Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ

Gereja dan Revolusi Indonesia

Medcom Files Dari Gereja Merawat Indonesia
Sri Yanti Nainggolan • 25 Desember 2018 17:08
"Kemanusiaan itu satu.
Bangsa manusia itu satu.
Kendati berbeda merupakan satu keluarga besar."

 
Demikian monolog yang membuka film Soegija (2012). Berlatar perang kemerdekaan Indonesia (1940-1949), film biopik besutan sutradara Garin Nugroho itu mengisahkan kehidupan Monsinyur (Mgr.) Albertus Soegijapranata, SJ atau Soegija, uskup pribumi pertama.
 
Terlepas dari kuatnya sisi kemanusiaan Soegija dalam film tersebut, sang uskup memang sosok fenomenal di eranya. Dia anti-Belanda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Ya, di masa itu rasanya aneh bila melihat pemimpin Kristen menolak tunduk kepada kolonial Belanda. Mafhum, cap sebagai agama yang dibawa penjajah lumayan kental, membuat orang Kristen -- baik Protestan maupun Katolik, mudah didakwa antek Belanda. Sebaliknya, mungkin Belanda sendiri tak menyangka bila Soegija sebagai pemimpin umat Katolik berani berseberangan. Secara terbuka, Soegija aktif menyuarakan kedaulatan bangsa Indonesia.
 
Pada masa agresi militer Belanda (1946), tak lama setelah ibukota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, Soegija juga memindahkan pusat keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta.
 
"Ini menunjukkan konsistensi Soegija, dia lebih memihak Indonesia, bukan Belanda," ujar pemuka agama Katolik yang juga sejarawan F.X. Baskara Tulus Wardaya saat berbincang dengan Medcom Files, Rabu, 12 Desember 2018.
 

Gereja dan Revolusi Indonesia
Sutradara film Soegija, Garin Nugroho. (ANTARA)
 

Bahkan, melalui saluran radio, Soegija berpesan kepada umat Katolik untuk turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kutipannya yang terkenal adalah '100% Katolik 100% Indonesia'.
 
Malah, sejarawan Anhar Gonggong mengatakan, saat itu Soegija mengajak umat Katolik untuk terlibat langsung dalam revolusi Indonesia. "Jangan pulang sebelum mati," kata Anhar mengutip salah satu bagian dalam pidato Soegija.
 
"Beliau (Soegija) begitu mencintai Indonesia dan ingin umatnya untuk memperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Boleh pulang kalau sudah mati. Kalau masih hidup, terus berjuang," tambah Anhar dalam perbincangan kami, Kamis, 13 Desember 2018.
 

Gereja dan Revolusi Indonesia
Sejarawan Anhar Gonggong (kanan). (ANTARA)
 

Tak hanya mengobarkan semangat juang, pada 1948, Soegija juga aktif mengabarkan keadaan Indonesia ke dunia luar. Dia mengirimkan beberapa tulisan tentang revolusi Indonesia ke majalah komunitas Katolik global, Commonweal.
 
Dalam tulisannya, Soegija kerap mengabarkan bencana kelaparan yang terjadi di Indonesia akibat agresi militer Belanda. Dia mendesak agar dunia internasional memberi tekanan kepada Belanda untuk menghentikan aksi militernya.
 
"Perjuangan Indonesia jadi diketahui oleh dunia internasional. Selain itu, Vatikan berpengaruh pada dunia," ujar Baskara.
 
Bicara soal diplomasi dan mencari dukungan untuk kedaulatan Indonesia, di kelompok Islam ada tokoh sekelas Agus Salim yang gencar membuka jaringan ke negara-negara Timur Tengah. Sementara dari kelompok Kristen, khususnya Katolik, ada Soegija yang rajin berkorespondensi dengan tahta suci Vatikan.
 
Sebagai respon, pada Desember 1947 Vatikan mengirim utusannya ke Indonesia. Dia adalah seorang uskup berkebangsaan Belgia, Mgr. Georges de Jonghe d'Ardoye.
 
Saat itu Uskup Georges langsung menemui Presiden Sukarno di Yogyakarta. Saat itu pula hubungan diplomatik Indonesia - Vatikan dibuka. Dengan begitu, bertambahlah negara yang mengakui kedaulatan Indonesia.
 

Gereja dan Revolusi Indonesia
Mgr. Georges de Jonghe d'Ardoye (kiri) bertemu Presiden Soekarno (tengah) di Yogyakarta, didampingi Mgr. Albertus Soegijapranata. (Perpusnas-Ipphos)
 

Soegija dan Soekarno

Dari perjuangan berbuah pertemanan. Begitulah hubungan Soegija dengan sosok Soekarno di masa kemerdekaan. Hubungannya terjalin sejak masa agresi militer Belanda, dan semakin erat kala ibukota dan pusat keuskupan sama-sama di Yogyakarta.
 
Si Bung Besar sangat menghargai Soegija sebagai pemimpin umat Katolik. Pada sisi lain dia menghormatinya sebagai teman seperjuangan.
 
Bahkan, rasa itu tak luntur meski keduanya sempat berbeda pandangan di masa krisis politik pada 1950-an. Presiden Soekarno mendorong agar kelompok nasionalis, agama dan kaum komunis bisa berdampingan dalam politik Indonesia. Soegija tidak setuju.
 
"Soegija sosok anti-komunis. Berseberangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia)," kata Baskara.
 
Puncaknya, pada 1954 Soegija membentuk organisasi Buruh Pancasila untuk menahan gelombang komunisme di kalangan buruh.
 
Tapi komunikasi keduanya tetap terjaga. Pada 1961, saat Soekarno berkunjung ke Perguruan Tinggi Keguruan Katolik IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, Soegija dan Soekarno terlihat akrab. Di sana, kedua tokoh sempat bersama-sama menanam pohon beringin. Dan, hingga kini pohon tersebut masih berdiri kokoh di kampus Sanata Dharma.
 
Tanpa disangka, pada 22 Juli 1963 berita duka tentang Soegija sampai di telinga Soekarno. Sang sahabat dikabarkan meninggal dunia di Belanda, setelah menghadiri pemilihan Paus di Vatikan.
 
Sebuah respon sontak muncul, Presiden tak ingin Soegija dimakamkan di Belanda. Atas perintahnya, jenazah Soegija pun dibawa ke Jakarta dengan pesawat khusus.
 
Duka Soekarno berbaur dengan duka umat Katolik, juga duka rakyat Indonesia. Semua surat kabar nasional memberitakan kepergian uskup pejuang merah-putih itu.
 
Selang 4 hari, pada 26 Juli 1963, sebuah Keputusan Presiden (Keppres) bernomor 152/1963 dikeluarkan oleh Soekarno. Dalam keputusan tersebut, Soegija dicatat sebagai pahlawan nasional.
 

 

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif