Laporan ini menyoroti antusiasme yang besar terhadap agen AI di kalangan pemimpin IT, namun juga menyoroti kekhawatiran terkait privasi data, integrasi sistem, dan kualitas data yang menjadi hambatan utama. Aplikasi untuk penerapan agen AI yang paling banyak diminati meliputi bot pengoptimalan kinerja (66%), agen pemantau keamanan (63%), dan asisten pengembangan (62%).
Di Indonesia, adopsi agen AI juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, didorong oleh perkembangan AI generatif. Sebanyak 79% responden telah mengadopsi agen AI dalam dua tahun terakhir, dan 95% merencanakan pengadopsian lebih lanjut dalam 12 bulan mendatang. AI diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar USD366 miliar terhadap ekonomi Indonesia hingga tahun 2030, menjadikannya kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun antusiasme tinggi, survei Cloudera juga mengungkap tantangan yang dihadapi dalam adopsi agen AI di Indonesia, termasuk kebingungan (100%), masalah privasi (56%), biaya (44%), tata kelola (41%), serta bias dan keadilan AI (32%). Untuk mengatasi tantangan ini, banyak organisasi di Indonesia menerapkan perlindungan seperti audit keadilan dan pengawasan manusia untuk memastikan penerapan AI yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Abhas Ricky, Chief Strategy Officer Cloudera, menyatakan bahwa agen AI kini bergerak lebih dari sekadar eksperimen dan menghadirkan otomatisasi, efisiensi, serta hasil bisnis yang nyata. Pada tahun 2025, agen AI akan menjadi pusat perhatian, membangun momentum dari AI generatif dengan dampak operasional yang lebih besar.
Cloudera berkomitmen untuk mendukung transformasi ini melalui ekosistem Enterprise AI yang kuat, membantu organisasi global mendesain alur kerja AI yang aman, scalable, dan terintegrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News