Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro).
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro).

Pesan WA untuk Prabowo

Medcom Files
M Rodhi Aulia • 13 Juli 2019 19:22
ARIEF Poyuono sedang duduk santai di dalam mobilnya, Jumat 12 Juli 2019. Sementara si sopir, langsung tancap gas dari kediaman Arief, Harapan Indah, Bekasi, menuju Jakarta.
 
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu mau bertemu seseorang sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, baru saja ia berangkat dari rumahnya, tiba-tiba ada notifikasi panggilan tak terjawab di layar ponselnya sekitar pukul 10.00 WIB.
 
Arief sontak kaget. Panggilan telepon itu bukan dari orang sembarangan. Rupanya, panggilan itu datang dari Wakil Presiden Jusuf kalla (JK). Dengan sigap, Arief menelepon balik JK.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
"Rif," sapa JK dari ujung telepon. JK menanyakan keberadaan Prabowo Subianto. JK mendorong pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu yang belakangan ini terus tertunda.
 
Dengan penuh keyakinan, Arief memastikan Prabowo sedang berada di Jakarta. Kebetulan Prabowo baru saja pulang usai berlibur bersama keluarga.
 
"Bikinlah pertemuan santai saja. Enggak usah bicara politik," pinta JK ke Arief.
 
Arief menyanggupi permintaan itu. Ia siap memberi tahu Prabowo terkait rencana pertemuan itu. Sementara JK sendiri akan memberi tahu langsung Jokowi.
 
Tidak menunggu lama, Arief pun membuka aplikasi layanan pesan WhatsApp dan mencari kontak Prabowo. Ia langsung memberi tahu Prabowo terkait JK yang tengah mengatur pertemuan itu.
 
Arief bukannya menghadap langsung ke Prabowo. Dia coba menghubungi Prabowo terlebih dahulu.
 
"Saya lapor via telepon saja. WA," kata Arief kepada Medcom Files, Sabtu 13 Juli 2019.
 
Prabowo membaca pesan WA dari koleganya itu. Kepada Arief, Prabowo mengaku setuju dengan rencana JK. Kata Arief, Prabowo bukanlah sosok negatif seperti yang dibayangkan sebagian orang.
 
Prabowo sejak awal memang sudah siap bertemu dengan mantan rivalnya itu di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Namun JK menekankan kepada Arief bahwa pertemuan itu harus digelar dalam suasana sesantai mungkin.
 
"Pak JK kemarin bicara sama saya. Santai-santai saja Rif (pertemuan itu). Nanti dilanjutkan pembicaraan politik, terserah mereka berdua (waktunya kapan)," ujar Arief.
 
JK berharap pertemuan perdana pasca-Pilpres 2019 hanya untuk membuat suasana batin kebangsaan kembali sejuk. JK sangat ingin masyarakat Indonesia kembali rukun seperti sedia kala.
 

Pesan WA untuk Prabowo
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono. (MI/ANGGA YUNIAR)
 

24 jam kemudian

Rupanya pembicaraan via telepon antara JK dan Arief itu menjadi kenyataan. Tidak lagi menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu. Pertemuan itu terlaksana kurang lebih sekitar 24 jam kemudian.
 
Prabowo dan Jokowi akhirnya bertemu di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT), Lebak Bulus, Jakarta Selatan mendekati pukul 10.00 WIB. Semula Prabowo yang tiba di lokasi sekitar pukul 08.48 WIB.
 
Prabowo kemudian menuju salah satu ruangan di stasiun tersebut sembari menunggu kedatangan Jokowi. Selang 20 menit, Jokowi pun tiba.
 
Prabowo keluar dari ruang tunggu dan berjalan mendekati arah kedatangan Jokowi. Dari jarak sekitar tiga meter, Prabowo bersikap hormat kepada Jokowi dan sebaliknya.
 
Mereka berdua langsung berjabat tangan dan menempelkan pipi. Sambil bicara-bicara santai yang tidak tertangkap oleh kami, mereka berdua menghadap kamera dan melambai-lambaikan tangan.
 
Sejurus dengan itu, Jokowi mengajak Prabowo menumpang MRT. Mereka duduk berdua di sebuah gerbong. Obrolan yang tampak seru di antara mereka terus mengalir.
 
Mereka kemudian turun di stasiun MRT Senayan. Sebelum beranjak ke salah satu pusat perbelanjaan untuk santap siang, kedua tokoh itu menggelar konferensi pers.
 
Pada intinya, kedua tokoh itu menyadari pertarungan merebut posisi RI 1 sangat keras. Polarisasi pun tak terhindarkan. Bahkan cenderung sangat tajam.
 
Namun mereka sepakat meminta polarisasi di tengah masyarakat di semua lini segera diakhiri. Mereka berdua kompak siap saling bahu-membahu melanjutkan perjuangan bangsa ke depan.
 
Prabowo mengakui lokasi pertemuan di MRT digagas langsung oleh Jokowi. Ia sangat bersyukur dan bangga dengan keberadaan MRT yang bisa membantu rakyat.
 
"Walaupun seolah-olah pertemuan ini tidak formal tapi saya kira memiliki dimensi dan arti yang sangat penting," kata Prabowo.
 
Jokowi pun mengaku lokasi pertemuan bisa di mana saja, termasuk Istana Kepresidenan, pula di Hambalang. Namun mereka berdua sepakat memilih MRT. Kebetulan, ini adalah pengalaman perdana Prabowo mencicipi MRT Jakarta.
 
Jokowi juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu pengaturan pertemuan yang bersejarah ini. "Saya sangat berterima kasih sekali atas pengaturan sehingga kami bisa bertemu dengan bapak Prabowo Subianto," tegas Jokowi.
 
Arief sangat mengapresiasi inisiatif JK. Bagi Arief, JK menjadi salah satu pihak yang sangat berjasa dalam terselenggaranya pertemuan yang sangat bersejarah ini.
 
Pasalnya pertemuan kedua tokoh itu sangat dinantikan rakyat Indonesia. Pertemuan itu sebagai simbol agar para pendukung di berbagai lini juga mengikuti, saling bersilaturahmi.
 
Karena semuanya adalah anak bangsa satu tanah air dan punya tujuan yang sama; bekerja untuk Indonesia agar mencapai masyarakat adil makmur.
 
Pertemuan ini, lanjut Arief, sekaligus menutup buku cerita pesta demokrasi Indonesia yang diakhiri dengan happy ending dan nantinya bisa menjadi bahan bacaan bagi generasi berikutnya.
 
"Tidak mudah dan tidak gampang mengatur dua tokoh ini bertemu walau keduanya sebenarnya mereka sangat dekat dan bersahabat," ujar Arief.
 

Pesan WA untuk Prabowo
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri) memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden. (MI/RAMDANI).
 

Arief mengungkapkan, sejak 1 Mei lalu, dirinya selalu berkomunikasi dengan beberapa pihak agar apapun hasil Pilpres bisa diterima kedua belah pihak dan mempersatukan kembali para pendukung 01 dan 02.
 
Bahkan pasca-keributan di Bawaslu tanggal 22 Mei, Arief dan JK juga saling berkomunikasi mengatur pertemuan tersebut. Pula saat persidangan sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi berlangsung.
 
"Tapi akhir happy ending pertemuan Kangmas Joko Widodo Dan Mas Bowo. Kita harus salut dan berterima kasih sama Pak JK. Pak JK Punya peran Besar dalam pertemuan Prabowo -Joko Widodo," tandasnya.

Tetap menunggu

Analis Politik Exposit Strategic, Arif Susanto meniIai pertemuan perdana Jokowi-Prabowo pasca-Pilpres ini memberi signal kuat rekonsiliasi nasional. Pendekatan informal Jokowi, yang mengajak Prabowo naik MRT dan makan bersama, berperan penting mencairkan komunikasi yang selama ini beku oleh kerasnya persaingan politik mereka.
 
"Gaya kasual yang mereka bawa pada akhir pekan juga merelaksasi tegangan yang selama ini mewarnai perkubuan politik," ujar Arif kepada Medcom, Sabtu 13 Juli 2019.
 
Pesan persatuan yang mereka gemakan, lanjut dia, menunjukkan respek satu sama lain dan kehendak baik untuk tidak ngotot ingin menang sendiri. Meski agak terlambat, ucapan selamat Prabowo atas kemenangan Jokowi juga patut diapresiasi.
 
"Hal ini dapat menjaga legitimasi hasil Pemilu sekaligus menempatkan yang menang terhormat dan yang kalah tetap bermartabat," terang dia.
 

Pesan WA untuk Prabowo
Analis politik Exposit Starategic Arif Susanto--Medcom.id/Arga Sumantri.
 

Kendati demikian, kita masih harus menunggu tiga hal pokok setelah ini. Pertama, sejauh mana pesan persatuan tersebut diimplementasikan hingga ke level akar rumput. Kedua, apakah terdapat konsistensi antara pernyataan lisan dan praktik rekonsiliasi. Terakhir, apakah rekonsiliasi akan segera diikuti pembagian kekuasaan atau bentuk-bentuk lain transaksi politik.
 
Selain harus diimplementasikan pada seluruh tataran, langkah awal rekonsiliasi ini seharusya juga mengakhiri gugatan hukum atas hasil Pemilu. Yang masih perlu diawasi adalah agar jangan sampai hal ini dibarter dengan penangguhan penanganan perkara-perkara hukum yang melibatkan sejumlah elite politik.
 
"Demikian pula, hal ini agar tidak lantas sekadar bermuara pada akomodasionisme politik, yang berpeluang membuat absennya oposisi yang kuat sekaligus kredibel," pungkas dia.
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif