Investment Manager Plug and Play Indonesia Stefanus Suharjono.
Investment Manager Plug and Play Indonesia Stefanus Suharjono.

Stefanus Suharjono

Dukung Startup Bukan Cuma dari Investasi

Teknologi tech and life
Lufthi Anggraeni • 04 Oktober 2019 16:18
Jakarta: Bagi startup, Plug and Play mungkin bukan nama asing. Perusahaan asal Amerika Serikat ini telah mendampingi startup sejak tahun 1990. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Plug and Play telah mendampingi startup sejak Google masih merintis usaha mereka.
 
Tidak hanya melulu soal teknologi, Plug and Play turut mendampingi dan membantu startup dalam hal meraih akses jaringan ke perusahaan besar yang memerlukan solusi dari produk yang diciptakan oleh startup.
 
“Tahun 2016, Presiden Jokowi berkunjung ke Silicon Valley, dan dapat penjelasan soal bantuan agar startup tumbuh dari founder kita. Presiden Jokowi kagum dengan yang dilakukan Plug and Play, dan minta kita untuk hadir di Indonesia,” ujar Investment Manager Plug and Play Indonesia Stefanus Suharjono.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hadir di Indonesia, Plug and Play mengusung komitmen yang sama dan menggandeng grup investasi lokal yang terfokus di infrastruktur energi dan digital, Gan Konsulindo. Di Indonesia, Plug and Play terfokus pada program akselerator yang ditujukannya untuk membina startup.
 
Dukung Startup Bukan Cuma dari Investasi
 
Pada program ini, Plug and Play hadir dengan sejumlah lokakarya atau workshop, membantu startup untuk mengetahui kebutuhan mereka guna mencapai langkah pengembangan bisnis selanjutnya, dan bantuan ini tidak melulu menyoal teknologi.
 
Bantuan ini diberikan Plug and Play di segi finansial, accounting, tag, serta pemasaran yang tepat, sehingga startup dapat memperbesar skala mereka. Namun tidak hanya dari Plug and Play, program ini juga menyediakan lokakarya hasil kerja sama dengan pelaku lain di ekosistem.
 
Dalam program akselerator tersebut, lanjut Stefanus, juga terdapat program bertajuk Silicon Valley in The Box, terfokus pada mentoring, networking, corporate innovation, investasi dan dukungan logistik.
 
Program ini menawarkan aktivitas mentoring dari penasehat senior dan mentor senior. Mentor pada program ini sebagian besar berasal dari industri, Venture Capital, mantan pendiri startup atau mantan pendiri startup yang telah sukses.
 
Bentuk dukungan lain yang diberikan Plug and Play kepada startup dihadirkan dalam perizinan menggunakan coworking space miliknya secara gratis. Menyoal teknologi, dukungan Plug and Play berupa penyediaan kredit untuk startup dalam berlangganan layanan yang disediakan mitra mereka seperti Google, Amazon Web Service dan IBM.
 
“Dengan kredit ini, kita berharap spending awal startup bisa jadi lebih ringan. Jadi budget itu bisa mereka gunakan untuk marketing development mereka. Ga cuma itu, kita juga coba untuk reduce cost operasional mereka.”
 
Plug and Play juga berupaya menghadirkan dukungan kepada startup melalui kerja sama dengan sejumlah coworking space, seperti Union Space, Conclave dan GoWork. Bentuk dukungan tersebut berupa potongan harga sehingga startup yang dinaungi Plug and Play dapat menyewa ruang kerja dengan harga lebih terjangkau.
 
Dukung Startup Bukan Cuma dari Investasi
 
Sementara itu geliat startup yang kian besar di Indonesia disebut Stefanus mengindikasikan potensi besar di Indonesia. Plug and Play memprediksi bahwa akan semakin banyak startup asal Indonesia yang menjadi lebih besar lagi di tahun 2019 dan 2020.
 
Termasuk startup di industri tekfin yang tengah naik daun. Melihat potensi ini, ranah tekfin menjadi ranah lain yang dibidik Plug and Play di tahun-tahun mendatang. Potensi ranah ini, lanjut Stefanus, juga didorong oleh perkembangan teknologi Internet of Things yang semakin mobile.
 
Tahun 2018 dinilai menjadi tahun kematangan startup Indonesia, meski pada tahun yang sama, Stefanus menilai terjadi pergeseran di ranah startup. Jika tahun 2018 didominasi oleh pertumbuhan industri teknfin di bidang peer-to-peer lending, maka tahun 2020, ranah ini diprediksi akan merambah bidang lain selain peer-to-peer.
 
Stefanus memprediksi startup tekfin akan hadir dengan layanan perencanaan finansial, penasehat, serta pencatatan pengeluaran, bidang yang saat ini belum banyak tersedia di Indonesia.
 
Startup fintech di bidang itu memang saat ini sudah ada yang kerjain, tapi belum banyak yang mature. Tahun lalu peer-to-peer lending, e-money, nantinya bakal masih ada, tapi akan ada pergeseran.”
 
Sepanjang tahun 2019, startup ranah tekfin disebut Stefanus akan mengalami perkembangan, salah satunya di bidang mata uang kripto. Bidang ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas, selaras regulasi pemerintah Indonesia, yang juga melarangnya menjadi alat tukar.
 
Menyoal kriteria startup yang dilirik untuk menerima investasinya, Stefanus menyebut bahwa Plug and Play lebih mengutamakan komitmen yang dapat diusung oleh startup tersebut. Startup, lanjut Stefanus, harus memiliki komitmen untuk membantu Indonesia menjadi lebih baik.
 
Namun, komitmen menjadi faktor yang tidak dapat dilihat secara langsung dan membutuhkan waktu pembuktian. Karenanya, Plug and Play menyebut menjadikan founder sebagai kriteria lain yang dipertimbangkannya saat memilih startup.
 
"Karena invest di bisnis yang belum dirambah, jadi kita liat foundernya, serius apa ngga. Kita selalu betting di founder dulu, baru liat di bisnis model."
 
Dukung Startup Bukan Cuma dari Investasi
 
Menjadi mitra dari startup, Stefanus tidak memungkiri bahwa Plug and Play juga mengambil bagian dari startup tersebut. Pada startup penerima investasi senilai USD50.000 yang diberikannya, Plug and Play memperoleh saham di startup sebesar empat persen atau maksimal delapan persen.
 
Meskipun demikian, hal ini akan memungkinkan startup untuk memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh Plug and Play. Sedangkan pada startup non penerima investasi, Plug and Play menyebut tidak mengambil bagian, dan membantu dalam hal networking.
 
Sementara itu, Stefanus menyebut kriteria startup dapat disebut telah sukses dilihat dari waktu kematangannya, meski kriteria sukses tersebut juga memiliki banyak aspek. Sehingga Plug and Play mengaku lebih terfokus pada proses perkembangan startup yang dinaunginya.
 
"Kriteria sukses itu banyak, tapi kita liat proses perjalanan mereka gimana. Jadi ga ada deadline untuk startup sampai bisa dibilang sukses."
 
Stefanus berharap startup baru untuk tidak meniru ide yang sudah ada, sebab Indonesia disebutnya masih memiliki banyak masalah yang perlu diselesaikan. Sehingga Stefanus menyarankan startup baru untuk menemukan solusi yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif