Laporan tersebut menegaskan bahwa seiring matangnya sistem AI, pembeda utama bagi perusahaan justru terletak pada kapabilitas manusianya. Peran tenaga kerja bergeser dari sekadar penyelesai tugas teknis menjadi pengawas yang memurnikan, memperbaiki, dan mengelola cara kerja agen AI.
Salah satu konsep paling menarik yang diperkenalkan dalam laporan ini adalah munculnya Pabrik Agen (Agent Factories). Tanpa tata kelola yang efektif, perusahaan berisiko mengalami kekacauan agen (agent chaos). Terjadi pembuatan agen yang berlebihan, kualitas yang tidak konsisten, dan risiko yang tidak terkelola.
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan-perusahaan terkemuka kini mendirikan pusat khusus atau pabrik untuk mengindustrialisasi cara agen dibangun, disebarkan, dan dikelola. Pusat-pusat ini menstandarisasi cetak biru (blueprints) yang dapat digunakan kembali, memastikan keamanan data, dan menetapkan batasan kepatuhan.
Di dalam struktur baru ini, agen diberikan tanggung jawab berbasis peran yang jelas: ada agen pemimpin yang mengorkestrasi pekerjaan, agen praktisi yang mengeksekusi tugas, serta agen QA dan kepatuhan yang memantau kinerja. Beberapa bank global telah menerapkan model pabrik ini untuk menangani proses uji tuntas (due-diligence), di mana regu agen menangani ekstraksi dan validasi data, sementara manusia fokus pada kontrol kualitas.
Perubahan struktur ini menuntut set keterampilan baru dari tenaga kerja modern. Kemampuan untuk berkolaborasi dengan AI kini menjadi kapabilitas bisnis yang menentukan. Banyak organisasi bahkan menargetkan 25 hingga 50 persen karyawan mereka untuk bekerja secara rutin dengan Agentic AI.
Keterampilan seperti desain prompt, pelacakan hasil, dan manajemen eskalasi dengan cepat menjadi inti dari peran pertumbuhan modern. Manajer dan spesialis harus belajar mendelegasikan tugas kepada agen, meninjau hasil kerja mereka, serta mengidentifikasi pengecualian yang perlu ditangani manusia.
Dalam model operasi hibrida ini, pembagian kerjanya jelas: agen menangani orkestrasi dan eksekusi, sementara manusia menyediakan strategi, kreativitas, dan pengawasan. Sebuah studi kasus pada produsen produk gaya hidup Amerika Utara menunjukkan keberhasilan model ini. Setelah mendesain ulang fungsi layanan pelanggan, agen AI ditugaskan menangani diagnosis dan pengambilan data, membebaskan staf manusia untuk fokus pada empati dan resolusi masalah yang kompleks.
Pada akhirnya, laporan McKinsey menyimpulkan bahwa pertumbuhan tidak akan datang dari alat AI semata, melainkan dari bagaimana para pemimpin memilih untuk membangun dan mengelolanya. Manusia tetap memegang kendali, bukan sebagai pelaksana tugas rutin, melainkan sebagai arsitek yang mengarahkan armada agen digital menuju tujuan bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News