Mbiz Indonesia

E-Commerce B2B, Pasar yang Belum Tersentuh di Indonesia

Cahyandaru Kuncorojati 05 April 2018 12:58 WIB
teknologitech and life
E-Commerce B2B, Pasar yang Belum Tersentuh di Indonesia
COO & CO-Founder platform Mbiz Ryn Hermawan.
Jakarta: Salah satu bentuk dari kehadiran internet adalah menjamurnya layanan dalam bentuk digital. Layanan digital hadir dengan keunggulan yang seperti sudah diketahui, yakni mempermudah segala sesuatu yang awalnya rumit dan membutuhkan waktu.

Bisnis ritel tidak luput dari internet. Bisnis ini beralih menjadi layanan digital yang kita kenal sebagai e-commerce. Konsumen bisa membeli sesuatu dalam jumlah banyak sekaligus tanpa harus melihat langsung, cukup dari komputer atau ponsel.

Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa e-commerce yang ada di Indonesia hanya jenis B2C (business to consumer). Padahal ada satu lagi jenis e-commerce yang sebetulnya masih jarang tersentuh dan bisa lebih menguntungkan ketimbang B2C, yakni e-commerce B2B (business to business).


"Permasalahannya di Indonesia, pangsa potensi untuk e-commerce B2B tidak memiliki data yang banyak. Di Tiongkok, Alibaba pertama kali hadir justru sebagai e-commerce B2B, baru kemudian menghadirkan B2C," ungkap COO sekaligus Co-Founder Mbiz Ryn Hermawan.

Menurut pria yang memiliki pembawannya santai ini saat ditemui di kantornya Gedung Lippo Kuningan, Jakarta, B2B adalah pangsa pasar yang belum tersentuh di Indonesia, sehingga peluangnya masih sangat besar. Namun, tantangannya juga tidak sedikit.

"Waktu itu data yang sedikit menyebutkan bahwa pasar B2B Indonesia lebih besar dua kali lipat dari B2C, ini bagus tapi kami tidak percaya. Di Tiongkok dan Korea saja, pasar B2B bisa puluhan kali lipat lebih besar dari B2C," ungkapnya pria yang akrab disapa Ryn.

Mbiz memang layanan e-commerce yang punya katalog produk tidak seperti pemain lain yang menjual sandang, pangan, dan papan. Mbiz berisi produk-produk yang dibutuhkan perkantoran atau organisasi bisnis. Ini mungkin terasa membingungkan untuk mereka yang baru pertama kali mengaksesnya.



Kebingungan ini dijawab dengan sangat antusias oleh Ryn. Dia menjelaskan bahwa Mbiz merupakan e-commerce B2B yang menurutnya belum ada satupun di Indonesia yang menyerupainya.

Alih-alih menjual produk fashion dan gadget, Mbiz yang didirikan sejak 2016 menyediakan produk dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh perkantoran dan organisasi bisnis, misalnya alat telekomunikasi, perlengkapan kantor, peralatan industri dan lain-lain.

"Jadi kita memberikan sebuah solusi end to end bagi perusahaan atau organisasi bisnis dalam proses pengadaan barang di sebuah korporasi atau yang biasa disebut procurement. Kita mendigitalisasi proses yang dahulu harus dilakukan dengan membuka buku kuning dan menghubungi satu per satu vendor penyedia barang, lalu harus membuat perjanjian dan lain-lain," tutur Ryn.

Lewat Mbiz, semua prosesnya dilakukan secara digital termasuk proses pencatatan transaksi dan perizinannya. Tentu saja hal ini akan memudahkan sebuah organisasi bisnis atau korporasi saat pengadaan barang dan proses udit karena seluruh prosesnya sudah digital.

Tentu saja model bisnis e-commerce B2B bukan hal yang lumrah di Indonesia. Ryn sendiri mengakui saat pertama kali diajak untuk menciptakan Mbiz, dirinya bingung dengan model bisnis yang harus diajukan agar diterima di Indonesia, yang waktu itu platform procurement dalam bentuk digital masih terasa asing.

"Saat itu kita berpikir bahwa kita harus create sesuatu yang membuat customer atau perusahaan yang menggunakan layanan kita tidak beralih menggunakan layanan lainnya, karena hanya kita yang mampu menyediakannya, yaitu end to end solution procurement. Betul, ternyata di tahun pertama Mbiz berdiri pertumbuhannya sudah positif," jelas Ryn dengan raut wajah yang menandakan kepuasannya.

Ryn mencontohkan, e-commerce lain mungkin menawarkan produk yang sama, tapi di Mbiz, customer akan mendapatkan penjelasan dan bantuan untuk mencari produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis. Dalam proses procurement, seluruh tahapannya juga dibantu oleh Mbiz sehingga perusahaan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pengadaan barang.



Secara gamblang, Ryn mempersingkat penjelasannya bahwa yang Mbiz tawarkan bukan semata-mata produk layaknya bisnis ritel, melainkan value layanan atau solusi atas kegiatan procurement yang pasti ditemui di setiap organisasi bisnis atau perusahaan.

Meskipun Mbiz sudah melewati fase pertama sebuah startup, yakni mengeksekusi idenya dan kini tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang matang, Ryn mengakui bukan hal mudah. Dia enggan menyebut bahwa pangsa pasar B2B lebih mudah atau lebih sulit dari B2C.

Pengalaman belasan tahun di sebuah perusahaan logistik internasional besar di Indonesia dan juga mencicipi perusahaan ritel tiga besar di Indonesia membuat Ryn memberikan jawaban yang sangat bijak.

"Tantangannya sama, kita harus tahu need customer kita dan bagaimana cara akusisi customer yang tepat. Di satu sisi, e-commerce B2B juga masih baru, di Indonesia kebanyakan perusahaan masih konservatif dalam proses procurement. Makanya kita butuh edukasi multilayer, ke petinggi perusahaan hingga pegawai, karena di perusahaan pengambil keputusannya berlapis," jelas Ryn.

"Namun, harus saya akui bahwa e-commerce B2C juga yang membantu kami di Indonesia. Customer di Indonesia sudah lebih dulu terbiasa dengan layanan e-commerce, mereka memahami kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan. Ketika kami hadir dengan platform e-commerce B2B maka mereka tidak perlu waktu lama untuk memahaminya," imbuh Ryn.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.