamsoet yang semula memiliki tekad yang kuat untuk bertarung, tiba-tiba mengundurkan diri dari bursa pencalonan sebagai ketua umum Partai Golkar.
 
Bamsoet didampingi Luhut, Airlangga dan Aburizal mengumumkan pengunduran dirinya. Bamsoet berdalih mendengar nasihat para senior yang sama sekali tak bisa ia lawan.
 
"Demi menjaga soliditas dan keutuhan Golkar, saya menyatakan tidak meneruskan pencalonan saya sebagai kandidat Ketua Umum Golkar periode 2019-2024," kata Bamsoet.
 
Pernyataan Bamsoet ini hanya beberapa jam sebelum Munas Golkar resmi dibuka Presiden Jokowi. Dalam pidatonya, Jokowi mengapresiasi pelaksanaan Munas dapat diawali dengan suasana yang sejuk.
 
Perasaan itu ia alami saat memasuki arena pembukaan Munas. Saking sejuknya, bahkan tanpa pendingin udara sekalipun, suasana Munas sudah sejuk.
 
"Saya senang Munas ini menunjukan persaudaraan dan kerukunan yang baik. Jadi saya sekali lagi ingin mengajak kita semuanya memberikan tepuk tangan kita ke Pak Bambang Soesatyo," kata Jokowi.
 
Jokowi membantah bila ada sejumlah menteri yang mengintervensi internal Golkar. Namun ia membiarkan bila intervensi itu dilakukan menteri yang berasal dari Golkar. Di antaranya Luhut.
 
Jokowi tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sementara Luhut sendiri mengaku tidak mendapatkan arahan dari Jokowi terkait langkah mempertemukan Airlangga dan Bamsoet.
 
Luhut menegaskan pertemuan itu murni inisiatif pihak Golkar dan lokasi pertemuan karena faktor kesibukan. Sehingga lokasi yang dianggap tepat saat itu ialah kantornya.
 

 
Golkar
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan pada pembukaan Munas Partai Golkar di Jakarta. Foto: Antara/Muhammad Adimaja.
 

Berjarak sekitar 10 kilometer dari pertemuan itu, di Resto Sate Senayan, Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sejumlah bakal calon ketua umum Partai Golkar mundur serentak. Mereka adalah Agun Gunandjar Sudarso dan Indra Bambang Utoyo. Kemudian disusul Ali Yahya.
 
Praktis posisi pada Selasa malam, menyisakan dua nama. Mereka adalah Ridwan Hisjam dan Airlangga. Ridwan enggan pemilihan ketua umum berlangsung aklamasi. Ia ingin adanya musyawarah mufakat.
 
Hingga 24 jam kemudian, atau nyaris Kamis dini hari, Airlangga terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2019-2024. Otomatis Ridwan tersungkur. Pasalnya sebanyak 558 pemilik suara menerima laporan pertanggungjawaban dan mendukung penuh Airlangga untuk melanjutkan kepemimpinannya.
 
Adalah Azis Syamsuddin sebagai pimpinan sidang yang mengetuk palu penetapan Airlangga kembali menjadi orang nomor satu di Golkar. Airlangga pun semringah dan sontak menawarkan posisi untuk para senior termasuk Luhut.
 
"Kita akan tawarkan kepada beliau-beliau posisi yang beliau minati," kata Airlangga usai penetapan.
 

Gertakan Politik
Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto menyoroti fenomena sejumlah nama yang mundur teratur sebelum kompetisi dibuka. Meski dalih yang dipakai mayoritas, adalah demi soliditas. Ia menilai nama-nama tersebut sebenarnya melakukan serangkaian gertakan politik atau political bluffing.
 
"Dalam politik nasional, gertakan politik memiliki fungsi menaikkan posisi tawar. Jadi calon yang mundur teratur selain Bamsoet, peluang dia terpilih, kecil. Tapi gertakan politik ini penting bagi mereka," kata Arif kepada Medcom Files, Rabu 4 Desember 2019.
 
Menurut Arif, gertakan politik ini juga sebagai langkah memecah suara seandainya dilakukan pemilihan. Andaikan terjadi head to head antara Bamsoet versus Airlangga, mereka akan menjual suara kepada salah satu calon.
 
Akan tetapi, faktanya hingga Munas dibuka, calon terkuat menyisakan Airlangga versus Ridwan. Di atas kertas, Airlangga potensial terpilih sebagai ketua umum.
 
Namun keterpilihan itu setidaknya ada empat faktor. Pertama, dukungan mayoritas DPD 1 dan 2, dukungan senior, dukungan organisasi sayap, dan restu istana.
 
Arif menegaskan, istana pasti membantah memberikan restu kepada calon terpilih. Tapi restu istana itu terlihat dari Luhut yang bergerak sebelum pembukaan Munas. Kendati Luhut dianggap bagian dari Golkar, tapi Luhut diyakini membawa pesan dari istana.
 
Restu istana menjadi faktor yang paling menentukan seseorang terpilih sebagai calon ketua umum. Meski bukan faktor terkuat seperti dukungan mayoritas DPD 1 dan 2.
 
"Kalau saya ibaratkan cowok-cewek kalau mau menikah, itu faktor yang paling kuat adalah mereka suka atau tidak. Tapi restu orang tua menentukan," tegas Arif.
 

Golkar
Analis Politik Exposit Strategic Foto: MI/PIUS ERLANGGA
 

Seputar Kekuasaan dan Uang
Sosok ketua umum partai politik potensial terpilih sulit dilepaskan dari seputar kekuasaan politik dan uang. Ini yang jamak terjadi di tubuh sebagian besar partai politik di Indonesia.
 
Fakta ini dalam politik disebut klientalisme. Arif menjelaskan seseorang akan patuh terhadap pihak yang memberikan kekuasaan politik terhadap dirinya. Begitu terus selanjutnya.
 
Kepatuhan itu semakin kental bila seseorang itu memiliki sumber daya uang yang besar. Apalagi fakta hari ini, nyaris tidak ada partai politik yang mandiri secara pendanaan.
 
Distribusi kekuasaan dan uang ini juga menjadi faktor penentu terciptanya soliditas di internal partai. Jika salah satu atau dua hal itu tidak ada, maka soliditas akan segera 'ambyar'.
 
"Jadi selama saya bisa ngasih Anda, selama itu pula Anda patuh sama saya. Tapi begitu Anda tidak puas dengan apa yang saya berikan, itu gejolak akan muncul. Seperti gertakan politik agar dapat kue lebih besar dan perpecahan secara umum atau dualisme kepemimpinan," beber dia.
 

 

(WAN)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif