NASA Luncurkan Satelit Peneliti Penembak Laser

Ellavie Ichlasa Amalia 15 September 2018 13:16 WIB
antariksanasa
NASA Luncurkan Satelit Peneliti Penembak Laser
Ilustrasi. (AFP PHOTO / NASA / John SONNTAG.)
Jakarta: NASA berencana untuk meluncurkan satelit yang bisa menembakkan laser ke permukaan Bumi. Satelit itu bernama ICESat-2 atau Ice, Cloud and land Elevation Satellite-2.

Misi peluncuran satelit bernilai USD1 miliar ini bertujuan untuk mengetahui kedalaman es di Bumi seiring dengan semakin panasnya suhu permukaan akibat perubahan iklim. 

Satelit dengan bobot setengah ton itu dakan diluncurkan menggunakan roket Delta II pada 15 September dari Vandenberg Air Force Base di California, menurut laporan Phys.org. Misi tersebut memiliki periode peluncuran selama 40 menit, dimulai pada 5.46 pagi waktu lokal. 


Menurut ICESat-2 Program Executive, NASA, Richard Slonaker, misi ini sangat penting untuk sains. Alasannya karena terakhir kali NASA meluncurkan satelit pemantau ketebalan es adalah hampir satu dekade lalu. 

Satelit bernama ICESat itu diluncurkan pada 2003. Misi satelit tersebut berakhir pada 2009. Sejak saat itu, para peneliti tahu bahwa es di laut telah menipis dan es mulai mencair dari kawasan pinggir dari Greenland dan Antartika. 



Dalam kurun waktu sembilan tahun tanpa keberadaan satelit pemantau ketebalan es, NASA melakukan Operasi IceBridge. Dalam misi ini, mereka menerbangkan pesawat ke kutub Artik dan Antartika untuk mengukur dan mendokumentasikan perubahan yang terjadi pada es di kedua kutub tersebut. 

Kita perlu tahu bagaimana keadaan es di laut. Ketergantungan manusia akan bahan bakar minyak berarti jumlah gas rumah kaca terus bertambah, yang menyebabkan suhu permukaan Bumi naik. Ini menyebabkan es di kutub mencair. 

Setiap tahunnya, suhu permukaan Bumi terus naik. Selama 2014 sampai 2017, suhu permukaan Bumi mencapai titik tertinggi selama era modern. Tidak hanya itu, mencairnya es di Artik dan Greenland membuat permukaan laut naik, membahayakan kehidupan jutaan orang yang hidup di pesisir pantai. 

ICESat-2 akan membantu para peneliti untuk mengerti seberapa banyak es yang mencair. 

"Kami akan bisa tahu secara spesifik bagaimana es mencair dalam kurun watku satu tahun," kata Tom Wagner, Cryosphere Program Scientist di NASA. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.