Ketika Korban Bencana Menanti Kepastian

M Rodhi Aulia 31 Oktober 2018 14:17 WIB
Yang Alpa di Tanah Bencana
Ketika Korban Bencana Menanti Kepastian
Seorang warga korban bencana di Sulawesi Tengah sedang melihat desanya yang sudah rata dengan tanah akibat gempa. (Medcom/M Rodhi Aulia)
SEKITAR 15 tahun lalu, Imam Syafi'i merantau dari Banyuwangi, Jawa Timur ke Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Dia datang dengan tangan kosong.

Berusaha bertahan hidup di perantauan, itu pasti. Beberapa pekerjaan satu persatu dijalani, hingga akhirnya memutuskan untuk merintis usaha. Imam membuka warung makan, menjual nasi campur, bakso dan lain-lain.

Berhasil. Dari usaha kecil-kecilan itu dia bisa membeli sebidang lahan, persis di pinggir jalan raya Poros Palu-Palolo. "Ini ukuran lahan saya 13x15 meter. Dulu (harga per meter) Rp50 ribu. Kalau sekarang sudah Rp1 juta permeter," kata Imam saat berbincang dengan Medcom Files di Desa Lolu, Biromaru, Sigi, Selasa, 30 Oktober 2018.

Usahanya berjalan lancar. Terakhir, rata-rata omzet yang didapat sekitar Rp6-7 juta perhari. Cukup untuk membesarkan hati si perantau.

Tapi, tak disangka, usaha yang dirintisnya dari nol itu mendadak lenyap. Gempa besar yang mengguncang Sulteng pada akhir September 2018 lalu memporak-porandakan warungnya.

"Saat itu saya sedang melayani pembeli. Gempa tiba-tiba terjadi," kenangnya.

Dia panik, begitu juga para pembeli yang ada di dalam warungnya. Saat gempa terjadi, semua berlarian ke luar menyelamatkan diri. Semua pembeli tunggang-langgang tidak sempat membayar.

"Saya tidak masalah (mereka tidak bayar)," ucap Imam memaklumi peristiwa tersebut.

Beruntung Imam dan semua anggota keluarganya selamat. Kini mereka tinggal di pengungsian.

Imam merasa sangat bersyukur, bantuan makanan dan kebutuhan harian terus berdatangan. Nyaris tidak ada masalah dengan hal itu. Tapi, pikirannya tidak tenang. Warung yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya sudah hancur.

Sesekali Imam pergi meninggalkan pengungsian. Dia mengunjungi lahannya, sambil sedikit demi sedikit menata kembali warungnya. "Saya bangun pondok kecil-kecilan."



Imam Syafi'i. (Medcom/M Rodhi Aulia)
 

Imam galau. Dia sedang menunggu satu hal penting dari pemerintah, apakah diperbolehkan membangun kembali warungnya di lokasi semula, atau tidak?

"Ini layak ditempati lagi atau tidak. Itu saja pertanyaan saya," ujarnya.

Hingga sebulan pascabencana, Imam sama sekali belum menerima informasinya dari pemerintah. Harapannya diizinkan. Jika tidak, dia tetap legawa dan siap menerima kebijakan relokasi.

Luas lahannya pun tidak harus sama dengan sebelumnya. Dirinya ikhlas jika pemerintah atau pihak lain memberikan tempat tinggal.

Berbeda dengan Anhar Kadir Ja'far. Warga Petobo, Palu, Sulteng ini memastikan, lahan yang semula ditempatinya tidak mungkin bisa dipakai lagi. Pasalnya, bencana likuifaksi yang menimpa kampungnya sangat dahsyat. Ribuan rumah dan bangunan hilang ditelan bumi.

Pria yang lahir di desa setempat itu tampak yakin, warga lainnya juga berpikir sama. Kawasan Petobo yang dilumat likuifaksi tak bisa lagi didirikan hunian.

"Kalau bagi saya, ini Petobo tidak bisa lagi dihuni. Karena kondisinya dia lumpur. Suatu saat ada gempa, pasti dia kembali lagi," kata Anhar di hari yang sama di pengungsian.

Kabar yang menguat di tengah warga, Petobo akan dijadikan monumen. Apalagi Anhar mengakui, Petobo dulunya laut.

Saat dia masih kecil, Anhar sangsi dengan cerita turun-temurun itu. Dia mulai percaya ketika ada pembuatan sumur. Hingga kedalaman enam meter airnya terasa asin. Air sumur baru bisa dirasakan normal ketika kedalaman sumurnya minimal delapan meter.

"Ini tanahnya juga diurug," katanya.



Anhar Kadir Ja'far. (Medcom/M Rodhi Aulia)


Ihwal relokasi, Anhar dan Imam sama-sama mengaku belum mendapat informasinya. Keduanya menunggu, ke mana mereka akan dipindahkan secara permanen.

Namun, sejauh ini mereka mendapatkan janji akan disiapkan hunian sementara. Saat ini kondisinya masih dibangun.

Jika pemerintah memberikan hunian permanen, Anhar sangat berterima kasih. Dia juga tidak mempermasalahkan luas huniannya nanti.

"Saya tidak menuntut sama dengan itu (lahan yang lama). Yang penting kita bisa berteduh. Saya juga sudah bilang ke keluarga, berapa kali berapa pun rumah itu harus kita syukuri," katanya.
 

Menunggu peta dasar

Pemerintah masih bekerja memastikan lokasi mana yang tepat dan aman sebagai lahan relokasi korban bencana di Sulteng. Salah satu lembaga yang mengkajinya adalah Badan Informasi Geospasial (BIG).

Lembaga yang dipimpin Hasanuddin Z Abidin ini tengah membuat peta dasar wilayah terdampak bencana di Sulteng. Jika sudah rampung, pemerintah setempat bisa menentukan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) lebih detail.

Jadi, mulai dari penataan ruang, relokasi penduduk, perbaikan drainase, pembangunan infrastruktur dan lain-lain, akan mengacu dari peta dasar ini.

Kini tim BIG berada di lapangan. Survei langsung ke sejumlah wilayah terdampak bencana sedang dilakoni. Bahkan Kepala BIG Hasanuddin turut meninjau.



Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z Abidin. (Medcom/M Rodhi Aulia)


Di hari pertama kedatangannya, Rabu, 31 Oktober 2018, dia menyambangi Posko Bencana di kantor Pemprov Sulawesi Tengah. Di sana Hasanuddin bertemu dengan perwakilan Kementerian Sosial dan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA).

"BIG sudah diminta oleh Bappenas. Jadi kita akan memetakan ulang kawasan ini, ada yang skalanya 1.1000 dan 1.5000. Tapi, kalau bisa kita buat 1.1000 lah," katanya saat berbincang dengan Medcom Files di lokasi.

Kedatangan Hasanuddin dirasa penting, dirinya harus bertemu sejumlah pemangku kebijakan untuk berkoordinasi dan sinkronisasi data. Menurutnya, semua itu perlu dilakukan segera, apalagi terkait rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan terdampak bencana.

"Insya Allah kita mulai segera. Saya ke lapangan ini untuk melihat kondisinya, kita cek titik-titik kontrol geodesi yang masih ada, dan bertemu banyak pihak terkait," terangnya.

Sesuai permintaan Bappenas, Hasanuddin menargetkan peta dasar ini akan rampung pada Januari 2019.



(COK)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id