Transformasi Digital, dari UKM Sampai Pemerintahan
Chief Product and Synergy Officer Telkomtelstra Agus F. Abdillah.
Jakarta: Di era digital dewasa ini, seluruh kehidupan manusia tidak bisa lepas dari peranan teknologi digital. Kita membutuhkan teknologi digital untuk mempermudah kehidupan, dan dampak positifnya sudah banyak yang bisa dirasakan.

Mustahil untuk menolak hadirnya teknologi digital. Ini juga berlaku untuk korporasi. Kini setiap bisnis dituntut untuk mengadopsi teknologi digital. 

"Tujuannya untuk apa? Ya membuat sebuah bisnis memiliki performance yang lebih baik. JIka digitalisasi memiliki banyak dampak positif bagi kita sehari-hari maka transformasi digital di bisnis juga sama halnya. Pada dasarnya bisnis harus mengikuti perkembangan zaman," Chief Product and Synergy Officer  Telkomtelstra Agus F. Abdillah.


Agus melihat bahwa transformasi digital di Indonesia kini mulai berlari ketimbang tahun sebelumnya. Transformasi digital mulai dipahami dan disadari sebagai kebutuhan penting oleh pelaku bisnis dan harus segera dilakukan.



"Permasalahannya adalah berdasarkan data riset seperti IDC yang saya baca, hanya 46 persen bisnis di Indonesia yang ready untuk transfromasi digital. Sisanya tidak sama sekali. Ini bagus sekaligus kurang bagus, karena 46 persen ini baru memahami transformasi digital hanya di customer engagement. Belum di internal perusahaan," jelasnya.

Menurut Agus, transformasi digital masih difokuskan pada cara menjamah konsumen alias menyediakan produk atau layanan dalam bentuk digital. Padahal, elemen transformasi digital bukan hanya itu, ada operational business, employee, dan collaboration.

"Sisi internal atau operasional bisnis, jadi mereka harus mendigitalisasi bisnis yang mereka jalankan. Dari sisi pekerja, sebuah bisnis juga harus mendorong SDM mereka melakukan transformasi digital dalam bekerja. Lalu collaboration, sebuah bisnis harus bekerja sama dengan partner bisnis mereka menciptakan produk digital," beber Agus.



Penolakan pasti ada, Agus menceritakan ada beberapa bisnis yang ketika ditawarkan untuk mencicipi layanan untuk melakukan transformasi digital. Sebagian besar dari mereka menolak karena merasa bisnisnya belum butuh melakukan transformasi digital.

"Pasti ada, biasanya mereka masih melihat bisnis mereka baik-baik saja. Baru mereka sadar pentingnya transformasi digital ketika mereka melihat konsumen mereka berpindah ke bisnis atau perusahaan lain yang sudah melakukan transformasi digital," ungkap Agus.

Wajar saja jika bisnis mereka belum mengadopsi digital, tapi beberapa tahun ke depan bisa dipastikan pertumbuhannya akan mulai melambat. Oleh sebab itu, Agus tidak tinggal diam, Telkomtelstra tempatnya bernaung juga melakukan edukasi, tidak hanya menyediakan platform transformasi digital.



"Tiap beberapa bulan sekali kita buat workshop, kita ajak mereka yang belum melakukan transformasi digital menggunakan platform kita. Selain itu mereka kita bantu berikan uji coba gratis. Jika berminat maka kita bisa bicarakan biaya layanan dan paket layanan dari Telkomtesltra yang sesuai dengan bisnis mereka," jelas Agus.

Menurutnya, persaingan di penyedia layanan untuk sebuah perusahaan melakukan transformasi digital di Indonesia masih sangat luas. Telkomtelstra tidak berfokus untuk menggarap semuanya sendiri, Agus mengakui porsi kue untuk bisnis layanan ini sangat besar.

Justru Telkomtelstra berfokus untuk menyediakan platform yang lengkap bagi sebuah bisnis melakukan transformasi digital, salah satunya menyasar elemen customer engagement, operational business, employee, dan collaboration

Agus menuturkan, pemerintah Indonesa sendiri sangat mengapresiasi layanan ini. Namun, ia juga mengakui pengguna layanan mereka dari sektor pemerintahan masih sedikit. Bisnis atau enterprise masih menjadi pelanggan utama yang ingin melakukan transformasi digital secepat mungkin.

"Kalau pemerintah sebagai konsumen, perlu proses pengadaan dan lain-lainnya. Berdeda dengan enterprise atau perusahaan. Selama transformasi digital memperlihatkan benefit bagi perusahaan dan bisnisnya, dia menginginkan segera melakukan transformasi digital," imbuh Agus.

Ke depannya, di tahun 2018 Telkomtelstra baru akan membawa solusi transformasi digital ke sektor pemerintahan. Agus optimistis adopsi dan proses transformasi digital akan jauh lebih cepat ketimbang tahun ini. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.