Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi di Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam World AI Show Indonesia (7/7) (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi di Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam World AI Show Indonesia (7/7) (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kreatif di Indonesia

Muhammad Syahrul Ramadhan • 07 Juli 2026 15:02
Ringkasnya gini..
  • Kekuatan Indonesia dalam menjadikan AI sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi kreatif adalah pada kreativitas.
  • AI mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai dari seluruh jaringan nilai kreatif.
  • AI tidak menggantikan manusia, tetapi teknologi ini meningkatkan kemampuan manusia.
Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini dipandang bukan hanya sebagai tren teknologi, melainkan juga mesin pertumbuhan ekonomi kreatif yang akan mendorong daya saing.
 
Hal ini disampaikan Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi di Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam World AI Show Indonesia. Dalam sesi bertajuk “AI-Powered Creative Economy: Unlocking Indonesia's Next Growth Engine” kekuatan Indonesia dalam menjadikan AI sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi kreatif adalah pada kreativitas.
 
“AI sedang menjadi bagian dari ekonomi hari ini. Tetapi teknologi saja tidak menciptakan nilai, orang yang menciptakannya. Itulah sebabnya Indonesia melihat AI lebih dari transformasi digital. Ini adalah kesempatan untuk mengubah ekonomi kreatif kita,” kata Neil di Jakarta, Selasa 7 Juli 2026.

Berdasarkan dara BPS, Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif mencapai Rp1.757,87 triliun dengan pertumbuhan 6,86%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%. Kondisi ini menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
 
“Ambisi selanjutnya jelas, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi kreatif lebih dari 8% pada tahun 2029,” tegasnya.
 
Neil menyebut untuk mewujudkan target tersebut ada tiga kunci penting, yaitu meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing. “Mencapai target ini membutuhkan tingkat produktivitas dan inovasi baru. Di sini AI menjadi sangat strategis,” ucapnya.
 
Neil menyebut AI mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai dari seluruh jaringan nilai kreatif. Dari penciptaan IP (Intellectual Property) ke produksi, distribusi, pengonsumsi, dan penyelamatan, dan pengembangan inovasi dari IP tersebut.
 
“Di setiap tahap, AI membuat proses kreatif lebih pintar, lebih cepat, lebih baik, dan tentu saja lebih efisien. AI bukan lagi hanya alat otomatis, tapi juga menjadi pengguna strategis ekonomi kreatif. Namun, saya percaya bahwa AI tidak akan menggantikan kreativitas manusia,” tegasnya.
 
“Penelitian menemukan bahwa AI mengurangkan waktu produksi sekitar 45% melalui desain, penulisan, dan produksi, membantu menghasilkan lebih banyak ide. Salah satu penelitian juga menemukan bahwa AI kreatif menyelesaikan tugas penulisan 40% lebih cepat, meningkatkan kualitas 15%”.
 
Penelitian tersebut kata Neil menunjukkan bahwa AI tidak menggantikan manusia, tetapi teknologi ini meningkatkan kemampuan manusia. 
 
“AI mengautomasikan pekerjaan kreatif, dan tentu saja, manusia memberikan imajinasi. Manusia memberikan imajinasi, dan AI mengecepat pengeluaran. Manusia menciptakan minimum,” terangnya.
 
Dalam mewujudkan hal ini tentu ada tantangan, lanjut Neil. Mulai dari memastikan transparansi serta mempersiapkan orang dari pekerjaan baru dan kemampuan baru.
 
“ Ini adalah tantangan yang unik bagi Indonesia. Setiap negara menghadapi tantangan ini,” ucapnya.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA