Program tahunan ini menjadi wadah bagi pelajar dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan mereka dalam pengembangan aplikasi menggunakan bahasa pemrograman Swift dan ekosistem Xcode milik Apple.
Kabar pembukaan kompetisi ini disampaikan Apple melalui laman Apple Newsroom, disertai ajakan bagi pelajar Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri. Selain itu, Apple turut menyoroti dua Distinguished Winner Swift Student Challenge 2025 asal Indonesia yang sukses mengharumkan nama bangsa di ajang global tersebut.
Sebagai informasi, Swift Student Challenge merupakan inisiatif global Apple yang ditujukan untuk menginspirasi generasi muda dalam dunia teknologi dan pemrograman. Melalui kompetisi ini, pelajar didorong untuk menciptakan aplikasi interaktif dalam format playground yang menunjukkan pemahaman mereka terhadap desain, logika, dan inovasi teknologi.
Apple juga menyiapkan sejumlah sumber pembelajaran bagi peserta. Pelajar dapat memanfaatkan tutorial Develop in Swift terbaru, membahas topik seperti SwiftUI, komputasi spasial, desain aplikasi, hingga pembelajaran mesin atau machine learning.
Selain itu, Apple akan mengadakan sesi online Meet with Apple yang dipandu langsung oleh ahli pada hari Sabtu, 15 November 2025, untuk membantu pelajar memahami pengembangan aplikasi dengan Swift dan mempersiapkan karya mereka untuk kompetisi tahun depan.
Sebagai pengingat, salah satu pemenang bergengsi Swift Student Challenge 2025 asal Indonesia adalah Sherly Pangestu, berusia 22 tahun. Sherly memenangkan penghargaan Distinguished Winner berkat aplikasi playground karyanya berjudul Plant Heroes.
Aplikasi tersebut berfokus pada edukasi anak-anak mengenai proses pertumbuhan tanaman dan mengaitkannya dengan pertumbuhan manusia melalui permainan interaktif, desain visual ceria, dan cerita edukatif.
Pada ajang Worldwide Developers Conference (WWDC) 2025 di Cupertino, Amerika Serikat, Sherly berkesempatan berbincang langsung dengan CEO Apple, Tim Cook, yang memuji aplikasi Plant Heroes sebagai pendekatan baru dalam pendidikan.
Sherly pun mengungkapkan impiannya untuk berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di Indonesia dan luar negeri agar pembelajaran sains bisa diakses secara lebih inklusif dan menyenangkan. Keberhasilannya di ajang global ini menjadi langkah awal bagi Sherly untuk mengembangkan aplikasi berfokus pada aksesibilitas dan solusi kesehatan digital di masa depan.
Selain Sherly, nama Indri Ramadhanti, 24 tahun, juga menjadi sorotan. Indri memenangkan kategori yang sama melalui aplikasi Memoire, terinspirasi dari pengalaman pribadinya bersama sang nenek yang mengalami penurunan daya ingat.
Memoire dirancang sebagai alat bantu digital untuk melatih memori dan menjaga hubungan emosional antargenerasi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna menyimpan cerita, foto, suara, dan momen pribadi dalam format interaktif.
Melalui fitur seperti kuis memori dan latihan visual, Memoire tidak hanya berfungsi sebagai arsip digital, tetapi juga sebagai pendamping dalam melatih daya ingat secara menyenangkan. Indri menegaskan komitmennya untuk menciptakan teknologi bermakna, sekaligus mengembangkan Memoire lebih lanjut untuk membantu penderita demensia dan keluarga mereka menjaga hubungan emosional.
Apple berharap kisah dua pelajar Indonesia tersebut dapat menjadi inspirasi bagi peserta Swift Student Challenge 2026. Dengan memanfaatkan sumber daya pembelajaran dan dukungan komunitas pengembang global, Apple menegaskan komitmennya dalam memberdayakan generasi muda untuk berinovasi melalui teknologi.
Melalui Swift Student Challenge, Apple tidak hanya mengajarkan coding, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, empati, dan pemikiran kritis dalam menghadirkan solusi digital yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Pendaftaran kompetisi akan dibuka pada 6 Februari 2026, dan pelajar dapat mulai mempersiapkan ide aplikasi mereka mulai sekarang dengan memanfaatkan sumber daya pembelajaran resmi dari Apple.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News