Inisiatif ini diumumkan dalam pertemuan tahunan American Meteorological Society dan menjadi tonggak penting dalam pemanfaatan AI untuk memprediksi kondisi atmosfer secara lebih cepat, murah, dan akurat.
Earth-2 hadir dengan serangkaian model yang mencakup berbagai kebutuhan ramalan cuaca. Earth-2 Medium Range (Atlas) mampu memprediksi hingga 15 hari ke depan dengan lebih dari 70 variabel cuaca, dan terbukti melampaui performa model terbuka lain dalam uji standar industri.
Sementara itu, Earth-2 Nowcasting (StormScope) fokus pada prakiraan jangka pendek (0–6 jam) dengan resolusi kilometer, menjadi model AI pertama yang mengungguli metode fisika tradisional dalam memprediksi curah hujan.
Tak kalah penting, Earth-2 Global Data Assimilation (HealDA) memungkinkan pembuatan kondisi awal atmosfer hanya dalam hitungan detik menggunakan GPU.
Dengan adanya HealDA, ramalan cuaca dapat dijalankan sepenuhnya melalui pipeline berbasis AI tanpa bergantung pada superkomputer tradisional. NVIDIA juga melengkapi ekosistem ini dengan model lain seperti CorrDiff untuk meningkatkan resolusi prakiraan, serta FourCastNet3 untuk ramalan ensemble yang lebih akurat.
Keunggulan utama Earth-2 adalah kecepatan dan efisiensi biaya. Model ini mampu menghasilkan prakiraan resolusi tinggi hingga 500 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional, sekaligus mengurangi kebutuhan komputasi yang biasanya sangat mahal.
Semua model dan perangkat pendukung tersedia secara terbuka melalui Earth2Studio, Hugging Face, dan GitHub, sehingga dapat diakses oleh peneliti, lembaga cuaca, maupun perusahaan swasta.
Sejumlah institusi telah mengadopsi Earth-2, termasuk Israel Meteorological Service, Central Weather Administration Taiwan, dan National Weather Service Amerika Serikat. Di sektor energi, perusahaan seperti TotalEnergies, Eni, dan Southwest Power Pool memanfaatkan teknologi ini untuk mengoptimalkan perencanaan energi.
Sementara itu, perusahaan asuransi dan manajemen risiko seperti AXA dan JBA Risk Management menggunakan Earth-2 untuk memperkirakan dampak bencana alam.
Teknologi ini diharapkan mampu mendukung kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim, sekaligus membuka peluang baru bagi inovasi di bidang energi, keuangan, dan mitigasi risiko bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News