Menurut penelitian komprehensif yang dilakukan oleh Kaspersky, mayoritas perusahaan di Indonesia, tepatnya 91%, memilih untuk mengalihdayakan (outsourcing) atau mengadopsi model hibrida dalam membangun dan mengoperasikan Pusat Operasi Keamanan (Security Operation Centre/SOC) mereka.
Langkah strategis ini, yang juga mendominasi kawasan Asia Pasifik (APAC), memungkinkan organisasi untuk mendapatkan perlindungan sepanjang waktu, memastikan kepatuhan terhadap standar peraturan, dan memanfaatkan keahlian serta solusi keamanan siber canggih yang seringkali berada di luar kemampuan internal mereka.
Di Indonesia, preferensi ini terbagi antara model outsourcing penuh dan hibrida. Sekitar 63% organisasi lebih setuju untuk menggunakan model hibrida, di mana beberapa tugas akan dialihdayakan dan beberapa tugas dikerjakan secara internal.
Sementara itu, 28% organisasi menyatakan kesiapan untuk sepenuhnya mengimplementasikan model SOC-as-a-Service (SOCaaS). Angka ini menunjukkan tantangan besar dalam mempertahankan pemantauan sepanjang waktu dan menarik spesialis berkualitas, mengingat hanya 9% perusahaan secara global yang berencana membangun SOC mereka sepenuhnya secara internal.
Motivasi utama yang mendorong keputusan outsourcing SOC di Indonesia adalah kebutuhan mendesak akan perlindungan 24/7, yang disetujui oleh 49% responden di Indonesia. Secara global, ini merupakan motivasi utama (55%).
Manfaat penting lain yang menjadi pertimbangan adalah mengurangi beban kerja spesialis keamanan TI internal (47% global), memungkinkan tim internal untuk fokus pada tugas-tugas strategis.
Akses ke solusi dan teknologi canggih (42% global) dan dukungan eksternal untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan dan standar peraturan (41% global) juga menjadi faktor pendorong utama.
Nilai utama outsourcing, seperti yang disimpulkan oleh penelitian, terletak pada peningkatan perlindungan, bukan sekadar penghematan biaya, karena optimalisasi anggaran hanya penting bagi 37% perusahaan global.
Dalam hal tugas yang didelegasikan, sebagian besar perusahaan global lebih memilih untuk mempertahankan tugas-tugas strategis secara internal. Tugas operasional yang paling sering dialihdayakan kepada penyedia pihak ketiga meliputi instalasi dan penerapan solusi (55%), pengembangan dan penyediaan solusi (53%), dan desain SOC (47%).
Ketika melibatkan spesialis SOC eksternal, organisasi memiliki permintaan tinggi untuk analis lini pertama (61% global) dan analis lini kedua (52% global), menunjukkan fokus pada tugas-tugas keamanan lini depan dan menengah.
Menanggapi tren ini, Kaspersky merekomendasikan layanan mereka, termasuk Kaspersky SOC Consulting untuk membantu dalam penyiapan atau peningkatan operasi keamanan. Selain itu, mereka menyarankan penggunaan Kaspersky SIEM yang didukung AI, solusi dari lini produk Kaspersky Next untuk perlindungan real-time, dan Kaspersky Threat Intelligence untuk visibilitas mendalam terhadap ancaman siber.
Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menekankan bahwa ketahanan bisnis kini bergantung pada bagaimana keahlian dan tanggung jawab disusun, bukan hanya pada lokasi sistem berada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News