Istilah Pig Butchering merujuk pada strategi pelaku yang menggemukkan korban dengan perhatian dan janji keuntungan palsu, sebelum akhirnya menyembelih atau menguras seluruh tabungan mereka. Menurut laporan tersebut, skema ini merupakan salah satu kontributor terbesar dari kerugian global akibat penipuan yang kini telah menembus angka USD1 triliun.
Berbeda dengan penipuan phishing tradisional yang bersifat massal dan cepat, Pig Butchering adalah permainan panjang. Pelaku biasanya memulai kontak melalui aplikasi kencan, media sosial, atau pesan salah sambung di WhatsApp. Mereka membangun profil palsu yang menampilkan gaya hidup mewah, sukses, namun tetap rendah hati dan penuh perhatian.
Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, pelaku tidak membahas soal uang. Mereka memposisikan diri sebagai teman dekat, kekasih potensial, atau mentor finansial. Setelah ikatan emosional terbentuk dan kepercayaan korban sepenuhnya diraih, barulah jebakan dipasang.
Korban biasanya diarahkan untuk berinvestasi di platform perdagangan kripto atau valas (forex) yang terlihat sangat profesional. Laporan industri menyoroti bahwa platform ini sering kali hanyalah simulasi belaka. Pada tahap awal, korban diperbolehkan menarik keuntungan kecil untuk meyakinkan bahwa sistem tersebut aman.
Namun, ketika korban mulai menyetor uang dalam jumlah besar—sering kali hingga menjual aset atau meminjam dari bank—masalah mulai muncul. Saat korban ingin menarik dana besarnya, platform akan meminta "pajak" tambahan atau "biaya verifikasi". Pada titik inilah pelaku menghilang, meninggalkan korban dengan kerugian finansial yang hancur dan trauma emosional yang mendalam.
Skala kerugian dari penipuan ini sangat masif. Di wilayah Asia Pasifik saja, konsumen diperkirakan kehilangan USD688 miliar sepanjang tahun 2024. Di Taiwan, dampak ekonomi dari penipuan mencapai 1% dari total PDB negara tersebut. Para ahli mencatat bahwa sebagian besar dana hasil penipuan ini, sekitar USD75 miliar secara global, dicuci melalui platform kripto untuk menghilangkan jejak.
Lembaga keuangan global seperti Visa kini mulai memperkuat pertahanan dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) generatif untuk mendeteksi infrastruktur jaringan penipuan sebelum mereka mencapai korban. Namun, teknologi saja tidak cukup.
Para pakar keamanan siber menekankan pentingnya prinsip Trust but Verify. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap siapapun yang dikenal secara daring yang tiba-tiba menawarkan peluang investasi, seberapapun dekatnya hubungan tersebut. "Jika sebuah peluang investasi terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan, hampir bisa dipastikan itu adalah penipuan," tegas laporan tersebut.
Dengan regulasi seperti Shared Responsibility Framework yang mulai diterapkan di negara tetangga seperti Singapura, diharapkan beban kerugian tidak lagi hanya ditanggung oleh korban, melainkan juga melibatkan tanggung jawab institusi keuangan dan penyedia platform digital untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News