Lonjakan harga ini dikhawatirkan akan memengaruhi harga jual rata-rata (ASP) perangkat komputasi, baik laptop maupun desktop. Menyikapi situasi ini, ASUS Indonesia menegaskan strateginya untuk tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas, terutama di sektor Business-to-Business (B2B).
Eric Khoven, Director of Commercial Business ASUS Indonesia, mengakui bahwa kenaikan harga komponen memori memberikan dampak nyata terhadap Biaya Produksi atau Bill of Materials (BOM). Mengutip data lembaga survei global, harga DRAM tercatat melonjak hingga 171,8% secara Year on Year (YoY) pada tahun 2025 lalu.
"Kontribusi harga memori terhadap BOM PC tentunya sangat signifikan. Untuk memitigasinya, kantor pusat kami melakukan kontrak jangka panjang dengan pemasok untuk harga yang lebih stabil, serta bekerjasama dengan lebih banyak pemasok komponen agar tidak bergantung pada satu supplier saja," ujar Eric Khoven dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id.
Penerapan Teknologi N+1 dan Fleksibilitas Upgrade
Di tengah gempuran harga komponen, ASUS Commercial (Expert Series) mengambil langkah berani dengan tidak menurunkan spesifikasi inti. Eric menjelaskan bahwa ASUS secara konsisten menerapkan prinsip teknologi N+1.Artinya, ASUS mengadopsi teknologi mutakhir di tahun berjalan—sebagai contoh, jika standar teknologi tahun 2026 adalah Intel Core 200 series (N), maka ASUS siap menghadirkan platform Intel Core 300 series (N+1).
"Kami memastikan performa, stabilitas, dan reliability selalu berada di atas standar minimum industri. Pendekatan ini memastikan pelanggan B2B di Indonesia tetap mendapatkan perangkat yang relevan untuk jangka panjang," tegas Eric.
Strategi unik lainnya yang ditawarkan ASUS untuk menyiasati mahalnya harga RAM adalah desain perangkat yang easy-to-upgrade. Alih-alih membebankan biaya tinggi di awal dengan konfigurasi memori besar yang paten (soldered), produk ASUS Expert Series didesain dengan fleksibilitas tinggi, seperti dukungan dual SODIMM dan dual storage.
Strategi ini memberikan keleluasaan bagi perusahaan atau end-user. Mereka dapat membeli unit dengan spesifikasi standar saat ini, dan melakukan peningkatan kapasitas memori secara bertahap ketika harga pasar sudah lebih stabil. Hal ini dinilai efektif untuk menjaga Total Cost of Ownership (TCO) tetap efisien tanpa harus mengganti perangkat secara keseluruhan.
Menyimak ‘Value Selling’
Kenaikan harga RAM juga diprediksi membawa efek domino terhadap adopsi massal Artificial Intelligence (AI) PC, seperti Copilot+ PC. Standar perangkat AI umumnya mensyaratkan RAM minimal 16GB hingga 32GB, yang otomatis mengerek harga jual.Eric mengakui bahwa dalam jangka pendek, hal ini berpotensi memperlambat adopsi massal AI PC di segmen yang sensitif terhadap harga. Sebagai respons, ASUS menyeimbangkan portofolionya. Di segmen entry-level, ASUS kemungkinan besar tetap mempertahankan opsi RAM 8GB untuk menjaga keterjangkauan harga (affordability), meski tren industri mulai bergerak ke 16GB.
"Namun, kami melihat tren AI kini telah menjadi prioritas strategis perusahaan. AI bukan lagi fitur tambahan, melainkan enabler produktivitas. Karena itu, strategi kami fokus pada segmen korporasi dan profesional yang lebih siap berinvestasi untuk perangkat terbaik," jelas Eric.
Kondisi pasar ini turut mengubah parameter penjualan di industri. Eric menyebutkan adanya pergeseran dari penghitungan volume semata menjadi fokus pada value selling—menjual unit premium dengan margin yang lebih sehat. ASUS akan memperkuat lini produk premium dengan fitur unggulan seperti layar OLED, durabilitas tinggi, dan integrasi AI, sembari tetap merawat basis pengguna entry-level.
"Indonesia merupakan salah satu focus country untuk bisnis ASUS Commercial global. Kami berkomitmen menghadirkan solusi terbaik dengan harga kompetitif tanpa menurunkan standar kualitas, guna mendukung transformasi digital pelanggan di Indonesia," tutup Eric.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News