Chief Operational Officer & Co-fouder TSM Technologies, Riswanto.
Chief Operational Officer & Co-fouder TSM Technologies, Riswanto.

Bukan Cuma Pakai dan Rakit, Indonesia Harus Kembangkan R&D

Teknologi tech and life
Cahyandaru Kuncorojati • 09 April 2019 15:06
Jakarta: Perkembangan teknologi membuat beberapa perusahaan yang didominasi asing melihat Indonesia sebagai lahan yang masih subur. Indonesia dianggap sebagai pasar industri IT yang bakal besar dalam beberapa tahun mendatang.
 
Namun, terlepas dari optimisme ini, faktanya Indonesia masih akan menjadi konsumen dari perkembangan teknologi yang tumbuh di negaranya. Bukan inventor. Padahal, kesempatan Indonesia untuk belajar dari teknologi yang masuk bisa menjadi bahan untuk berinovasi.
 
Menurut Chief Operational Officer & Co-founder TSM Technologies, Riswanto, seharusnya di tengah perkembangan teknologi saat ini, Indonesia juga fokus ke aspek R&D atau penelitian dan pengembangan. Jadi, Indonesia bisa memiliki teknologi yang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


TSM Technologies adalah salah satu perusahaan R&D Tanah Air yang menyediakan solusi end to end untuk pengembangan teknologi yang sudah berdiri sejak 2012.
 
"Di 2014 kebetulan 4G mulai masuk ke Indonesia, dan menjadi peluang bagi TSM untuk menyediakan solusi end to end teknologi sekaligus R&D. Terutama di perangkat berbasis seluler dan perangkat telekomunikasi lainnya," tutur Riswanto.
 
Bukan Cuma Pakai dan Rakit, Indonesia Harus Kembangkan R&D
 
Dalam percakapan dengan Medcom.id, dia merasa prihatin dengan Indonesia yang hanya sebagai konsumen teknologi dan industrinya di Tanah Air. Kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang diberlakukan Kementerian Perindustrian bagi perangkat telekomunikasi dinilai memiliki dua sisi bagi perkembangan teknologi Indonesia.
 
"Saat TKDN diberlakukan, TSM Technologies memiliki kesempatan untuk mendesain software dan hardware untuk smartphone 4G pertama," jelas Riswanto.
 
Hal ini jadi kebanggan bagi TSM Technologies karena karya mereka sebagai perusahaan R&D bisa diwujudkan dalam produksi massal. Namun, dia juga menyayangkan bahwa kemudian fasilitas manufaktur yang menyerap lapangan kerja hanya sebatas mengandalkan keahlian yang rendah.
 
Riswanto melihat keahlian dibidang mikro eletrronika dan telekomunikasi yang dimiliki sumber daya manusia Indonesia justru kurang terserap. Keahlian di bidang R&D yang seharusnya bisa membuahkan karya kemudian hanya bekerja di dalam lab untuk melakukan pengecekan.
 
"Engineer kan aset berharga dengan keahlisan yang spesifik. Jadi sangat sayang bahwa di Indonesia peluang bagi mereka masih sedikit, terutama di bidang hardware. Berbeda dari engineer di bidang software yang kini jumlahnya semakin banyak dan diserap oleh startup yang bermunculan," beber Riswanto.
 
Riswanto menekankan bahwa engineer di bidang R&D hardware juga memiliki posisi penting. Hardware menjadi testbed atau basis dari sebuah software. Saat R&D di hardware sangat berkembang, semakin banyak inovasi yang tercipta.
 
Bukan Cuma Pakai dan Rakit, Indonesia Harus Kembangkan R&D
 
"Indonesia mungkin jadi dengan populasi terbesar keempat di dunia, tapi saat ini inovasi dan hak paten yang didaftarkan masih sedikit jumlahnya. Padahal, jumlah tersebut juga jadi indikator perkembangan teknologi sebuah negara. Bandingkan dengan Tiongkok yang daftar hak paten inovasi teknologinya sangat banyak," jelas Riswanto.
 
Dalam hal ini menurut Riswanto, posisi Indonesia masih sebagai system integrator, menggunakan paten luar untuk dikembangkan bersama di Indonesia. Riswanto menyebut hal ini memiliki sisi positif, karena memberikan kesempatan untuk melakukan transfer ilmu kepada sumber daya manusia di Indonesia.
 
Dari sini pengembangan aspek R&D tidak bisa dilihat sebatas menyediakan fasilitas riset berteknologi canggih untuk berinovasi. Riswanto menyebut sumber daya manusia juga jadi aset penting.
 
"Kemampuan engineer di Indonesia sebetulnya tidak kalah dengan asingm tapi mereka di sini tidak bisa memiliki jam terbang yang banyak karena memang tidak terlalu terserap oleh industrinya. Mereka juga sebatas melakukan pekerjaan lab yang berulang dan tidak memiliki kesempatan berinovasi," beber Riswanto.
 
Bagi Riswanto, resume atau curriculum vitae sempurna bukan sebuah indikator. Passion adalah hal yang dicari karena bagi TSM Technologies passion sebagai engineer artinya memiliki keinginan untuk mencari tantangan baru. Intinya memicu mereka untuk berinovasi, berpikir di luar konteks.
 
Bukan Cuma Pakai dan Rakit, Indonesia Harus Kembangkan R&D
 
"Di kita, engineer TSM Technologies tidak semua lulusan perguruan tinggi tapi mereka punya passion dan semua kita invest untuk melakukan studi di luar atau pelatihan dari perusahaan teknologi luar. Bahkan ada beberapa engineer yang kemudian memilih untuk bekerja di TSM Technologies karena di sini mereka diberikan kesempatan nyaberinovasi," tutur Riswanto.
 
Dia mengaku kadang cemas aset engineer mereka "dibajak" oleh perusahaan, terlepas pada akhirnya tidak menjadi masalah. TSM menyadari bahwa profesi sebagai engineer juga butuh regenerasi, sehingga mereka juga bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah vokasi lewat beberapa program kerja sama.
 
TSM Technologies juga baru saja membuka kantor cabang di Shenzhen, Tiongkok. Menurut Riswanto, ini adalah sebuah prestasi karena perusahaan lokal bisa buka cabang di negara lain. Tujuannya adalah untuk membangun engineer dari luar sehingga bisa menyediakan transfer ilmu kepada mereka yang di Indonesia.
 
Bukan Cuma Pakai dan Rakit, Indonesia Harus Kembangkan R&D
 
"Persaingannya sehat. Semakin banyak perusahaan seperti TSM Technologies juga bisa mendorong munculnya kesadaran dan perhatian dari pemerintah bahwa aspek R&D di Indonesia juga harus dibangun, tidak hanya menyediakan kebijakakan TKDN," jelas Riswanto.
 
Ke depannya, TSM mengklaim sudah memiliki roadmap untuk mengembangkan R&D sekaligus solusi diberagam bidang industri tidak terbatas di solusi software dan hardware untuk produk konsumen.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif