Bukalapak Gabungkan Online dan Offline untuk Berdayakan UKM

Ellavie Ichlasa Amalia 22 November 2018 17:14 WIB
bukalapake-commerce
Bukalapak Gabungkan Online dan Offline untuk Berdayakan UKM
Acara diadakan di Grand Studio, kantor Metro TV. (MI/Permana)
Jakarta: Untuk merayakan ulang tahun pada 25 November mendatang, Metro TV mengadakan serangkaian acara untuk membahas tentang berbagai masalah yang ada di masyarakat dan cara mengatasinya. Salah satu topik yang diangkat adalah teknologi.

Dalam acara bertema Menerbangkan Indonesia Melalui Teknologi, Chief Strategy Officer at Bukalapak Teddy Oetomo menjelaskan tentang langkah yang mereka ambil untuk mengembangkan Bukalapak dan mengatasi masalah yang ada di Indonesia.

Pria yang akrab dengan panggilan Teddy ini mengaku bahwa online marketplace seperti Bukalapak seharusnya identik dengan pemberdayaan UKM (Usaha Kecil Menengah). "Tapi sebagian besar UKM kita bukanlah produsen. Dan kalau bukan produsen, manfaat yang didapat tidak maksimal," katanya.


Teddy mengatakan, kebanyakan pelaku UKM di Indonesia membuka toko kelontong yang menjual barang-barang seperti sampo dan sabun. Padahal, barang-barang itu sudah dijual secara online oleh sang pemilik merek.

"Ternyata, yang dibutuhkan oleh para warung bukan pembeli. Mereka telah memiliki pembeli setia," kata Teddy.

"Mereka membutuhkan inventori. Karena itu, kami menawarkan suplai dengan harga yang lebih murah, karena kami tidak menjual melalui distributor. Barang juga sampai jauh lebih cepat," ujarnya.

Dia mengatakan, warung di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, bisa mendapatkan barang yang dipesan dalam waktu sekitar 2-6 jam. Sementara para penjual di luar Jawa akan mendapatkan barang yang mereka minta dalam waktu kurang dari dua hari.

Selain itu, opsi barang yang bisa pemilik warung beli juga lebih banyak. Karena, Bukalapak memiliki jaringan dengan sang produsen.

"Kami memiliki 350 ribu warung di seluruh Indonesia dan 700 ribu agen individua," kata Teddy.

Alasan Bukalapak mengintegrasikan sistem online dan penjual offline adalah karena meski penjualan online mulai ramai, transaksi jual-beli offline tetap lebih besar.

"Sebagai pelaku, kita tidak boleh menunggu hingga penetrasi digital baru jalan. Kita harus menjadi bagian dari penetrasi digital," katanya.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.