Pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah mikrofon ini bagus, melainkan apakah ia mampu memperbaiki kekurangan pendahulunya tanpa kehilangan jati dirinya sebagai opsi entry-level terbaik?

Secara visual, HyperX SoloCast 2 terlihat lebih premium. Jika stand lama terasa kaku dan membatasi, kini mikrofon dapat dimiringkan hingga 40 derajat dan diputar secara horizontal. Bukan sekadar gimmick; kemampuan mengarahkan kapsul mikrofon langsung ke mulut secara drastis meningkatkan kualitas tangkapan suara.
Fitur Tap-to-Mute juga lebih baik. Pada generasi pertama, lampu LED akan berkedip saat mute—yang membuat banyak orang kebingungan. Di HyperX SoloCast 2, lampu menyala merah solid saat aktif, dan mati total saat di-mute. Sederhana dan tidak mengganggu mata di kamera.

Di atas kertas, peningkatan terbesar adalah pada resolusi perekaman. HyperX SoloCast 2 kini mendukung 24-bit/96kHz, naik signifikan dari batas 16-bit pada model lama. Apa artinya bagi pengguna awam? Noise floor digital yang lebih rendah dan ruang dinamis yang lebih luas untuk pengeditan pasca-produksi.
Dalam pengujian suara, HyperX SoloCast 2 menghasilkan karakter vokal yang netral dan hangat, dengan penekanan yang pas pada frekuensi menengah (mid-range). Suara terasa penuh dan tidak cempreng seperti mikrofon headset bawaan. Namun, ibarat pedang bermata dua, kondenser ini sangat sensitif. Tanpa noise gate, suara kipas PC di seberang ruangan atau dentingan keyboard mekanik akan tertangkap dengan jelas.

Kelemahan fisik terbesar yang tersisa adalah isolasi getaran. Meskipun HyperX mengklaim adanya shock mount internal, sasis plastiknya yang ringan masih mentransfer getaran meja dengan sangat efisien. Jika mengetik dengan semangat saat mikrofon berada di meja yang sama, kita masih bisa mendengar suara "dug-dug-dug" frekuensi rendah. Solusinya bisa memanfaatkan lubang ulir ganda (3/8" dan 5/8") di bawahnya dan pasanglah pada boom arm.
HyperX SoloCast 2 didukung oleh perangkat lunak HyperX NGENUITY. Fitur barunya terdengar menjanjikan: AI Noise Reduction, Equalizer 10-band, dan Limiter. Fitur AI Noise Reduction-nya bekerja sangat efektif memisahkan suara vokal dari kebisingan latar belakang tanpa membuat suara terdengar seperti robot.

Sayangnya, pengalaman penggunaan perangkat lunak ini masih belum optimal. Dalam pengujian, NGENUITY masih suka "lupa" menyimpan pengaturan. Setiap kali PC di-restart atau aplikasi ditutup, pengaturan EQ sering kembali ke default. Ini berdampak ke konsep plug-and-play yang seharusnya menjadi kekuatan utama mikrofon USB.
| Testbed | Medcom.id |
| Prosesor | Intel Core Ultra 9 285K AMD Ryzen 5 8600G |
| Motherboard | Asus ROG Strix Z890-F Gaming WiFi Gigabyte B650E Aorus Master |
| Cooler | Gigabyte Aorus Waterforce II 360 ICE |
| VGA | AMD Radeon RX 6800 Colorful GeForce RTX 5070 Ti Battle NX 16GB |
| RAM | Apacer Panther DDR5 RGB 32GB (2 x 16GB) |
| Storage | WD Black SN850X, Apacer AS2280Q4 |
| PSU | MSI MAG A850GL PCIE5 |
| Monitor | Asus ROG Swift OLED PG27AQDM |
| Mouse | Logitech MX Master 3 Logitech M650 |
| Mousepad | Logitech Desk Mat |
Kesimpulan
HyperX SoloCast 2 di Indonesia harganya mulai dari Rp899.000. Harga ini cukup kompetitif berkat desain dan fitur yang ditawarkan. Meski tidak punya RGB, ia menawarkan kemampuan esensial dan akurasi audio yang tergolong baik. Baik untuk streamer pemula atau yang sudah senior, ia masih bisa menjadi pilihan
9.4
HyperX SoloCast 2
Plus
- Pemasangan simpel
- Akurasi audio makin baik
- Indikator mute lebih jelas
- Sudut gerakan mik lebih fleksibel
- Fitur AI di NGENUITY dan mode merekam
Minus
- NGENUITY perlu penyempurnaan
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News