Co-founder dan CEO Kudo, kemudian menjadi GrabKios, Agung Nugroho.
Co-founder dan CEO Kudo, kemudian menjadi GrabKios, Agung Nugroho.

Agung Nugroho

Misi GrabKios Majukan Usaha Mikro Warung via Teknologi

Teknologi teknologi tech and life
Lufthi Anggraeni • 30 Januari 2020 09:10
Jakarta: Kemajuan teknologi memang menghadirkan berbagai kemudahan bagi hidup manusia, termasuk bagi masyarakat Indonesia. Namun saat ini, kemajuan teknologi baru besar di ranah tertentu termasuk finansial.
 
Sejumlah ranah telah disentuh oleh manfaat yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi meski gaungnya belum sebesar ranah lain seperti finansial dan transportasi. Salah satu bidang yang belum banyak tersentuh kemajuan teknologi adalah usaha kecil seperti warung.
 
Padahal, warung merupakan salah satu usaha yang menjadi penggerak ekonomi Indonesia. Hal ini yang menjadi alasan Agung Nugroho mendirikan Kudo pada tahun 2014, yang kemudian berganti nama menjadi GrabKios.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saat kembali dari studi di tahun 2014, kami merasa teknologi bisa digunakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tapi teknologi lebih banyak digunakan untuk end-user. Padahal banyak warung tradisional. Ini jadi opportunity yang belum tercapture.”
 
Saat didirikan, Kudo mengemban misi untuk meningkatkan ekonomi warung tradisional. Telah mampu menawarkan bantuan via teknologi untuk membantu warung dalam meningkat peluang pendapatan mereka, Kudo mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Grab pada tahun 2017.
 
Laki-laki lulusan ITB Teknik Kimia ini menjelaskan keputusan Kudo menerima penawaran Grab didasari oleh pertimbangan bahwa Grab merupakan perusahaan dengan ekosistem yang sudah besar. Dengan bergabung di ekosistem lebih besar, layanan Kudo dinilai akan dapat menjangkau lebih banyak pengguna yang ditargetkannya, yaitu warung.
 
Selain itu, bergabung dengan Grab juga disebut Agung akan memungkinkannya menghasilkan dampak lebih besar bagi pengusaha mikro, selaras misi yang diusung sejak awal pendiriannya. Mengusung nama berbeda, Agung menegaskan tidak banyak perubahan terjadi pada perusahannya.
 
“Secara fundamental, misi yang diusung GrabKios masih sama dengan Kudo, juga targetnya juga sama. Bedanya ada di spirit. Dan sekarang GrabKios sudah jadi bagian ekosistem yang besar.”
 
Beberapa saat setelah kehadirannya, sejumlah perusahaan dengan misi serupa bermunculan di Indonesia. Disinggung soal hal ini, Agung menilai kehadiran perusahaan serupa bukanlah hal perlu dikhawatirkan.
 
Menurutnya, kehadiran perusahaan sejenis menjadi salah satu cara untuk memvalidasi upaya yang dikerahkan GrabKios dalam menghadirkan layanan terbaik bagi usaha mikro yang menjadi targetnya.
 
“Kalo kita sudah kasih mereka layanan terbaik, mereka ga akan pake layanan dari perusahaan lain. Intinya, kita harus terus terfokus pada pengguna yang ingin kita layanani.”
 
Kehadiran perusahaan serupa juga dinilai GrabKios sebagai pemicu bagi perusahaannya untuk dapat menghadirkan layanan lebih baik, serta sebagai peluang untuk dapat bahu-membahu dalam membantu usaha kecil Indonesia menjadi lebih baik.
 
Misi GrabKios Majukan Usaha Mikro Warung via Teknologi
 
Misi sederhana yang diusungnya guna menghadirkan peluang memperoleh pendapatan tambahan sebanyak-banyaknya dihadirkan GrabKios melalui berbagai fitur di aplikasi karyanya. Termasuk fitur kasbon atau paylater yang memungkinkan pemilik warung untuk berbelanja kebutuhan usaha mereka dan membayarnya di kemudian hari.
 
Selain itu, sebagai bagian dari ekosistem Grab, peluang memperoleh pendapatan tambahan juga dihadirkan GrabKios dengan memungkinkan warung menjadi lokasi pendaftaran mitra pengemudi Grab, sehingga warung dapat menerima pendapatan tambahan dari setiap mitra pengemudi yang mendaftar di warungnya.
 
Sementara itu disinggung soal potensi, Agung menilai bidang yang digelutinya ini masih memiliki potensi besar, terlihat dengan kemunculan perusahaan sejenis. Namun ranah usaha mikro ini disebutnya juga masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
 
Sebab ranah ini disebut Agung masih jauh dari kata produktif meski memiliki pasar yang besar. Hal ini menimbulkan tantangan menyoal edukasi kepada masyarakat, bahwa disrupsi bukanlah hal yang bisa dielakan, namun bisa dihadapi jika memiliki kemauan untuk berubah, meski perjalanan perubahan ini tidaklah mudah.
 
“Secara internal, tantangan justru soal gimana kita selalu berinovasi, dan tetap fokus ke pengguna. Kita harus terus pastikan bahwa layanan yang kita kasih baik untuk warung dan bisnis mereka.”
 
Namun Agung mengaku optimistis bahwa upayanya dalam memajukan warung melalui teknologi akan berbuah hasil manis. Sebab pemerintah telah menunjukan dukungan dan keterbukaannya untuk berkolaborasi guna menghadirkan program pendukung.
 
Meskipun demikian, pemerintah dinilainya masih memiliki pekerjaan rumah dengan secara lebih gamblang dalam menunjukan dukungan pada komitmen yang sedang berjalan. Keterbukaan pemerintah ini, lanjut Agung, akan membuka peluang lain yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan usaha mikro dan ekonomi Indonesia.
 
Sementara itu, meski telah tergabung dengan ekosistem Grab yang mencakup pasar di Asia Tenggara, GrabKios mengaku belum memiliki rencana untuk melakukan ekspansi ke negara selain Indonesia dalam waktu dekat.
 
Bukan berarti GrabKios tidak memiliki rencana sama sekali untuk merambah negara lain. Setidaknya dalam kurun waktu satu tahun ini, GrabKios menyebut masih akan memusatkan fokusnya untuk membesarkan pasar Indonesia, mengingat masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di Tanah Air.
 
“Satu tahun mendatang, kita mau memperbanyak kolaborasi sebagai bagian dari ekosistem Grab, juga menelurkan produk inovatif lain untuk bantu warung lebih baik lagi. Kita juga akan terfokus untuk nambah satu juta warung lagi tahun ini,” pungkas Agung.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif