Ilustrasi
Ilustrasi

Tokenisasi, Benteng Terakhir Proteksi Data Transaksi Konsumen

Mohamad Mamduh • 08 Februari 2026 13:31
Ringkasnya gini..
  • Secara sederhana, tokenisasi adalah proses perlindungan data dengan mengganti informasi sensitif.
  • Tokenisasi tidak berdiri sendiri.
  • Melalui langkah-langkah inovatif ini, industri keuangan optimistis dapat membalikkan keadaan dalam perang melawan kejahatan siber.
Jakarta: Di tengah lonjakan transaksi digital yang diprediksi akan terus mendominasi pasar global, ancaman kebocoran data kartu kredit dan debit menjadi hantu yang menakutkan bagi konsumen maupun pelaku usaha.
 
Namun, sebuah teknologi bernama Tokenisasi kini muncul sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan siber. Laporan terbaru dari Visa, The Anti-Scam Playbook yang dirilis Mei 2025, menempatkan tokenisasi sebagai salah satu solusi paling efektif dalam memutus rantai penipuan di ekosistem pembayaran.
 
Secara sederhana, tokenisasi adalah proses perlindungan data dengan mengganti informasi sensitif, seperti 16 digit nomor kartu pembayaran, dengan identitas digital unik yang disebut token. Token ini tidak memiliki nilai intrinsik bagi peretas; jika sebuah basis data pedagang diretas, data yang mereka curi hanyalah sekumpulan kode acak yang tidak dapat digunakan untuk melakukan transaksi di tempat lain.

Teknologi ini bekerja secara mulus di balik layar. Saat konsumen melakukan pembayaran di aplikasi belanja atau melalui dompet digital, nomor asli kartu mereka tidak pernah berpindah tangan ke pihak pedagang. Sebaliknya, token uniklah yang dikirimkan untuk memproses otorisasi pembayaran.
 
Data yang dipaparkan dalam laporan Visa menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Pedagang yang mengadopsi teknologi tokenisasi mencatat penurunan tingkat penipuan hingga 58%. Keberhasilan ini menjadikannya salah satu alat pertahanan paling tangguh dalam industri keuangan saat ini.
 
Tokenisasi adalah dasar dari keamanan pembayaran modern. Dengan menghilangkan data sensitif dari lingkungan transaksi, kita secara efektif menutup pintu bagi penjahat siber untuk menyalahgunakan informasi kartu nasabah, tulis laporan tersebut.
 
Visa sendiri telah menginvestasikan lebih dari USD12 miliar (sekitar Rp190 triliun) dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat keamanan jaringan, termasuk pengembangan infrastruktur tokenisasi dan kecerdasan buatan (AI).
 
Tokenisasi tidak berdiri sendiri. Dalam strategi The Anti-Scam Playbook, teknologi ini dipadukan dengan solusi lain seperti Visa Protect for A2A (VPA2A) dan Visa Scam Disruption (VSD). Sementara tokenisasi melindungi data di tingkat penyimpanan dan transmisi, AI bekerja secara real-time untuk mendeteksi anomali perilaku yang mengindikasikan upaya penipuan.
 
Di kawasan Asia Pasifik, di mana kerugian akibat penipuan diperkirakan mencapai USD688 miliar pada tahun 2024, adopsi tokenisasi menjadi mendesak. Laporan tersebut menyoroti bahwa banyak negara di kawasan ini, termasuk Singapura dan Australia, mulai mendorong pelaku usaha untuk mengintegrasikan standar keamanan ini guna memberikan perlindungan berlapis bagi konsumen yang semakin aktif bertransaksi secara daring.
 
Selain meningkatkan keamanan, tokenisasi juga memberikan pengalaman belanja yang lebih nyaman. Konsumen tidak perlu berulang kali memasukkan detail kartu mereka di berbagai platform, karena token yang sudah tersimpan tetap aman dan dapat diperbarui secara otomatis meskipun kartu fisik mereka kedaluwarsa atau diganti.
 
Namun, tantangan utamanya adalah kesadaran dan adopsi luas di tingkat pedagang kecil dan menengah. Laporan industri menekankan bahwa kolaborasi antara penyedia layanan pembayaran, bank, dan pemilik bisnis sangat krusial. Dengan menjadikan tokenisasi sebagai standar industri, ekosistem digital tidak hanya menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi juga menjadi benteng yang kokoh terhadap ancaman penipuan yang kian canggih.
 
Melalui langkah-langkah inovatif ini, industri keuangan optimistis dapat membalikkan keadaan dalam perang melawan kejahatan siber, memastikan bahwa kepercayaan konsumen tetap terjaga di tengah transformasi ekonomi digital yang pesat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA