Saat pemerintah melonggarkan berbagai pembatasan terkait PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), muncul tantangan baru yang dihadapi perusahaan terkait panduan dimulainya kembali kegiatan bekerja, penerapan jarak aman, pengendalian di perbatasan negara/wilayah dan anjuran terkait perjalanan.
Dassault Systèmes mengumumkan solusi Back to Office Workforce Planner, yang diklaim untuk mengatur karyawan yang kembali bekerja di kantor. Solusi ini juga diklaim dapat membantu pertanyaan yang muncul di tengah kondisi ini: siapa saja yang harus kembali bekerja di kantor?
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, pembatasan dari pemerintah, persyaratan bisnis dan preferensi pribadi.
Ada lima faktor penting yang dipertimbangkan dalam merencanakan kembalinya karyawan ke kantor. Pertama adalah pembatasan dari pemerintah. Setiap pemerintah memiliki aturan pembatasan yang berbeda dan peraturan pembatasan sosial juga diterapkan di lingkungan kantor.
Meskipun banyak perusahaan memberi kesempatan kepada para karyawannya untuk bekerja dari rumah, ada karyawan-karyawan tertentu yang harus bekerja di kantor. Selain itu, tergantung pada tugas karyawan di departemen mereka masing-masing, ada karyawan yang harus diprioritaskan untuk bekerja di kantor.
Manusia adalah inti dari bisnis. Setiap karyawan mungkin punya kondisi khusus yang berbeda – mulai dari harus menjaga anak atau orang tua, hingga tidak memiliki fasilitas untuk bekerja dari rumah. Semua ini harus dipertimbangkan.
Beberapa orang mungkin memiliki preferensi untuk bekerja dari rumah atau di kantor. Hal ini dinilai harus dipertimbangkan juga. Back to Office Workforce Planner diklaim membuat perencanaan berdasarkan okupansi kantor yang diinginkan.
Sebagai contoh, di dalam internal Dassault Systèmes mengambil pendekatan bertahap, mulai dari okupansi kantor sebesar 25 persen dan perlahan meningkat menjadi 50 persen, sebelum semua karyawan kembali ke kantor beberapa bulan dari saat ini. Shift kantor dibuat dan diterapkan untuk para karyawan.
Melakukan perencanaan secara manual dengan mempertimbangkan semua data di atas untuk kantor dengan puluhan atau ratusan karyawan sangat menjemukan, memakan waktu dan rawan kesalahan.
Dengan otomatisasi penugasan ini jajaran manajemen senior dapat fokus pada tugas-tugas yang lebih penting, memandu bisnis melalui kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya, berkomunikasi dengan karyawan dan mempertahankan mereka, serta membuat strategi serta positioning bisnis untuk masa depan.
Back to Office Workforce Planner sudah digunakan di kantor-kantor Dassault Systèmes di Australia, Malaysia dan Singapura, dan segera digunakan di Jepang dan India. Penggunan planner di negara-negara lainnya seiring dengan para karyawan kembali mulai bekerja di kantor.
Back to Office Workforce Planner adalah versi sederhana dari DELMIA Quintiq Workforce Planner, yang mencakup seperangkat tool untuk membuat perencanaan dan mengoptimalkan karyawan di sektor pemerintahan, layanan publik, bandar udara, korporasi dan pabrik, di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News