Foto udara sejumlah kendaraan parkir di rest area Penarukan, jalan tol Pejagan-Pemalang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (30/5/2019). Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah
Foto udara sejumlah kendaraan parkir di rest area Penarukan, jalan tol Pejagan-Pemalang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (30/5/2019). Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah

Dicegat Produk Lokal di Rest Area

Medcom Files Ditunggu di Rest Area
M Rodhi Aulia • 16 Desember 2019 17:57
SEKITAR dua tahun lalu, Sarita Sutedja bersama rekan lainnya mengawali bisnis di rest area KM 57 tol Jakarta-Cikampek. Di bawah naungan Cita Rasa Prima (CRP) group, Sarita membuka satu outlet dengan brand Warunk Upnormal, 29 September 2017.
 
Outlet yang menjajakan olahan mie instan kekinian itu merupakan outlet pertama CRP group di rest area (tempat istirahat). Seiring berjalannya waktu, CRP melihat potensi bisnis yang menjanjikan.
 
CRP berupaya 'mencegat' para traveler (pelancong) dengan sajian produk lokal lainnya. Masih di lokasi yang sama, CRP membuka outlet baru dengan brand Bakso Boedjangan atau 633 hari pasca-Warunk Upnormal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
"Masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan makan minum khas Upnormal dan Bakso Boedjangan tak perlu menunggu lama-lama lagi sampai ke kota Bandung. Mereka dapat menikmati menu tersebut di rest area sembari beristirahat," kata Deputy Director Corporate Communications CRP Group, Sarita Sutedja kepada Medcom Files, Sabtu 14 Desember 2019.
Dicegat Produk Lokal di <i>Rest</i> <i>Area</i>
 

Namun upaya mencegat traveler di rest area bukan tidak ada tantangan. Sarita mengakui pelayanan konsumen di rest area tentu berbeda dengan outlet di lokasi lainnya.
 
CRP mengantongi kebiasaan para traveller di rest area. Mereka pada umumnya menghabiskan waktu sekitar 30 menit sampai 2 jam untuk makan dan minum sambil beristirahat.
 
Waktu tersebut dioptimalkan oleh kedua brand untuk menghadirkan pengalaman asiknya menikmati menu makan-minum yang tak terlupakan. Utamanya dengan beragam menu khas Nusantara serta sajian Kopi Indonesia.
 
"Mereka memiliki kebutuhan untuk speed, proses yang lebih cepat. Karena biasanya mereka yang singgah di rest area tidak memiliki keinginan untuk nongkrong," terang Sarita.
 
Di samping itu, sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, manajemen, operasional, supply chain management (manajemen rantai pasokan) dan beberapa faktor lainnya, juga menjadi tantangan. Akan tetapi, kata Sarita, kedua brand dari CRP Group tersebut tetap bersuka cita karena bisa menghadirkan kebahagiaan dalam bersantap di mana pun berada.
 

Dicegat Produk Lokal di <i>Rest</i> <i>Area</i>
Suasana di KM 57 rest area tol Jakarta-Cikampek. Foto: Dok. CRP
 

Tak Takut
Presiden Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 9 Desember lalu, berkomitmen menggeser dominasi waralaba asing di rest area. Jokowi ingin produk lokal dapat mendominasi.
 
Sarita menegaskan, pihaknya tak takut banyak saingan dalam menjegat traveller di rest area. Bahkan, pihaknya mendukung penuh peningkatan produk lokal di rest area.
 
Menurut Sarita, dengan adanya kebijakan tersebut akan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja yang lebih luas dan meningkatkan penggunaan bahan baku lokal. Persaingan brand lokal yang akan tumbuh kemudian hari di rest area menjadi stimulan bagi setiap brand untuk berlomba-lomba menunjukan kapabilitas, kualitas dan potensi di masyarakat.
 
Sektor kuliner merupakan penyumbang petumbuhan tertinggi dalam pencapaian pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Hal itu tampak dari pidato pembukaan Indonesia Innovation Forum 2019 (IIF 2019) oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Wishnutama Kusubandio.
 
"Target pertumbuhan sektor ekonomi kreatif pada 2019 adalah sebesar Rp1,211 triliun dan akan terus meningkat kedepannya. Perlu dicatat pencapaian pertumbuhan sektor ekonomi kreatif tanah air berasal dari sub sektor unggulan yang menyumbang pertumbuhan tertinggi yaitu kuliner, fashion dan kriya," kata Whisnutama, 11 Desember 2019.
 

Dicegat Produk Lokal di <i>Rest</i> <i>Area</i>
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wisnutama Kusubandio (kanan) di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
 

Dari pernyataan Whisnutama itu, Sarita meyakini kuliner tentunya akan tetap menjadi salah satu sektor yang akan dibina lebih serius lagi oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Akan tetapi Sarita berharap peningkatan kualitas dan kuantitas produk lokal harus juga didukung dengan penciptaan ekosistem yang menyeluruh untuk para pebisnis lokal.
 
"Jadi bukan hanya dititikberatkan hanya di bidang pendanaannya saja. Walaupun pendanaan merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. Transfer teknologi, akses terhadap pengetahuan, best practice dalam mengelola bisnis, aspek legal, akses pengelolaan keuangan, platform edukasi yang mudah diakses oleh pebisnis umum, dan lain-lain merupakan sedikit dari beberapa hal yang penting untuk bisa mendorong pertumbuhan bisnis yang memiliki kualitas dan kuantitas produk yang mampu bersaing dengan produk global," beber Sarita.
 


 
(WAN)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif