Rober Kayatoe

Manusia, Sumber Daya Terpenting dalam Transformasi Digital

Lufthi Anggraeni 30 Maret 2018 18:18 WIB
tech and life
Manusia, Sumber Daya Terpenting dalam Transformasi Digital
Managing Director Hitachi Vantara Indonesia Robert Kayatoe.
Jakarta: Transformasi digital kini tengah terjadi di berbagai industri di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Namun sejumlah pihak, termasuk Managing Director Hitachi Vantara Indonesia Robert Kayatoe, meyakini bahwa tranformasi ini pasti terjadi dan telah menjadi suatu keniscayaan.

Transformasi digital dinilai pria yang akrab disapa Rebort ini tidak hanya mengacu pada hal komputerisasi. Sebab menurutnya, saat ini transformasi digital sudah lebih dari sekadar komputerisasi.

Hal ini juga didukung oleh tren penggunaan perangkat pribadi untuk pekerjaan atau Bring Your Own Device (BYOD) yang digunakan sebagai komputer, serta kehadiran kemudahan yang ditawarkan aplikasi untuk menjangkau layanan via ponsel cerdas.


"Transformasi digital itu sesuatu keniscayaan, kita ada atau kita ditinggal, karena teknologi sudah arah ke sana. Sekarang bagaimana kita menggunakan IT sebagai alat bantu yang lebih dari sekadar alat bantu yang ada saat ini."

Saat ini, transformasi digital disebut Robert lebih mengacu pada data yang melalui proses digitalisasi, yang turut menjadi salah satu tren yang terjadi di industri korporasi. Data tersebut memungkinkan data untuk dimanfaatkan secara lebih luas untuk berbagai kepentingan berbeda, termasuk dikapitalisasi dan dimonetisasi.

Namun, monetisasi yang dimaksud Robert bukanlah sekadar terkait dengan keuntungan semata, juga terkait dengan keputusan yang perlu diambil perusahaan di langkah selanjutnya.

Digitalisasi data juga dinilai menghadirkan kemudahan untuk menghimpunnya dari berbagai sumber, sehingga dapat dikombinasikan dengan data lain, baik dari internal perusahaan maupun eksternal, serta menjadi sumber data yang jauh lebih valid.



Pria yang telah berkecimpung di ranah IT sejak lulus perguruan tinggi ini juga menilai bahwa perusahaan berskala besar umumnya telah lebih sadar dan siap dalam menghadapi dan menjalani transformasi digital. Transformasi digital ini dinilainya tidak hanya untuk menghadirkan layanan terbaik untuk perusahaan, tapi juga untuk konsumen yang kemudian kembali menguntungkan perusahaan.

Perusahaan besar dinilainya lebih siap dalam menjalani proses transformasi digital ini berkat kemampuan pendukung yang lebih baik, baik dalam hal dana dan sumber daya. Meskipun demikian, Robert juga menilai bahwa startup juga memiliki kesiapan yang baik dalam menjalani proses ini, sebab memiliki fleksibilitas lebih baik.

"Kesiapan untuk perusahaan gede, mereka gampang. Kesiapan untuk startup lebih mudah lagi, karena tak perlu modal besar, start dengan cloud as a service. Perusahaan besar compliance-nya lebih banyak. Kalo startup compliance ada tapi jauh lebih fleksibel."

Dalam menjalani proses transformasi digital, Robert turut menilai sumber daya manusia sebagai investasi paling penting. Meskipun demikian, Robert tidak mengesampingkan kebutuhan infrastruktur guna mendukung proses transformasi digital.

Selain melihat peluang bisnis dan membut proses bisnis yang sesuai, kehadiran sumber daya manusia yang cakap akan membantu perusahaan dalam menentukan dukungan infrastruktur yang perlu diperkuat, baik secara eksternal maupun dengan tambahan dari layanan eksternal.



"Kalau orangnya sudah bisa, kesiapannya mereka dalam arti bisnis process siap, jadi bisa besarkan IT yang ada atau besarkan via cloud yang bisa disewa. Jadi unsur infrastruktur bukan hal yang paling penting, tapi penting. Yang paling penting adalah SDM, bagaimana melihat kesempatan membuat business process yang benar, didukung infrastruktur, dan itu akan bantu untuk sesuai dengan objektif mereka."

Robert juga menyebut bahwa kesempatan digitalisasi bukan hanya di bidang infrastruktur, namun lebih kepada pemanfaatan sistem dan pilihan yang tersedia, untuk mencapai visi dan misi masing-masing perusahaan. Sebagai perusahaan yang bergerak di ranah ini, Hitachi Vantara mnghadirkan kontribusinya dengan menyediakan pilihan di bidang infrastruktur, seperti sistem computing, server, storage, networking, big data analytical, big data integration, dan Internet of Things (IoT).

Sementara itu, menawarkan produk di bidang infrastruktur teknologi, Robert mengaku hingga saat ini belum menemukan kesulitan dalam menawarkan produk kepada pelanggan, terutama perusahaan menengah atas yang menjadi targetnya.

Kemudahan tersebut dinilai pria yang memiliki hobi olahraga ini juga didukung oleh nama besar Hitachi di industri teknologi. Hitachi yang berasal dari Jepang ini disebut Robert telah dikenal luas oleh konsumen dan masyarakat sebagai manufaktur yang andal dan cukup mampu mendukung kebutuhan korporasi besar akan sistem yang juga andal.

Menargetkan perusahaan menengah atas bukan berarti Hitachi tidak memasarkan produknya kepada perusahaan berskala lebih kecil. Hitachi telah bekerja sama dengan sejumlah penyedia layanan cloud yang menyediakan layanan ini untuk perusahaan lebih kecil.

"Jadi sistemnya sama, dia hanya membeli services, platform as a services yang disediakan cloud provider. Jadi kita bisa menjual ke big korporasi, kita bisa menjual secara tidak langsung ke small medium enterprise melalui cloud itu."



Menyoal dukungan pemerintah terhadap transformasi digital, Robert menilai pemerintah selalu kalah cepat dengan industri. Namun menurutnya hal tersebut dapat dimaklumi, sebab terobosan di ranah IT dan digitalisasi jauh lebih cepat. Saat ini, pemerintah dinilai mampu membuka kesempatan besar melalui nilai tambah yang dihadirkan oleh teknologi dan proses transformasi digital, sehingga bermanfaat untuk rakyat dan pemerintah.

Pemerintah saat ini dinilai Robert sudah cukup cepat dalam mengejar ketertinggalan terkait dengan regulasi dan inovasi yang dihadirkan ranah teknologi. Terlepas dari era politik yang saat ini tengah menuju pemilihan umum di tahun 2019, Robert memprediksi industri teknologi akan berjalan dan bertumbuh sebagaimana mestinya selama tahun 2018 ini.

"Transformasi digital tidak tertahankan, berjalan. Pemerintah sendiri tak hanya sibuk dengan kegiatan yang mengejar ketertinggalannya, tapi juga menyeimbangkan masuk ke dunia digital untuk sebesar-besarnya kepentingan pemerintah, seperti registry."

Selain itu untuk Hitachi, Robert juga memperkirakan perusahaan yang menaunginya ini masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup besar selama tahun 2018. "Dunia IT masih bersaing untuk memenuhi kebutuhan customer, yang juga tumbuh salah satunya akibat transformasi digital."



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.