Video itu disebar pada 2 Mei 2021. Video berdurasi 30 detik itu terjadi di India. Pemilik akun menambahkan narasi bertuliskan sebagai berikut:
"Government to Villagers: “It’s time for your COVID-PCR Test...”
Indian Villagers to Government:"
Terjemahan: "Pemerintah kepada para warga: “Ini saatnya kalian melakukan tes COVID-PCR…”
Warga India kepada Pemerintah:"
![[Cek Fakta] Video Warga India Menyerang Mobil Tenaga Medis Menolak Tes PCR? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/Screen%20Shot%202021-05-10%20at%2012_45_28.png)
Penelusuran:
Dari hasil penelusuran, klaim bahwa video yang beredar memperlihatkan sejumlah warga India menyerang mobil nakes untuk menolak tes PCR adalah salah. Faktanya, warga menyerang mobil polisi untuk melampiaskan kemarahan setelah seorang remaja warga sekitar diduga disiksa oleh polisi saat proses interogasi.
Dilansir AFP, pencarian kata kunci di mesin pencari ditemukan berita terkait video tersebut pada media daring lokal Odisha TV, pada Januari 2021. Video tersebut tentang perselisihan antara penduduk setempat dan polisi di Haturai, sebuah desa di distrik Bhadrak di negara bagian India timur, Odisha, setelah kematian seorang tahanan.
Laporan media lokal itu menampilkan foto van putih yang identik dengan video yang beredar. Video memperlihatkan kemarahan warga setempat yang merusak mobil polisi karena seorang remaja warga sekitar diduga disiksa oleh polisi saat proses interogasi ditemukan tewas karena bunuh diri pada 13 Januari 2021 lalu.
"Marah atas dugaan bunuh diri seorang pemuda, penduduk sebuah desa di distrik Bhadrak membakar sebuah van polisi pada hari Rabu. Menurut sumber, pemuda itu diinterogasi polisi terkait kasus baru-baru ini. Keluarga pemuda tersebut menuduh dia diserang oleh polisi selama interogasi. "
![[Cek Fakta] Video Warga India Menyerang Mobil Tenaga Medis Menolak Tes PCR? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/Screen%20Shot%202021-05-10%20at%2012_54_30.png)
Seorang pejabat polisi mengatakan kepada The Quint , sebuah situs berita India, bahwa video tersebut direkam di distrik Bhadrak di Odisha: “Insiden itu terjadi di bawah [yurisdiksi] kepolisian Tihidi pada bulan Januari. Beberapa orang kemudian mulai menyerang polisi setempat. "
BOOM Live, situs pengecekan fakta India, juga membantah video yang sama setelah beredar dengan klaim palsu yang berbeda tentang kekerasan pasca-pemungutan suara di Benggala Barat.
![[Cek Fakta] Video Warga India Menyerang Mobil Tenaga Medis Menolak Tes PCR? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/Screen%20Shot%202021-05-10%20at%2012_56_21.png)
Kesimpulan:
Klaim bahwa video yang beredar memperlihatkan sejumlah warga India menyerang mobil nakes untuk menolak tes PCR adalah salah. Faktanya, warga menyerang mobil polisi untuk melampiaskan kemarahan setelah seorang remaja warga sekitar yang diduga telah disiksa oleh polisi saat proses interogasi.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
![[Cek Fakta] Video Warga India Menyerang Mobil Tenaga Medis Menolak Tes PCR? Ini Faktanya](https://cdn.medcom.id/images/library/images/WhatsApp%20Image%202020-08-07%20at%2018_30_14-6(163).jpeg)
Referensi:
https://factcheck.afp.com/indian-villagers-are-not-rebelling-against-covid-19-testing-social-media-video
https://odishatv.in/odisha-news/mob-torches-police-van-after-youths-death-in-bhadrak-509246
https://archive.md/3hapY
*Kami sangat senang dan berterima kasih jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta, kemudian melaporkannya melalui surelcekfakta@medcom.idatau WA/SMS ke nomor082113322016
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News